Mashhad — Muzani, Sugiono, Gus Yahya Takziah Makam Ayatollah Khamenei
Rerumputan hijau yang terawat rapi membentang di bawah langit Mashhad yang cerah, Jumat (11/7). Udara musim panas Iran terasa hangat, namun suasana di komp
Rerumputan hijau yang terawat rapi membentang di bawah langit Mashhad yang cerah, Jumat (11/7). Udara musim panas Iran terasa hangat, namun suasana di kompleks pemakaman suci itu begitu khusyuk. Di tengah hiruk-pikuk peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri, tiga sosok berpeci hitam dan berbusana rapi berjalan pelan menuju bangunan makam berarsitektur khas Persia. Mereka adalah Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Ketua MPR Ahmad Muzani, dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)—delegasi Indonesia yang hadir untuk bertakziah ke makam Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di dalam bangunan makam yang dihiasi kaligrafi kuno dan lampu gantung kristal, ketiganya berdiri dengan kepala tertunduk. Lantunan doa dalam bahasa Arab dan Persia bergema pelan dari pengeras suara. Setelah berdoa, Gus Yahya mengusap wajahnya dengan kedua tangan, sementara Muzani dan Sugiono menyusul dengan gerakan serupa. Momen itu menjadi simbol ungkapan belasungkawa tak hanya dari pemerintah Indonesia, tapi juga dari rakyat—khususnya komunitas Muslim lintas organisasi.
Ziarah yang Sarat Makna Diplomatik dan Spiritual
Kunjungan ini bukan sekadar upaya protokoler pascawafatnya seorang tokoh besar. Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada akhir Juni 2026, adalah figur sentral dalam politik dan keagamaan Iran selama puluhan tahun. Kehadiran pejabat tinggi Indonesia—lintas lembaga negara dan representasi ormas Islam terbesar—membawa bobot diplomatik tersendiri di mata Teheran.
Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan bahwa ziarah ini merupakan bagian dari misi khusus Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan duka cita mendalam atas nama bangsa Indonesia. “Kami datang sebagai saudara, bukan sekadar kolega diplomatik. Ayatollah Khamenei adalah pemimpin yang menginspirasi banyak pihak, termasuk di Indonesia,” ujarnya usai ziarah.
“Kami datang sebagai saudara, bukan sekadar kolega diplomatik. Ayatollah Khamenei adalah pemimpin yang menginspirasi banyak pihak, termasuk di Indonesia.” — Menlu Sugiono
Sementara itu, Ketua MPR Ahmad Muzani menekankan sisi historis hubungan kedua negara. Menurutnya, Indonesia dan Iran memiliki ikatan panjang—dari dukungan Iran atas kemerdekaan Indonesia hingga kerja sama di berbagai forum internasional. “Kehadiran kami adalah pengakuan atas kontribusi beliau dalam menjaga persatuan dunia Islam,” kata Muzani.
Gus Yahya dan Jembatan Persaudaraan Antarmazhab
Yang membuat ziarah ini unik adalah kehadiran Gus Yahya sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama, organisasi Islam Sunni terbesar di dunia. Di tengah dinamika hubungan Sunni-Syiah di kawasan, langkah ini dianggap sebagai isyarat kuat bahwa dialog dan saling menghormati bisa terus terjalin. Gus Yahya tak hanya berdoa, ia juga menyempatkan berdialog dengan ulama setempat tentang pentingnya merawat ukhuwah Islamiyah.
“Kita berduka sebagai manusia, sebagai muslim, terlepas dari perbedaan mazhab. Ayatollah Khamenei telah berjuang untuk martabat umat Islam di pentas global,” ungkap Gus Yahya dengan suara bergetar, menahan haru. Pernyataannya ini mendapat sambutan hangat dari para peziarah lain yang mendekatinya usai prosesi.
“Kita berduka sebagai manusia, sebagai muslim, terlepas dari perbedaan mazhab. Ayatollah Khamenei telah berjuang untuk martabat umat Islam di pentas global.” — Gus Yahya
Para pengamat menilai gestur ini bisa menjadi fondasi baru dalam diplomasi agama Indonesia. Di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, Indonesia menempatkan diri sebagai perekat, bukan pemecah belah.
Khidmat di Kota Para Syuhada
Mashhad, kota suci kedua bagi Muslim Syiah setelah Qom dan Najaf, memang dikenal sebagai pusat ziarah spiritual. Makam Imam Reza yang megah menjadi daya tarik utama, dan kini makam Ayatollah Khamenei menambah lapisan historis baru di kota ini. Delegasi Indonesia menyempatkan diri untuk melihat kompleks pemakaman yang sedang dalam tahap pengembangan akhir. Rencananya, kompleks ini akan menjadi pusat studi Islam internasional.
Duta Besar RI untuk Iran yang mendampingi rombongan menjelaskan bahwa setiap detail kunjungan telah dibahas erat dengan pihak Iran. Semua berlangsung hangat, tanpa protokol yang kaku. Bahkan, masyarakat sekitar yang mengenali rombongan langsung menyapa dengan ungkapan “salam, saudaraku dari Indonesia.”
Di akhir kunjungan, delegasi menyerahkan plakat kenangan dan kain songket khas Indonesia ke pengelola makam. Simbol penghormatan yang sederhana namun bermakna dalam: Indonesia hadir bukan hanya dalam dukacita, tapi juga dalam harapan melanjutkan perjuangan nilai-nilai yang diwariskan.
[SOCIAL_TWEET]: "Takziah ke makam Ayatollah Khamenei di Mashhad, Menlu Sugiono, Ketua MPR Muzani, dan Gus Yahya tunjukkan wajah Indonesia yang hadir sebagai saudara. Duka diplomatik, doa lintas mazhab. #IndonesiaIran #DiplomasiAgama" [SOCIAL_TG]: "Ziarah Lintas Ormas: Gus Yahya, Muzani, dan Sugiono Takziah ke Makam Ayatollah Khamenei di Mashhad. Indonesia tak hanya berduka, tapi membawa pesan ukhuwah. Selengkapnya di Warkini.com."
Comments (0)