warkini.
Travel

Prabowo Tegaskan Perdagangan dan Mata Uang Tak Boleh Jadi Senjata Politik

Kehadiran Indonesia di panggung diplomasi internasional kembali mencuri perhatian global. Dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS Plus, Presiden

Prabowo Tegaskan Perdagangan dan Mata Uang Tak Boleh Jadi Senjata Politik

Kehadiran Indonesia di panggung diplomasi internasional kembali mencuri perhatian global. Dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS Plus, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pesan tegas dan lugas mengenai arah tatanan ekonomi dunia. Prabowo mengingatkan seluruh pemimpin dunia agar tidak menyalahgunakan kekuatan ekonomi, sistem perdagangan, maupun mata uang internasional sebagai instrumen tekanan geopolitik.

Pidato tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia secara konsisten menyuarakan keadilan ekonomi bagi negara-negara berkembang. Di tengah dinamika global yang diwarnai fragmentasi geopolitik dan sanksi ekonomi sepihak, Indonesia memandang bahwa stabilitas dunia hanya bisa terwujud jika seluruh negara saling menghormati kedaulatan dan menolak segala bentuk hegemoni yang merugikan pihak lain.

Menolak Polarisasi dan Senjatisasi Ekonomi Global

Dalam pemaparannya, Presiden Prabowo menyoroti bagaimana arus perdagangan dan sistem pembayaran internasional belakangan ini kerap dijadikan alat politik kekuasaan. Hal ini tidak hanya memicu ketidakpastian pasar, tetapi juga memperlemah daya tahan ekonomi negara-negara berkembang yang paling rentan terhadap guncangan eksternal.

"Perdagangan bebas, sistem keuangan global, dan mata uang internasional seharusnya menjadi jembatan kemakmuran bersama, bukan justru dijadikan senjata untuk menekan atau membatasi ruang gerak negara lain," tegas Prabowo dalam forum internasional tersebut.

Prabowo menekankan bahwa sistem ekonomi multilateral harus kembali pada prinsip kesetaraan, transparansi, dan inklusivitas. Polarisasi global dinilai hanya akan menghambat pencapaian target pembangunan berkelanjutan dan memperdalam kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.

Poin Penting Sikap Indonesia di Forum BRICS

Selama berlangsungnya sesi pertemuan tingkat tinggi, Indonesia membawa sejumlah agenda strategis yang berpihak pada kepentingan kawasan Global South. Berikut adalah beberapa poin utama yang disuarakan Presiden Prabowo:

  • Keadilan Sistem Keuangan Internasional: Mendorong arsitektur keuangan dunia yang lebih inklusif, adil, dan tidak rentan terhadap manuver proteksionisme sepihak.
  • Ketahanan Pangan dan Energi: Menjamin rantai pasok global tetap terbuka dan tidak terganggu oleh konflik geopolitik, demi melindungi hak hidup masyarakat dunia.
  • Solidaritas Kemanusiaan: Menyerukan penghentian agresi serta ketidakadilan di berbagai belahan dunia, termasuk dukungan penuh terhadap kemerdekaan rakyat Palestina.
  • Kerja Sama Setara: Mengajak negara anggota BRICS memperkuat kemitraan investasi tanpa klausul yang mendikte kedaulatan nasional.

Diplomasi Bebas Aktif di Tengah Dinamika Baru

Keterlibatan aktif Indonesia dalam KTT BRICS menegaskan implementasi politik luar negeri yang independen, bebas, dan aktif. Bergabungnya Indonesia dalam dialog ekonomi non-tradisional tidak berarti memihak salah satu poros kekuatan, melainkan wujud komitmen untuk merangkul seluruh mitra strategis demi kepentingan nasional.

Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia siap memainkan peran sebagai bridge builder atau jembatan penghubung di tengah ketegangan global. Dengan menjalin kemitraan erat di berbagai blok multilateral, Indonesia optimis dapat mempercepat transformasi ekonomi domestik dan menjaga stabilitas kawasan secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User