Pertamina Pastikan Transisi B50 Bertahap Hingga September 2026
PT Pertamina (Persero) memastikan bahwa peralihan dari program mandatori biodiesel B40 ke B50 tidak akan dilakukan secara drastis. Perusahaan pelat merah i
PT Pertamina (Persero) memastikan bahwa peralihan dari program mandatori biodiesel B40 ke B50 tidak akan dilakukan secara drastis. Perusahaan pelat merah itu menetapkan masa transisi yang berlangsung secara bertahap hingga 30 September 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional sekaligus memberikan waktu bagi seluruh rantai pasok — dari produsen, infrastruktur distribusi, hingga pengguna akhir — untuk menyesuaikan diri dengan spesifikasi bahan bakar nabati yang lebih tinggi.
Keputusan ini merupakan bagian dari peta jalan pemerintah yang lebih luas dalam mempercepat bauran energi terbarukan. Sebelumnya, Indonesia sukses mengadopsi B35 pada awal 2023 dan kemudian meningkatkan menjadi B40 pada 2025. Kini, loncatan ke B50 menjadi tonggak berikutnya, namun dengan pendekatan yang lebih hati-hati mengingat kompleksitas teknis dan logistik yang menyertainya.
Alasan di Balik Transisi Bertahap
Peningkatan campuran biodiesel dari 40% menjadi 50% bukan sekadar urusan menambah volume minyak sawit ke dalam solar. Formula B50 membawa konsekuensi pada aspek teknis kendaraan bermotor, tangki penyimpanan, hingga karakteristik pembakaran. Kandungan asam lemak yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi kinerja mesin, terutama pada kendaraan dan alat berat lawas yang belum sepenuhnya kompatibel dengan biodiesel konsentrasi tinggi.
Pertamina, melalui anak usahanya, perlu memastikan bahwa seluruh terminal bahan bakar minyak (TBBM) dan jaringan pipa siap menangani B50. Biodiesel memiliki sifat higroskopis — mudah menyerap air — yang dapat memicu korosi pada infrastruktur logam. Oleh karena itu, penyesuaian tangki timbun dan sistem perpipaan menjadi prasyarat mutlak sebelum distribusi massal diberlakukan.
“Kami tidak bisa langsung memaksakan B50 secara penuh. Ada tahapan uji coba terbatas yang harus kami lakukan, terutama pada segmen transportasi dan industri. Transisi ini ibarat menaikkan gigi secara perlahan, bukan melompat. Dengan demikian, keandalan pasokan dan perlindungan terhadap aset konsumen tetap menjadi prioritas utama,” ujar juru bicara Pertamina dalam keterangan resmi, Kamis.
Tahapan dan Infrastruktur Kunci
Selama masa transisi, Pertamina akan menerapkan skema blending on the fly di beberapa titik distribusi strategis. Artinya, solar akan dicampur dengan FAME (fatty acid methyl ester) berbasis minyak sawit secara proporsional sesuai tahapan yang ditetapkan. Tahap awal akan mempertahankan B40, lalu secara bertahap ditingkatkan menjadi B45 pada awal 2026, sebelum akhirnya mencapai B50 penuh pada kuartal ketiga 2026.
Fokus utama Pertamina saat ini adalah memperkuat infrastruktur di luar Pulau Jawa, di mana ketersediaan tangki khusus dan sistem pencampuran masih terbatas. Beberapa TBBM di Kalimantan dan Sulawesi akan menjalani retrofit agar mampu menyimpan dan menyalurkan biodiesel dengan konsentrasi tinggi tanpa risiko degradasi kualitas. Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) untuk memastikan pasokan FAME mencukupi sepanjang periode transisi.
Dampak bagi Industri dan Lingkungan
Bagi sektor industri, penundaan penerapan penuh B50 memberikan napas lega. Pengusaha angkutan barang dan alat berat memiliki waktu lebih panjang untuk menyesuaikan armada, baik melalui penambahan aditif khusus maupun penggantian filter dan seal yang tahan terhadap biodiesel. Di sisi hilir, produsen kendaraan juga dapat melakukan penyesuaian spesifikasi teknis pada mesin-mesin baru agar kompatibel dengan B50.
Dari perspektif lingkungan, transisi ke B50 diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Berdasarkan perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, setiap peningkatan 5% campuran biodiesel dapat mereduksi emisi karbon sekitar 4 hingga 5 juta ton CO2 ekuivalen per tahun. Jika B50 berjalan penuh, Indonesia berpotensi memangkas emisi hingga 20 juta ton per tahun, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor solar.
Namun, tantangan tetap membayangi: ketersediaan lahan sawit berkelanjutan. Pemerintah dan pelaku usaha diminta memastikan bahwa perluasan produksi FAME tidak mengorbankan hutan primer. Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi kunci agar transisi energi ini tidak menciptakan masalah baru di sektor lingkungan hidup.
Secara keseluruhan, langkah Pertamina menerapkan transisi bertahap B50 hingga September 2026 mencerminkan keseimbangan antara ambisi energi bersih dan realitas teknis di lapangan. Konsumen, industri, dan lingkungan sama-sama akan merasakan manfaatnya asalkan proses ini dikawal dengan disiplin dan transparansi yang tinggi.
[SOCIAL_TWEET]: Pertamina memastikan transisi dari #Biodiesel40 ke #B50 berjalan bertahap hingga 30 September 2026. Langkah ini untuk jaga pasokan energi & adaptasi infrastruktur. #EnergiTerbarukan #Pertamina[SOCIAL_TG]: ⛽️ Transisi B50 bertahap sampai September 2026, Pertamina pastikan pasokan energi tetap lancar. Baca selengkapnya!
Comments (0)