Matahari terik mulai menyengat kawasan Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, menandakan datangnya musim kemarau yang kerap membawa ancaman tahunan: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, ada pemandangan menarik yang berbeda dalam upaya pencegahan bencana asap tahun ini. Langkah tak biasa dan menyegarkan diambil oleh Tim Penyuluhan Karhutla dari Perwira Tinggi (Pati) Mabes TNI yang memutuskan untuk turun langsung merangkul para 'pahlawan jalanan' dari komunitas ojek online lokal, IndoJek Tabalong.
Kolaborasi inklusif ini membuktikan bahwa penanganan bencana tak lagi hanya menjadi tugas aparat keamanan atau pemerintah daerah semata. Dengan melibatkan ratusan pengemudi IndoJek yang setiap hari beroperasi hingga ke sudut-sudut desa dan perbatasan perkebunan, Mabes TNI membangun jaringan "mata dan telinga" yang sangat efektif di lapangan untuk mendeteksi potensi titik api secara real-time.
Sinergi Unik: Jaket Ojol dan Seragam Loreng
Para pengemudi ojek online selama ini dikenal memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Mereka melintasi jalanan perkotaan hingga pelosok pemukiman yang sulit dijangkau oleh patroli skala besar. Potensi inilah yang dilirik oleh Mabes TNI untuk dioptimalkan sebagai garda terdepan pencegahan karhutla.
"Kami menyadari betul bahwa rekan-rekan pengemudi IndoJek ini memiliki jangkauan jelajah yang luar biasa setiap harinya. Jika mereka dibekali pengetahuan dasar pencegahan dan edukasi karhutla, mereka bisa menjadi agen perubahan sekaligus sistem peringatan dini yang sangat efektif," ungkap perwakilan Tim Penyuluhan Mabes TNI saat memberikan pembekalan.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, para pengemudi IndoJek tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai bahaya membakar lahan secara sembarangan, tetapi juga dilatih untuk melakukan tindakan respons cepat. Mereka diajarkan cara melaporkan temuan titik asap atau aktivitas pembakaran lahan yang mencurigakan melalui saluran komunikasi terpadu yang terhubung langsung dengan Satgas Karhutla daerah.
Strategi Deteksi Dini Berbasis Komunitas
Pendekatan berbasis masyarakat ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan metode patroli konvensional. Berikut adalah beberapa poin utama dalam kerja sama antara Mabes TNI dan Komunitas IndoJek Tabalong:
- Edukasi Berantai: Pengemudi IndoJek membagikan brosur sosialisasi bahaya karhutla kepada para penumpang dan pelanggan layanan pengantaran barang.
- Laporan Cepat (Early Warning System): Memanfaatkan grup komunikasi internal untuk melaporkan koordinat kemunculan asap sekecil apa pun di jalur yang mereka lintasi.
- Penyusupan Pesan Edukatif: Menyampaikan imbauan secara persuasif dan conversational kepada warga desa saat melakukan pengantaran di kawasan rawan karhutla.
Berikut adalah perbandingan efektivitas pendekatan patroli tradisional dengan pendekatan partisipatif berbasis komunitas ojek online:
| Parameter | Patroli Konvensional | Kemitraan IndoJek & TNI |
|---|---|---|
| Jangkauan Area | Jalur protokol dan titik pantau utama | Hingga ke jalan tikus dan pelosok desa |
| Waktu Respon Laporan | Terjadwal sesuai jam patroli | Seketika (real-time) saat pengemudi melintas |
| Pendekatan ke Warga | Formal dan instruktif | Persuasif dan ramah (conversational) |
Komitmen Bersama Demi Udara Bersih Tabalong
Langkah progresif ini mendapat sambutan hangat dari para pengemudi IndoJek. Mereka merasa bangga karena profesi harian mereka kini memiliki nilai tambah yang berkontribusi langsung pada perlindungan lingkungan dan keselamatan warga Tabalong dari ancaman bahaya kabut asap.
Upaya preventif memang harus selalu diutamakan. Memadamkan kebakaran hutan yang sudah membesar sangat sulit dan memakan biaya luar biasa, namun mencegahnya bersama-sama adalah langkah bijak yang jauh lebih murah dan aman, tegas tim Mabes TNI di akhir acara penyuluhan.
Melalui kolaborasi strategis ini, diharapkan Kabupaten Tabalong dapat terbebas dari ancaman karhutla sepanjang musim kemarau tahun ini. Sinergi antara Mabes TNI dan komunitas IndoJek ini sekaligus menjadi model percontohan nasional bahwa pencegahan bencana dapat dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan kearifan dan komunitas lokal.
Comments (0)