Rivan Purwantono Nahkoda Baru Jasa Marga, Infrastruktur Tol Disorot
Rivan A. Purwantono kini resmi menduduki posisi puncak sebagai Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Pengangkatan ini bukan sekadar suksesi rutin di tubuh BUMN, melainkan sorotan terhadap arah b...
Rivan A. Purwantono kini resmi menduduki posisi puncak sebagai Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Pengangkatan ini bukan sekadar suksesi rutin di tubuh BUMN, melainkan sorotan terhadap arah baru pengelolaan jalan tol nasional yang kian krusial. Sosoknya yang telah lama berkarir di sektor infrastruktur dan keuangan diyakini mampu membawa angin segar bagi perusahaan pelat merah yang mengelola lebih dari 1.800 kilometer jalan bebas hambatan tersebut.
Dari Pensiun Dini Hingga Panggilan Negara
Banyak yang terkejut ketika nama Rivan disebut. Pria yang sebelumnya memilih pensiun dini dari perbankan ini seolah kembali ke panggung utama usai sempat menjabat sebagai Komisaris Utama PT Jasamarga Tollroad Operator (JMTO). Rekam jejaknya di Bank Mandiri dan pengalamannya memimpin transformasi digital di sektor keuangan menjadi bekal tak terduga bagi Jasa Marga yang kini bergulat dengan disrupsi teknologi transaksi tol dan penerapan MLFF (Multi Lane Free Flow).
Pengamat BUMN menilai, penunjukan ini adalah langkah berani Kementerian BUMN. Sebab, kursi Direktur Utama Jasa Marga biasanya diisi oleh figur internal yang menapak dari proyek konstruksi. Namun, Rivan membawa perspektif berbeda: efisiensi pembiayaan dan integrasi layanan berbasis data. "Pengalaman beliau di Mandiri sangat relevan untuk menyelesaikan isu pendanaan jalan tol yang butuh kreativitas non-APBN," ujar seorang analis kebijakan publik yang enggan disebut nama.
Warisan Pekerjaan Rumah Transaksi Nirsentuh
Salah satu tantangan yang langsung menanti adalah kelanjutan proyek transaksi tol tanpa sentuh yang molor. Pendahulunya telah meletakkan dasar uji coba di beberapa ruas, namun ketidakseragaman aturan dan resistensi pengguna masih menjadi batu sandungan. Rivan diharapkan mampu mempercepat konsolidasi, memanfaatkan keahliannya di sistem pembayaran digital. "Kita butuh sosok yang paham ekosistem digital end-to-end, bukan hanya insinyur sipil," tegas pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, menanggapi penunjukan ini.
Selain itu, restrukturisasi utang anak usaha yang terdampak pandemi belum sepenuhnya pulih. Kemampuan Rivan meracik portfolio keuangan di masa krisis menjadi modal untuk menyehatkan kembali neraca Jasa Marga tanpa terus-menerus membebani pengguna lewat kenaikan tarif.
Ruas Trans Sumatera dan Ambisi Konektivitas
Di luar isu finansial, Jasa Marga tengah agresif menggarap ruas tol Trans Sumatera (JTTS) yang membentang ribuan kilometer. Proyek strategis nasional ini membutuhkan sosok pemimpin yang lihai bernegosiasi dengan pemangku kepentingan daerah. Latar belakang Rivan yang piawai membangun relasi korporasi diproyeksikan memuluskan pembebasan lahan yang kerap menjadi klasiknya hambatan infrastruktur. "Ke depan, target kami bukan cuma panjang jalan, tapi juga dampak ekonomi di sekitar koridor tol," begitu pernyataan awal Rivan yang diungkapkan kepada awak media secara terbatas.
Yang juga menarik, ia menekankan pentingnya standar pelayanan minimal yang lebih manusiawi. Mulai dari penambahan rest area representatif, penerangan jalan yang konsisten, hingga penanganan darurat yang responsif. Visi ini sejalan dengan keluhan pengguna di media sosial yang selama ini kerap menyoroti buruknya kualitas layanan di beberapa ruas tol, terutama di luar Pulau Jawa.
Dengan latar belakangnya yang non-teknis, Rivan dihadapkan pada ekspektasi besar untuk membuktikan bahwa pemimpin BUMN tidak selalu harus datang dari koridor insinyur. Jasa Marga, yang sahamnya sebagian dimiliki publik, memerlukan kombinasi langka antara visi bisnis dan kelincahan birokrasi. Jika Rivan mampu menjembatani keduanya, bukan tidak mungkin era baru pengelolaan jalan bebas hambatan Indonesia akan dimulai di bawah kepemimpinannya.
Baca juga:
Comments (0)