Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat memperluas integrasi antarmoda transportasi umum di ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan jajaran operator transportasi publik, mulai dari PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) hingga armada Mikrotrans, untuk membuka akses layanan langsung di 11 stasiun LRT Jakarta.
Langkah ini diambil guna memastikan warga Jakarta mendapatkan akses perjalanan yang mulus (*seamless*) sejak keluar dari pintu rumah hingga tiba di stasiun LRT, maupun sebaliknya. Penguatan angkutan pengumpan (*feeder*) ini dinilai krusial untuk mendongkrak okupansi angkutan berbasis rel yang terus diperluas rutenya.
Kronologi dan Tahapan Penataan Rute Angkutan Pengumpan
Upaya menghadirkan konektivitas terpadu ini dilakukan melalui serangkaian evaluasi menyeluruh terhadap jaringan rute eksisting. Berikut tahapan implementasi yang tengah dijalankan jajaran Pemprov DKI Jakarta:
- Pemetaan Titik Stasiun: Dinas Perhubungan DKI Jakarta bersama PT LRT Jakarta dan PT Transjakarta mengkaji titik henti strategis di sepanjang 11 stasiun operasional dan perluasan LRT.
- Sinkronisasi Trayek Mikrotrans: Operator angkutan Mikrotrans (JakLingko) diminta menyesuaikan rute agar melintasi kawasan perumahan dan langsung berhenti di lobi atau selasar stasiun LRT.
- Penyesuaian Jadwal Bus Transjakarta: Armada bus besar dan sedang diatur frekuensinya agar waktu kedatangannya sejalan dengan jadwal keberangkatan kereta LRT.
- Uji Coba Lapangan dan Evaluasi: Layanan koneksi mulai diuji coba secara bertahap untuk memastikan tidak terjadi penumpukan penumpang pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari.
"Integrasi transportasi bukan sekadar menghubungkan fisik antarbangunan stasiun, tetapi memastikan warga dari pemukiman bisa menjangkau moda rel dengan mudah, murah, dan nyaman melalui Mikrotrans dan Transjakarta," ujar Pramono Anung saat memberikan arahan kerja.
Fokus Pemerataan Akses dan Kenyamanan Penumpang
Konektivitas ini menyasar seluruh koridor LRT Jakarta yang melintasi kawasan strategis dari Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Velodrome Rawamangun, hingga trase lanjutan menuju Manggarai. Keberadaan Mikrotrans sebagai moda *first-mile* dan *last-mile* dinilai menjadi tulang punggung mobilitas warga di gang-gang pemukiman padat.
Dengan adanya armada Mikrotrans yang terhubung langsung di stasiun LRT, masyarakat kini memiliki alternatif mobilitas tanpa harus membawa kendaraan pribadi. Beberapa poin penting dalam penguatan armada ini meliputi:
- Perluasan Rute Pengumpan: Penambahan trayek baru Mikrotrans yang mengarah langsung ke simpul-simpul stasiun LRT.
- Fasilitas Halte Terintegrasi: Pembangunan titik penurunan (*drop-off*) penumpang yang ramah disabilitas dan dekat dengan gerbang tiket LRT.
- Skema Tarif Terjangkau: Penumpang tetap menikmati skema tarif integrasi JakLingko dengan tarif maksimal Rp10.000 untuk perjalanan multi-moda selama tiga jam.
Pemprov DKI Jakarta optimis, penguatan rute pengumpan di 11 stasiun LRT ini tidak hanya akan mengurai simpul kemacetan di Jakarta Timur dan Jakarta Utara, tetapi juga mempercepat terwujudnya target peralihan penggunaan transportasi pribadi ke transportasi publik secara berkelanjutan.
Comments (0)