warkini.
Travel

Laporan IEP: Tingkat Perdamaian Global Merosot Selama 12 Tahun Beruntun

Kondisi keamanan dunia tampaknya sedang tidak baik-baik saja. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan dinamika geopolitik yang kian terfragmentasi, dunia

Laporan IEP: Tingkat Perdamaian Global Merosot Selama 12 Tahun Beruntun

Kondisi keamanan dunia tampaknya sedang tidak baik-baik saja. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan dinamika geopolitik yang kian terfragmentasi, dunia justru mencatatkan rekor peningkatan konflik bersenjata dengan beban ekonomi yang luar biasa berat. Fakta memprihatinkan ini terungkap dalam laporan terbaru Indeks Perdamaian Global (Global Peace Index) yang dirilis oleh Institute for Economics and Peace (IEP).

Lembaga riset independen yang berbasis di Sydney, Australia tersebut menyoroti bahwa bumi sedang berada dalam fase yang sangat rapuh. Menurut pemantauan mereka, penurunan tingkat perdamaian ini bukan lagi anomali sesaat, melainkan tren buruk yang terus berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Tren Mengkhawatirkan: 12 Tahun Tanpa Kemajuan

Tahun ini menandai tahun ke-12 secara berturut-turut di mana lanskap perdamaian dunia tercatat mengalami kemunduran. Secara rata-rata, tingkat kedamaian global merosot sebesar 0,7 persen dalam setahun terakhir. Dari 163 negara dan wilayah yang dievaluasi, sebanyak 99 negara mengalami penurunan skor perdamaian, sementara hanya 62 negara yang mencatatkan perbaikan.

Jika ditarik garis waktu lebih jauh sejak tahun 2008, ada 103 negara yang kualitas keamanannya makin terpuruk akibat pecahnya berbagai konflik baru maupun konflik lama yang belum terselesaikan. Faktor pemicunya tak sekadar gesekan militer, melainkan jalinan masalah yang kompleks:

  • Peningkatan belanja senjata dan perlombaan militerisasi regional.
  • Kemiskinan struktural serta ketimpangan ekonomi yang kian melebar.
  • Dampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang memicu perebutan sumber daya.
  • Tersendatnya jalur diplomasi serta hilangnya ruang dialog antarnegara.
"Eskalasi konflik bersenjata tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga membebani stabilitas ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih."

Lonjakan Korban Jiwa dan Anggaran Militer yang Meledak

Dampak paling memilukan dari merosotnya perdamaian tentu saja jatuhnya korban jiwa. Laporan IEP mencatat lebih dari 181.000 orang tewas akibat konflik global sepanjang tahun 2025. Angka ini mencerminkan lonjakan tragis hingga enam kali lipat dibandingkan dengan statistik korban pada tahun 2008 silam.

Di sisi lain, anggaran pertahanan justru membengkak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Benua Eropa, misalnya, mencatatkan rekor belanja militer fantastis yang menembus angka sekitar 2,9 triliun dolar AS. Ironisnya, alokasi dana raksasa untuk persenjataan ini berbanding terbalik dengan anggaran pembangunan perdamaian. Padahal, biaya untuk menggelar diplomasi preventif—seperti mencegah pecahnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan Teluk—sejatinya jauh lebih murah ketimbang menanggung dampak kehancuran perang terbuka.

Menakar Metodologi dan Tantangan Data

Untuk menyusun indeks komprehensif ini, IEP menganalisis 23 indikator kualitatif dan kuantitatif. Indikator tersebut mencakup tingkat kriminalitas, ancaman terorisme, stabilitas politik, hubungan diplomatik dengan negara tetangga, hingga keterlibatan dalam demonstrasi kekerasan.

Kendati diakui sebagai rujukan dunia, indeks ini tak luput dari kritik akademik. Sejumlah analis menyoroti adanya tantangan subjektivitas serta keterbatasan data lokal yang sahih, khususnya di negara-negara yang berada di bawah rezim otoriter di mana transparansi informasi masih sangat minim.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rangga-pradana

Content Creator. Mengelola konten viral, podcast, dan video pendek.

Comments (0)

User