Mengenal Korea Selatan Lebih Dekat, dari Diplomasi hingga 'BMW'
Musim panas belum sepenuhnya tiba saat kami menginjakkan kaki di Korea Selatan. Udara sejuk sisa peralihan dari musim semi masih terasa di Bandara Incheon, menjadi penyambut hangat perjalanan selama
Musim panas belum sepenuhnya tiba saat kami menginjakkan kaki di Korea Selatan. Udara sejuk sisa peralihan dari musim semi masih terasa di Bandara Incheon, menjadi penyambut hangat perjalanan selama sepekan menyusuri Negeri Ginseng. Media kami, bersama sejumlah jurnalis dari berbagai media, berkesempatan mengunjungi Korea Selatan dalam program The Indonesian Next Generation Journalist Network yang digelar Korea Foundation bekerja sama dengan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) pada pertengahan Juni lalu. Program ini menjadi ajang untuk lebih mendalam mengenal Korea Selatan, sekaligus merayakan eratnya jalinan persahabatan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Begitu tiba di Seoul, rombongan langsung menuju Samcheonggak untuk mengikuti sambutan jamuan makan siang. Suasana akrab dan hangat langsung terasa saat Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation, Yonguk Kim, menyambut seluruh peserta. Di kawasan restoran yang sarat akan budaya dan seni, perbincangan santai mengalir, menggambarkan betapa dekatnya hubungan kedua negara.
Diplomasi yang Mengakar dan 'BMW' ala Korea
Lebih dari sekadar pertukaran budaya, program ini menyoroti berbagai aspek diplomasi publik yang telah mengakar kuat. Korea Selatan tidak hanya dikenal melalui K-Pop dan dramanya, tetapi juga melalui nilai-nilai persahabatan yang terus dipupuk. Dalam sesi ramah tamah, Yonguk Kim menekankan pentingnya jaringan jurnalis muda sebagai jembatan pemahaman antarnegara.
"Kami percaya pertukaran jurnalis generasi berikutnya akan memperkuat ikatan yang sudah terjalin erat antara Indonesia dan Korea. Ini bukan hanya tentang berita, tapi tentang membangun kepercayaan dan saling pengertian," ujar Yonguk Kim di hadapan para peserta.
Menariknya, dalam perjalanan ini, istilah 'BMW' muncul sebagai candaan khas yang mewarnai obrolan. Bukan singkatan dari merek mobil mewah, melainkan akronim lokal yang merujuk pada 'Busan, Masan, Ulsan' — tiga kota industri yang menjadi tulang punggung ekonomi Korea Selatan. Senda gurau ini menjadi salah satu cara ringan para peserta untuk memahami dinamika regional Negeri Ginseng.
Program ini dirancang untuk memberikan perspektif langsung tentang kemajuan Korea Selatan di bidang teknologi, pendidikan, dan diplomasi. Dari hiruk-pikuk Seoul hingga rencana kunjungan ke kota-kota lainnya, para jurnalis diharapkan mampu menangkap cerita yang mendalam, bukan sekadar permukaan. Inilah wujud nyata bagaimana pertukaran budaya dan jurnalistik dapat memperkuat hubungan bilateral yang telah berlangsung puluhan tahun.
Dengan segala dinamikanya, perjalanan ini menjadi bukti bahwa diplomasi tak selalu berlangsung di meja perundingan formal, melainkan juga dalam tawa dan perbincangan santai di sebuah restoran bernuansa seni di jantung Seoul.
Comments (0)