Rosan Roeslani Buka Suara soal Nasib Hotel Sultan: Akan Dirobohkan, Lahirkan Ikon Baru Indonesia
Nasib gedung ikonik Hotel Sultan akhirnya menemui titik terang. Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, memberikan s
Nasib gedung ikonik Hotel Sultan akhirnya menemui titik terang. Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, memberikan sinyalemen kuat bahwa bangunan legendaris di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, tersebut berpotensi besar untuk dirobohkan. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Rosan usai menghadiri agenda di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (22/6/2026).
Kepada awak media yang menemuinya, Rosan tidak menampik spekulasi yang selama ini beredar mengenai perombakan total lahan milik negara tersebut. Ia secara diplomatis menyebut bahwa kawasan yang kini resmi di bawah pengelolaan pemerintah itu akan disulap menjadi sebuah distrik baru yang lebih modern dan representatif.
Pernyataan Tegas sang Menteri
Saat didesak lebih lanjut mengenai detail teknis apakah struktur fisik hotel yang telah berdiri puluhan tahun itu akan diratakan dengan tanah, Rosan memberikan jawaban yang cukup gamblang. Ia mengindikasikan bahwa pembongkaran total merupakan langkah yang tak terelakkan dalam proses transformasi ini.
"Ya pada saat ini mungkin saya belum bisa mengatakan secara rinci, tapi rencana itu akan dijadikan suatu kawasan baru ya. Eventually iya (bakal dirobohkan)," ungkap Rosan.
Kendati belum merinci timeline pasti, pernyataan "eventually iya" tersebut menjadi konfirmasi pertama dari pejabat tinggi negara mengenai skenario ekstrem yang menanti Hotel Sultan. Hal ini sekaligus menepis spekulasi bahwa gedung tersebut hanya akan direnovasi ringan atau dipertahankan sebagai cagar budaya.
Transformasi BMN Menuju Pusat Ekonomi Baru
Lahan dan bangunan Hotel Sultan yang notabene merupakan Barang Milik Negara (BMN) sebelumnya telah resmi beralih pengelolaannya. Media kami sebelumnya memberitakan, usai melalui proses panjang, penguasaan fisik dan hukum lahan tersebut kini berada di tangan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) sebagai representasi negara. Dengan status yang sudah "clear and clean", pemerintah kini memiliki keleluasaan penuh untuk merancang ulang wajah kawasan prestisius seluas lebih dari 10 hektare itu.
Rosan menjelaskan bahwa visi besar di balik pengosongan dan pembongkaran hotel adalah menciptakan ikon baru bagi Indonesia. Menurutnya, kawasan tersebut harus mampu mencerminkan kemajuan dan daya saing Indonesia di mata internasional, sejalan dengan pertumbuhan investasi dan modernisasi infrastruktur di ibu kota.
Antara Nilai Sejarah dan Visi Modernisasi
Isu perobohan ini tentu menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, mengingat Hotel Sultan bukan sekadar bangunan komersial. Gedung ini menyimpan jejak panjang sejarah perhotelan dan konvensi nasional. Namun, pemerintah tampaknya menilai bahwa potensi ekonomi dan estetika tata kota dari sebuah kompleks baru jauh lebih besar dibanding mempertahankan struktur lama yang dianggap sudah tidak lagi optimal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait masih terus memfinalisasi masterplan pengembangan. Publik pun kini menanti desain "ikon baru Indonesia" yang dijanjikan akan berdiri di lokasi tersebut, sebuah proyek yang digadang-gadang menjadi etalase kemajuan investasi dan hilirisasi nasional di kawasan Gelora Bung Karno.
Comments (0)