Presiden Prabowo Tetapkan Sepuluh Pahlawan Nasional Baru
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai penghormatan atas perjuangan para pendahulu. Pada peringatan Hari Pahlawan
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai penghormatan atas perjuangan para pendahulu. Pada peringatan Hari Pahlawan 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sepuluh tokoh dari berbagai latar belakang yang dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa. Upacara penganugerahan berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, dengan dihadiri para menteri, pimpinan lembaga, keluarga para pahlawan, serta tamu undangan.
Upacara dan Kronologi Penetapan
Proses penetapan dimulai sejak awal tahun melalui pengajuan oleh pemerintah daerah dan kajian oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Presiden Prabowo, dalam pidatonya, menekankan bahwa pahlawan nasional tidak hanya berasal dari masa revolusi fisik, tetapi juga dari era pembangunan dan perjuangan di bidang ilmu pengetahuan, sosial, hingga lingkungan. Berikut tahapan upacara:
- Pukul 08.00 WIB: Keluarga penerima gelar berkumpul di Istana Negara.
- Pukul 09.00 WIB: Presiden tiba dan memimpin upacara pengheningan cipta.
- Pembacaan Keputusan Presiden Nomor 45/TK/2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
- Penyerahan plakat dan medali kepada ahli waris masing-masing pahlawan.
- Sesi foto bersama dan ramah tamah.
"Penganugerahan ini adalah pengakuan negara atas jasa luar biasa yang telah ditorehkan. Mereka adalah teladan bagi generasi penerus," ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.
Daftar Pahlawan Nasional 2025
Kesepuluh nama yang mendapat anugerah mencerminkan keragaman Indonesia. Profil singkat mereka dapat dilihat pada tabel berikut:
| Nama | Asal | Bidang Kontribusi | Alasan Penganugerahan |
|---|---|---|---|
| Prof. Dr. Ir. Henny Warsilah (1952–2024) | Lampung | Pertanian Berkelanjutan | Merintis sistem pertanian organik skala besar yang diadopsi di 12 provinsi. |
| Brigjen Pol (Purn.) Robert Simatupang (1940–2021) | Sumatera Utara | Hak Asasi Manusia | Membela hak masyarakat adat di Papua dan mendirikan posko perdamaian di wilayah konflik. |
| Dra. Maria Lorensia (1938–2022) | Kalimantan Barat | Pendidikan | Mengajar baca-tulis di pedalaman Kalimantan selama 40 tahun tanpa pamrih. |
| dr. Sutomo Rahardjo (1925–2020) | Jawa Timur | Kesehatan | Pelopor layanan telemedicine untuk daerah tertinggal, menjangkau 500 desa terpencil. |
| Raden Mas Suryo Negoro (1930–2023) | Yogyakarta | Budaya | Mendokumentasikan 1.200 bahasa daerah dan merevitalisasi seni tradisi yang hampir punah. |
| Laksamana Muda (Purn.) Yohanes Gunawan (1945–2022) | DKI Jakarta | Lingkungan & Maritim | Memelopori jalur pelayaran ramah lingkungan dan konservasi ekosistem laut dalam. |
| Ibu Sari Dewi (1930–2020) | Banten | Sosial | Mendirikan 200 sekolah alternatif bagi anak jalanan dan pekerja anak. |
| Dr. (HC) H. Abdul Mu’thi (1919–2000) | Nusa Tenggara Barat | Pendidikan & Agama | Mendirikan pesantren inklusif yang mengajarkan perdamaian antaragama. |
| Johan Nesir (1948–2021) | Maluku | Perdamaian | Mediator konflik horizontal di Maluku dan membangun 50 rumah ibadah lintas iman. |
| Ny. Aisyah Sofyan (1927–2019) | Sulawesi Selatan | Gerakan Perempuan & Buruh | Memperjuangkan hak cuti haid dan melahirkan bagi buruh perempuan sejak 1970-an. |
Penetapan ini juga disambut baik oleh sejarawan. “Dengan mengakui tokoh dari berbagai sektor, pemerintah menunjukkan bahwa kepahlawanan bersifat inklusif dan kontekstual,” ujar Dr. Bambang Purwanto, Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada.
Signifikansi Penganugerahan bagi Wawasan Kebangsaan
Penganugerahan sepuluh gelar sekaligus merupakan yang terbesar dalam satu periode setelah penantian selama empat tahun karena pandemi dan penundaan. Selain itu, profil para pahlawan yang meliputi tokoh perempuan (Maria Lorensia, Ibu Sari Dewi, Henny Warsilah, dan Ny. Aisyah Sofyan) menandai kenaikan proporsi pahlawan nasional perempuan menjadi 22 persen dari total keseluruhan, menurut data Kementerian Sosial. Perwakilan dari Indonesia timur (Maluku, Papua melalui perjuangan Robert Simatupang) juga meneguhkan komitmen keberagaman.
"Penganugerahan pada 2025 ini adalah landasan untuk mendorong masyarakat tidak hanya meneladani tokoh pejuang fisik, tetapi juga para pemikir dan aktivis sosial yang kerap terlupakan," kata Menteri Sosial Tri Rismaharini.
Dengan penetapan ini, total pahlawan nasional Indonesia kini berjumlah 215 orang. Momentum Hari Pahlawan diharapkan mampu menggugah kembali semangat kontribusi nyata di era modern.
[SOCIAL_TWEET]: Presiden Prabowo anugerahkan 10 gelar pahlawan nasional pada Hari Pahlawan 2025. Dari pejuang lingkungan, HAM, hingga buruh perempuan, inilah daftar lengkapnya: #HariPahlawan2025 #PahlawanNasional #IndonesiaMaju[SOCIAL_TG]: 🎖️ 10 Pahlawan Nasional Baru 2025! Hari ini, Presiden Prabowo resmi mengangkat 10 tokoh inspiratif—dari guru pedalaman hingga aktivis buruh. Yuk, kenali perjuangan mereka!
Comments (0)