Mengenal Babah Fina dan Ummi Labib, Pasangan Peracik Bumbu Warisan

Langit masih gelap ketika Babah Fina dan Ummi Labib sudah sibuk di dapur mereka yang mungil. Kedua tangan mereka cekatan menumbuk, mengulek, dan mencampur aneka rempah. Ini bukan sekadar aktivitas rut...

Jul 12, 2026 - 03:46
0 0
Mengenal Babah Fina dan Ummi Labib, Pasangan Peracik Bumbu Warisan

Langit masih gelap ketika Babah Fina dan Ummi Labib sudah sibuk di dapur mereka yang mungil. Kedua tangan mereka cekatan menumbuk, mengulek, dan mencampur aneka rempah. Ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan panggilan jiwa untuk menjaga warisan kuliner keluarga.

Resep bumbu yang mereka racik setiap hari bukan sembarang resep. Racikan tersebut merupakan peninggalan sang nenek yang konon sudah ada sejak tahun 1960-an. Nenek dari pihak Ummi Labib itu dikenal sebagai juru masak andal di kampungnya. Banyak orang datang hanya untuk mencicipi masakan dengan bumbu khas dari tangannya. Rahasianya? Perpaduan rempah-rempah pilihan yang diolah dengan teknik tradisional tanpa sedikit pun bahan pengawet.

Rahasia di Balik Racikan Nenek

Ummi Labib bercerita, sewaktu kecil ia sering memperhatikan neneknya meracik bumbu di dapur kayu yang berasap. "Nenek selalu bilang, memasak itu bukan soal cepat, tapi soal rasa yang ditunggu," kenangnya. Bumbu warisan itu memiliki komposisi yang tidak biasa: ada sentuhan kemiri bakar, jintan hitam, dan sedikit gula merah untuk menyeimbangkan pedasnya cabai. Tak heran, aroma bumbu ini langsung membangkitkan selera siapa pun yang menciumnya.

Setelah nenek berpulang, resep tersebut nyaris hilang. Beruntung, Ummi Labib memiliki catatan tangan sang nenek yang berisi takaran dan urutan pengolahan. Bersama suaminya, Babah Fina, ia memutuskan untuk menghidupkan kembali warisan itu. Babah Fina sendiri sebelumnya bekerja sebagai pegawai swasta, sementara Ummi Labib adalah ibu rumah tangga. Namun kecintaan pada kuliner mengalahkan segalanya.

Dari Dapur Kecil ke Pesanan Pelanggan Setia

Awalnya, mereka hanya memasak untuk keluarga dan tetangga terdekat. Lama-kelamaan, kabar tentang bumbu racikan istimewa ini menyebar dari mulut ke mulut. Seorang tetangga yang kebetulan pengusaha katering tertarik untuk memakai bumbu tersebut dalam menu andalannya. Hasilnya? Pesanan langsung melonjak setelah pelanggan katering itu memuji cita rasa yang berbeda.

Kini, setiap hari Babah Fina dan Ummi Labib bisa menghabiskan puluhan kilogram bahan baku. Mereka tetap mempertahankan proses tradisional: mengulek bumbu dengan cobek batu, bukan blender listrik, karena menurut mereka tekstur dan rasa yang dihasilkan jauh lebih autentik. "Prinsip kami cuma satu: jangan sampai nenek kecewa dari surga," kata Babah Fina sambil tersenyum.

Tidak sedikit tantangan yang mereka hadapi. Harga bahan baku yang fluktuatif, persaingan dengan bumbu instan pabrikan, hingga keterbatasan tenaga karena hanya mereka berdua yang mengerjakan semuanya. Namun, melihat pelanggan yang kembali memesan, semua lelah terbayar. Beberapa ibu muda juga mulai tertarik belajar meracik bumbu dari mereka, berharap tradisi ini tidak punah.

Bagi pasangan ini, bumbu bukan hanya penyedap masakan, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan. Setiap butir rempah yang mereka tumbuk seolah menceritakan kembali perjalanan hidup nenek yang penuh perjuangan. Warisan kuliner seperti inilah yang membuat kekayaan rasa Indonesia terus hidup.

Ke depan, Babah Fina dan Ummi Labib bermimpi bisa memiliki rumah produksi kecil dan memberdayakan ibu-ibu di lingkungan sekitar. Mereka ingin generasi muda tidak melupakan cita rasa asli Nusantara yang sarat makna.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User