OPEC+ Sepakat Genjot Produksi Minyak Mulai Agustus
Warkini.com, Jakarta — Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) menyetujui peningkatan target produksi minyak mentah mulai Agustus 2026. Kesepakatan yang diambil dalam per
Warkini.com, Jakarta — Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) menyetujui peningkatan target produksi minyak mentah mulai Agustus 2026. Kesepakatan yang diambil dalam pertemuan virtual ini membuka jalan bagi tambahan pasokan global di tengah tren penurunan harga dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, anggota OPEC+ sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai bulan depan. Keputusan ini merupakan bagian dari serangkaian penyesuaian yang telah dilakukan sepanjang paruh pertama 2026, di mana kelompok yang mencakup Rusia tersebut telah meningkatkan alokasi hingga nyaris 800.000 bph sejak April hingga Juli.
Pasokan Nyata Mulai Mengalir
Meskipun kuota resmi telah dinaikkan berulang kali, sebagian besar peningkatan selama beberapa bulan terakhir hanya tercatat di atas kertas. Penyebab utamanya adalah penutupan Selat Hormuz akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur perairan strategis yang menjadi koridor bagi seperlima perdagangan minyak global tersebut sempat lumpuh, sehingga produsen Timur Tengah tidak dapat mengirimkan tambahan produksi ke pasar.
Kini, seiring dengan proses normalisasi bertahap di selat itu, para pelaku pasar memperkirakan kenaikan kuota Agustus akan benar-benar berwujud fisik. “Keputusan ini adalah sinyal bahwa era disrupsi pasokan mulai mereda. Para produsen bersiap menggenjot ekspor begitu jalur maritim kembali pulih sepenuhnya,” ujar seorang analis energi senior yang dikutip Warkini.com.
“Penyesuaian ini dilakukan secara hati-hati dan fleksibel, sejalan dengan dinamika pasar global serta pemulihan logistik di kawasan. OPEC+ tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga tanpa mengabaikan kepentingan konsumen,” demikian petikan pernyataan resmi aliansi tersebut.
Langkah OPEC+ ini diperkirakan akan menekan harga minyak lebih lanjut, setelah pekan lalu kontrak acuan Brent turun di bawah US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak eskalasi Timur Tengah. Di sisi lain, tambahan pasokan dapat meredakan tekanan inflasi global yang dipicu oleh lonjakan biaya energi sepanjang semester pertama 2026. Pelaku industri pelayaran dan penyulingan menyambut baik perkembangan ini, meski beberapa mengingatkan bahwa risiko geopolitik di Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang dan produksi aktual masih bergantung pada kecepatan pemulihan infrastruktur pelabuhan.
Comments (0)