[REPORTASE JAKARTA] — KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Jakarta

Jakarta, Warkini.com – Majelis taklim Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, bergemuruh ketika ulama kharismatik KH Zulfa Mustofa mencium sampul kita

Jul 12, 2026 - 06:55
0 0
[REPORTASE JAKARTA] — KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Jakarta
Jakarta, Warkini.com – Majelis taklim Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, bergemuruh ketika ulama kharismatik KH Zulfa Mustofa mencium sampul kitab tebal bersampul hijau zamrud. Kitab bertajuk Ithafu Ummati Al-Muqtafa itu bukan sekadar karya tulis keagamaan biasa; ia merupakan tafsir Al-Qur’an 30 juz yang ditulis tangan dalam bahasa Arab fasih selama lebih dari 17 tahun oleh sang kiai. Peluncuran kitab ini, yang berlangsung pada Sabtu malam, menjadi tonggak penting dalam khazanah intelektual Islam Nusantara karena menghadirkan metode tafsir bil ma’tsur (berdasarkan riwayat) yang merujuk kepada 172 kitab induk, mulai dari Tafsir ath-Thabari, al-Qurthubi, hingga ad-Durr al-Mantsur karya as-Suyuthi. Dalam pidato ilmiahnya, KH Zulfa Mustofa yang merupakan mudir Ma’had Darul Fawaid Sumenep, Madura, menyampaikan bahwa motivasi penulisan kitab ini lahir dari keprihatinannya terhadap fragmentasi umat Islam yang kerap terjebak pada perdebatan khilafiyah tanpa memiliki sandaran otoritatif dari warisan para salafus shalih. “Ithafu Ummati Al-Muqtafa ingin menyuguhkan kembali kejernihan pesan Ilahi melalui kacamata mufassirin klasik yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah,” ujar Kiai Zulfa di hadapan sekitar 2.500 jamaah yang memadati masjid sejak pukul 19.30 WIB. Tak kurang dari 11 pimpinan pondok pesantren besar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta turut hadir, termasuk Habib Muhammad bin Anis bin Alwi Al-Habsyi dari Bangil, Pasuruan. Kitab ini mencatat sejarah sebagai salah satu tafsir lengkap pertama yang dikerjakan oleh ulama Indonesia secara otodidak tanpa bergabung dalam proyek tim akademik atau pusat studi, namun tetap melalui telaah sanad dan ijazah dari guru-guru di Haramain. Tebalnya mencapai 4.780 halaman yang terbagi ke dalam 6 jilid besar, dan semuanya ditulis dengan khat naskhi menggunakan tinta celup. Menurut panitia, biaya pencetakan awal sebanyak 2.000 eksemplar mencapai Rp1,8 miliar, yang sepenuhnya ditanggung oleh para donatur anonim dan alumni pesantren.

Signifikansi di Tengah Arus Digitalisasi Ilmu Agama

Peluncuran Ithafu Ummati Al-Muqtafa tidak hanya menjadi peristiwa kultural bagi kalangan pesantren, tetapi juga momentum penting untuk menakar daya tahan literasi manuskrip keislaman di tengah disrupsi teknologi digital. Sebagian kalangan menyebut bahwa era aplikasi Al-Qur’an dan tafsir instan melalui gawai akan menggerus minat terhadap kitab cetak konvensional. Namun, data menunjukkan tren berbeda.
TahunJumlah Judul Kitab Tafsir Cetak Baru di IndonesiaUnduhan Tafsir Digital (Estimasi)
201512± 380.000
202024± 2,1 juta
202439± 6,7 juta
Data yang dihimpun dari Katalog Induk Nasional dan laporan platform literasi Islam menunjukkan bahwa peluncuran kitab tafsir fisik justru berkorelasi positif dengan peningkatan akses digital. Artinya, publik tidak memilih salah satu, melainkan mengonsumsi keduanya secara komplementer. Kehadiran kitab monumental seperti Ithafu Ummati Al-Muqtafa diyakini akan memicu lonjakan kajian daring yang lebih dalam, sebagaimana yang terjadi pada kitab al-Bahr al-Madid karya Ibnu ‘Ajibah setelah edisi cetak lux-nya terbit pada 2018.

Dimensi Sanad dan Otoritas Ulama Nusantara

Salah satu isu krusial yang kerap mengemuka dalam studi Al-Qur’an kontemporer adalah problem otoritas penafsir. Di era banjir informasi, setiap orang dapat menyampaikan interpretasi Al-Qur’an tanpa memiliki kualifikasi keilmuan yang jelas. Ithafu Ummati Al-Muqtafa hadir sebagai jawaban dengan menonjolkan otoritas sanad yang terverifikasi. Di halaman muqaddimah, KH Zulfa Mustofa mencantumkan silsilah sanad tafsirnya yang bersambung kepada Imam Jalaluddin as-Suyuthi melalui jalur Sayyid Alawi al-Maliki, lalu ke Syekh Nawawi al-Bantani. Ini menegaskan bahwa tradisi keilmuan Nusantara masih menyimpan rantai transmisi yang otentik dan tidak terputus. “Ini bukti bahwa ulama Indonesia bukan sekadar konsumen, tetapi produsen ilmu-ilmu Al-Qur’an yang diakui sanadnya. Kitab tafsir dengan standar tahqiq sekelas al-Azhar kini lahir dari tangan anak bangsa,” ujar Dr. Muhammad Fikri, pakar ilmu tafsir dari Universitas Islam Internasional Indonesia, saat diwawancarai Warkini.com di sela acara. Komentar tersebut menegaskan pergeseran paradigma dari ketergantungan pada kitab-kitab Timur Tengah menuju kemandirian literasi pesantren yang diakui secara global.

Proses Kreatif dan Tantangan Ekonomi Pesantren

KH Zulfa Mustofa mengisahkan bahwa proses penulisan Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa dimulai pada 2007 di sebuah kamar kecil di lingkungan Pesantren Darul Fawaid. Setiap hari beliau menulis pada sepertiga malam terakhir hingga menjelang subuh, lalu dilanjutkan setelah mengajar santri pada pukul 08.00 hingga dzuhur. Total jam kerja intelektual mencapai 15.000 jam lebih selama 17 tahun. Upaya ini nyaris terhenti pada tahun ketujuh karena kendala finansial, namun dukungan 437 santri yang mengumpulkan iuran sukarela senilai Rp1.000 per hari berhasil menghidupkan kembali proyek tersebut. Panitia menyediakan layanan pre-order kitab dengan harga Rp3.500.000 per set (6 jilid), termasuk digital access code untuk edisi interaktif yang akan diluncurkan tahun depan. Dalam waktu 2 jam setelah acara, tercatat 812 set telah dipesan oleh berbagai lembaga pendidikan dan perorangan dari dalam dan luar negeri, termasuk 47 pesanan dari Malaysia, Singapura, dan Mesir.

Proyeksi dan Dampak Jangka Panjang

Peluncuran kitab ini membuka peluang bagi penguatan kajian tafsir bil ma’tsur di pesantren-pesantren Indonesia yang selama ini lebih banyak menggunakan kitab Tafsir al-Jalalain. PBNU dan Majelis Ulama Indonesia melalui perwakilannya di acara tersebut menyatakan akan memasukkan Ithafu Ummati Al-Muqtafa sebagai salah satu rujukan dalam program kaderisasi ulama tafsir tingkat nasional. Sementara itu, penerbit berencana untuk menjalin kerja sama dengan Universitas al-Azhar Kairo untuk penerbitan edisi takhrij hadis yang lebih luas guna memperkaya khasanah akademik global. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Zulfa Mustofa sendiri, lalu dilanjutkan dengan ijazah umum pembacaan kitab tersebut. Para hadirin mendapatkan sanad langsung untuk mengajarkan kitab ini, yang secara simbolik memperkuat jaringan intelektual Islam Nusantara yang berbasis pada sanad, bukan sekadar popularitas media. --- [SOCIAL_TWEET]: KH Zulfa Mustofa luncurkan kitab tafsir 30 juz “Ithafu Ummati Al-Muqtafa” di Jakarta. Ditulis tangan selama 17 tahun, 4.780 halaman, merujuk 172 kitab induk, sanad bersambung ke Imam Suyuthi. #UlamaNusantara #KitabTafsir [SOCIAL_TG]: 🔵 KH Zulfa Mustofa luncurkan kitab tafsir Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Kitab 6 jilid, 4.780 halaman, disusun dalam 17 tahun dengan rujukan 172 kitab tafsir klasik. Sanad bersambung ke Imam Suyuthi & Syekh Nawawi al-Bantani. Info pre-order: Rp3,5 juta/set. Baca lengkap di Warkini.com Kenapa ini penting? Kitab ini adalah salah satu tafsir bil ma’tsur pertama yang ditulis ulama Indonesia dengan sanad langsung ke Imam Suyuthi. Lebih dari 2.500 jamaah hadir di Masjid Sunda Kelapa untuk mendapatkan ijazah langsung. Enam jilid, 4.780 halaman, harga pre-order Rp3,5 juta. Ini bukan sekadar buku—ini ikhtiar intelektual yang menegaskan bahwa ulama Nusantara adalah produsen ilmu Islam global. Warkini.com melaporkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User