Bagi sebagian besar orang, menyeruput secangkir teh atau kopi yang masih mengepul panas adalah kenikmatan tersendiri di pagi hari atau saat cuaca dingin. Namun, kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele ini ternyata menyimpan ancaman kesehatan yang cukup serius. Sebuah riset skala besar membuktikan bahwa bukan jenis minuman yang menjadi pemicu masalah, melainkan suhu panas ekstrem saat cairan tersebut ditelan.
Studi komprehensif yang dipublikasikan dalam International Journal of Cancer ini menjawab perdebatan panjang di dunia medis mengenai faktor pemicu utama kanker esofagus atau kerongkongan. Penelitian tersebut dipimpin oleh tim ahli dari Cancer Epidemiology Unit, University of Oxford, yang terdiri dari Keren Papier, Kezia Gaitskell, Sarah Floud, dan Gillian K. Reeves.
Kronologi dan Metodologi Riset Selama Satu Dekade
Untuk mengungkap korelasi nyata antara suhu minuman dan risiko kanker, tim peneliti merancang pengamatan epidemiologi berbasis populasi yang sangat masif:
- Perekrutan Kohort: Peneliti mengumpulkan data riwayat konsumsi dan pola hidup dari 977.282 partisipan dewasa di Inggris Raya yang berasal dari dua kelompok kohort besar.
- Pemantauan Jangka Panjang: Setiap partisipan dipantau secara berkala selama lebih dari 10 tahun untuk mencatat setiap diagnosis medis dan perkembangan kesehatan mereka.
- Identifikasi Kasus: Sepanjang masa observasi lebih dari satu dekade tersebut, tercatat sebanyak 2.348 kasus kanker esofagus baru pada kelompok responden yang diteliti.
Dari total kasus yang ditemukan, para peneliti membaginya ke dalam dua klasifikasi kanker esofagus paling umum, yaitu 1.045 kasus karsinoma sel skuamosa dan 1.303 kasus adenokarsinoma.
Risiko Melonjak Tiga Kali Lipat pada Suhu Ekstrem
Temuan paling mencolok dari penelitian ini berfokus pada subtipe karsinoma sel skuamosa. Partisipan yang terbiasa meminum teh, kopi, atau seduhan lain dalam kondisi "sangat panas" menghadapi bahaya medis yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang memilih menyantap minuman bersuhu hangat kuku.
"Konsumsi minuman pada suhu yang sangat panas, jika dibandingkan dengan suhu hangat, secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan risiko karsinoma sel skuamosa esofagus hingga lebih dari tiga kali lipat," tulis tim peneliti dalam laporan resmi mereka.
Secara statistik terperinci, angka lonjakan risikonya mencapai 3,17 kali lipat. Menariknya, korelasi risiko serupa tidak terdeteksi pada kasus adenokarsinoma, yang menunjukkan bahwa luka termal akibat suhu tinggi memberikan dampak biologis spesifik pada lapisan sel tertentu di dinding kerongkongan.
Langkah Pencegahan Sederhana Sebelum Menyeruput Minuman
Para peneliti menekankan bahwa masyarakat tidak perlu berhenti menikmati kopi, teh, atau minuman herbal kesukaan mereka. Kunci pencegahannya terletak pada kesabaran membiarkan uap panas mereda sejenak sebelum meminumnya.
- Tunggu beberapa menit: Biarkan cangkir minuman mendingin sejenak hingga suhunya turun ke tingkat hangat yang aman.
- Hindari sensasi terbakar: Jika bibir atau lidah merasakan sensasi terbakar saat cairan menyentuh mulut, esofagus bagian dalam juga berpotensi mengalami cedera mikroskopis berulang.
- Konsumsi perlahan: Menyeruput dalam tegukan kecil lebih aman dibanding menenggak cairan panas dalam jumlah besar sekaligus.
Comments (0)