warkini.
Viral

Pemerintah Tetapkan Musik Daul Asal Pamekasan Jadi Warisan Budaya Takbenda

Kabar membanggakan datang dari panggung kebudayaan nusantara. Kementerian Kebudayaan secara resmi menetapkan musik daul, kesenian khas dari Kabupaten Pamek

Pemerintah Tetapkan Musik Daul Asal Pamekasan Jadi Warisan Budaya Takbenda

Kabar membanggakan datang dari panggung kebudayaan nusantara. Kementerian Kebudayaan secara resmi menetapkan musik daul, kesenian khas dari Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan prestisius ini menjadi tonggak sejarah penting bagi para seniman dan masyarakat Madura yang terus merawat kesenian tradisional mereka di tengah derasnya arus modernisasi.

Musik daul dikenal lewat dentuman perkusi yang dinamis, paduan harmonis alat musik tradisional, serta penampilan visual dekoratif berupa replika naga atau kereta megah berhias gemerlap lampu warna-warni. Keunikan karakter inilah yang membuatnya sukses mencuri perhatian para penilai kebudayaan nasional hingga dinilai layak mendapatkan status perlindungan budaya.

Harmoni Rampak Khas Madura yang Memikat

Bagi warga Madura, musik daul bukan sekadar hiburan telinga, melainkan detak jantung dari identitas komunal. Kesenian ini memadukan beragam instrumen tradisional dan perkusi ritmis yang rancak, menciptakan lantunan nada yang menggugah semangat kebersamaan penontonnya.

Berikut sejumlah karakteristik utama yang menjadikan musik daul begitu unik:

  • Kombinasi Instrumen Beragam: Menggabungkan kendang, kenthongan (tong-tong), kenong, saronen (terompet Madura), hingga instrumen perkusi bambu rakitan.
  • Panggung Bergerak: Dimainkan di atas gerobak atau kereta dorong megah bertema mitologi lokal seperti naga dan burung merak.
  • Irama Rancak dan Dinamis: Memadukan tempo cepat khas pesisir dengan melodi khas etnik Madura yang magis.
  • Nilai Gotong Royong: Membutuhkan kekompakan puluhan pemuda untuk memainkan musik sekaligus mendorong dekorasi kereta panggung.
"Penetapan ini merupakan buah kerja keras para pelaku seni, komunitas, dan pemerintah daerah yang konsisten melestarikan musik daul. Ini bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab besar untuk menjaga eksistensinya agar tetap diwariskan ke generasi masa depan," ujar salah seorang budayawan Pamekasan.

Perjalanan Menuju Pengakuan Nasional

Awal mula musik daul bermula dari tradisi ronda membangunkan sahur di bulan suci Ramadan. Dari ketukan sederhana menggunakan bambu dan kaleng bekas, kesenian ini bertransformasi menjadi orkestrasi perkusi kolosal yang artistik sejak era 1990-an. Seiring berjalannya waktu, komunitas-komunitas daul di Pamekasan tumbuh pesat dan rutin menggelar festival tahunan yang memikat puluhan ribu penonton dari berbagai daerah.

Proses kurasi untuk meraih predikat WBTb membutuhkan kajian dokumentasi sejarah yang panjang, uji orisinalitas, serta pembuktian bahwa seni pertunjukan ini masih hidup dan relevan di tengah masyarakat. Keberhasilan musik daul membuktikan bahwa seni jalanan tradisional mampu bersanding sejajar dengan kekayaan budaya adiluhung nusantara lainnya.

Komitmen Pelestarian dan Ruang Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Pamekasan menyambut antusias penetapan ini dengan merancang berbagai program lanjutan. Selain memperluas panggung pertunjukan melalui kalender pariwisata daerah, pembinaan bagi sanggar-sanggar musik muda di desa-desa akan terus diintensifkan agar regenerasi seniman tidak terputus.

Dengan status barunya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, musik daul kini memikul misi lebih luas: menjadi simbol ketahanan budaya lokal serta magnet pariwisata yang mengangkat pamor Pulau Garam di kancah nasional maupun internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS wendy-anwar

Reporter Travel. Menjelajah destinasi Indonesia dan tips wisata.

Comments (0)

User