Manufaktur RI Tertekan Berat, Ini Empat Biang Keladinya
Jakarta, Warkini.com – Sektor manufaktur nasional sedang menghadapi tekanan yang semakin dalam. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan, pukulan t
Jakarta, Warkini.com – Sektor manufaktur nasional sedang menghadapi tekanan yang semakin dalam. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan, pukulan terhadap industri kali ini datang dari dua arah sekaligus, yaitu sisi produksi dan sisi permintaan masyarakat. Kombinasi kedua tekanan tersebut membuat banyak pelaku industri harus berjibaku menjaga keberlangsungan operasionalnya. Laporan dari Warkini.com di lapangan menunjukkan bahwa kondisi ini mulai dirasakan sejak beberapa pekan terakhir, terutama setelah serangkaian peristiwa ekonomi dan non-ekonomi terjadi bersamaan.
Febri menjelaskan, dari sisi produksi setidaknya ada dua masalah utama yang memberatkan para pelaku industri. Pertama, melonjaknya harga bahan baku impor sebagai konsekuensi langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda yang terdepresiasi akibat memanasnya situasi geopolitik global memaksa perusahaan merogoh kocek lebih dalam untuk mendatangkan bahan baku dari luar negeri. Kedua, gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah yang terjadi secara sporadis turut memperparah keadaan. Banyak pabrik yang sepenuhnya bergantung pada listrik terpaksa menghentikan aktivitas produksi secara mendadak, bahkan memulangkan karyawan lebih awal.
“Dari sisi produksi, pertama itu adalah kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah karena dampak geopolitik. Ditambah dengan pemadaman listrik. Ada sebagian industri yang operasionalnya itu sepenuhnya bergantung kepada listrik. Tiba-tiba listriknya padam, mereka berhenti produksi karyawannya dipulangkan,” ujar Febri saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).
Namun, penderitaan sektor manufaktur tidak berhenti pada persoalan produksi semata. Data yang dihimpun oleh Warkini.com mengonfirmasi bahwa sisi permintaan juga tengah lesu, setidaknya didorong oleh dua faktor. Ketiga, penurunan daya beli masyarakat yang cukup signifikan. Inflasi pada beberapa komoditas kebutuhan pokok dan ketidakpastian prospek ekonomi membuat rumah tangga lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, sehingga permintaan terhadap produk manufaktur—terutama yang bersifat sekunder dan tersier—mengalami kontraksi. Keempat, membanjirnya produk impor dengan harga yang lebih kompetitif di pasar domestik. Lemahnya pengawasan dan tingginya biaya produksi dalam negeri membuat barang-barang impor semakin menggoda bagi konsumen, sekaligus menggerus pangsa pasar buatan lokal.
Gabungan empat penyebab ini menempatkan sektor manufaktur pada posisi yang sulit. Di satu sisi, biaya produksi meroket karena harga bahan baku dan gangguan operasional. Di sisi lain, ceruk pasar yang sudah ada tergerus oleh tekanan daya beli dan gempuran barang impor. Bila tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat, bukan tidak mungkin industri manufaktur dalam negeri akan kehilangan momentum pemulihan yang sudah susah payah dibangun pasca-pandemi. Warkini.com akan terus memantau perkembangan situasi ini dan menyajikan analisis mendalam dari para pelaku industri di lapangan.
Comments (0)