warkini.
Viral

Ruang Hijau Kota Makin Sempit, Gen Z Mulai Gerah

Lagi scroll TikTok terus lihat video thermal kota Jakarta yang merah padam kayak mie goreng level 5, lo pasti mikir: kok bisa ya kota kita jadi kompor raksasa? Jawabannya simpel tapi nyebelin — poho...

Ruang Hijau Kota Makin Sempit, Gen Z Mulai Gerah

Lagi scroll TikTok terus lihat video thermal kota Jakarta yang merah padam kayak mie goreng level 5, lo pasti mikir: kok bisa ya kota kita jadi kompor raksasa? Jawabannya simpel tapi nyebelin — pohonnya kalah cepat dari beton. Isu tata kota dan ruang hijau di Indonesia akhirnya jadi bahan perbincangan lagi, dan kali ini bukan cuma soal estetika, tapi soal bertahan hidup di kota yang makin panas, makin padat, dan makin sering banjir.

Kota Kita Kayak Buru-buru, Nggak Ada Remnya

<

Fenomena urbanisasi di Indonesia literally nggak bisa dibendung. Jutaan orang pindah dari desa ke kota tiap tahun demi kerja, kuliah, dan hidup yang "lebih modern". Masalahnya, kapasitas kota kayak Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung udah kayak koper kelebihan bagasi — dipaksain muat, akhirnya semua berantakan. Permukiman liar menjamur, lahan pertanian disulap jadi perumahan, dan ruang terbuka hijau (RTH) jadi korban pertama karena dianggap nggak ngasilin cuan.

Padahal, perencanaan kota yang bener itu bukan soal milih antara kemajuan atau alam. Ini soal keseimbangan. Kota berkelanjutan artinya tetap bisa tumbuh tanpa mengorbankan fungsi ekologis lingkungannya. Sayangnya, di lapangan, yang menang hampir selalu sisi beton. Red flag besar banget sih ini.

Angka Ruang Hijau Kita: Salfok Nggak Tuh?

Standar internasional minimal minta ada sekitar 9 meter persegi ruang hijau per orang di kota. Realitanya? Banyak kota besar kita jauh di bawah itu. Jakarta yang katanya megah aja berdesak-desak soal akses taman publik yang layak. Belum lagi RTH yang secara kuantitas sering dikejar target di atas kertas lewat program penghijauan, tapi kualitasnya? Pohonnya kecil-kecil, rumputnya mati, akhirnya taman sepi dan nggak terawat.

Ini penting banget karena ruang hijau bukan sekadar tempat foto estetik buat feed Instagram. Pohon dan taman berfungsi menyerap air hujan (banteng alami buat banjir), menurunkan suhu udara (urban heat island), menyaring polusi, sampai jadi ruang sosial warga. Hilang satu taman di tengah kota, dampaknya kerasa ke seluruh sistem. Kota tanpa ruang hijau itu ibarat HP tanpa baterai — keliatan keren, tapi mati total.

Ironi Klasik: Digusur demi "Pembangunan", Eh Malah Kebanjiran

Plot twist yang paling sering kejadian: lahan hijau digusur buat bikin mal, jalan tol, atau kompleks elit. Beberapa tahun kemudian, area itu langganan banjir. Warga kaget, pemerintah bingung, netizen ribut di kolom komentar. Padahal, lahan basah dan resapan yang hilang itulah biang keladinya. Sekali fungsi drainasi alami dihapus, nggak gampang balikinnya lagi.

Di sisi lain, kebijakan tata ruang kayak RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) sering kali jadi bulan-bulanan karena diubah demi kepentingan investasi. Regulasi yang harusnya jadi tameng malah jadi kunci gerbang buat perusakan lingkungan. Masyarakat sipil dan aktivis lingkungan banyak yang protes, tapi suara mereka sering kalah volume sama proposal bisnis ber-briefing 500 halaman.

Solusi Kreatif Ala Anak Muda: Bisa Nggak Sih?

Kabar baiknya, gen Z nggak cuma diam. Sekarang makin banyak komunitas urban farming, rooftop garden, dan gerakan "tumbuhin taman di trotoar" yang viral banget di media sosial. Ada yang bikin vertical garden di gang sempit, ada yang rehabilitasi kota-kota tua jadi ruang publik hidup. Bahkan beberapa kota mulai main kartu smart city — sensor kelembapan tanah, pemantauan kualitas udara real-time, sampai peta digital titik pohon kota.

Ada juga gagasan soal koridor hijau yang nyambungin taman satu ke taman lain biar satwa kecil dan burung tetap bisa lewat — nggak cuma manusia yang butuh jalan, mereka juga. Ini green flag yang harusnya didukung penuh pemerintah daerah. Tapi dukungan nggak boleh cuma sebatas sambutan di acara launching, harus ada anggaran dan aturan yang tegas.

Tantangan Terbesar: Mentalitas dan Enforcement

Jujur aja, hukum soal perlindungan ruang hijau di kita sebenarnya udah ada. Yang lemah itu penegakannya. Sanksi sering kali cuma surat peringatan yang bikin pengembang ketawa kecil, denda yang lebih murah dari profit, atau kasus yang mandek di meja pengadilan. Selama niat "mencari untung sesegera mungkin" masih jadi patokan utama, ruang hijau akan selalu jadi yang pertama dikorbankan.

Mentalitasnya harus berubah: kota itu bukan cuma soal gimana bikin gedung tertinggi, tapi gimana bikin warga paling nyaman dan sehat. Air tanah yang terus turun, suhu kota yang makin gila, sampai kualitas udara yang bikin batuk-batuk — semua itu alarm yang udah berbunyi lama banget.

Jadi, Mau Diam Aja atau Ngambil Peran?

Perkotaan berkelanjutan bukan utopia yang cuma ada di buku geografi SMA. Ini soal pilihan kolektif: kita mau kota yang adem dan sehat, atau kota yang panas, banjir, dan cuma punya pohon di logo daerahnya? Lo yang tinggal di kota besar pasti ngerasain banget bedanya antara lingkungan yang hijau dan yang serba beton.

Kalau lo punya ide soal taman kota, komunitas hijau, atau program kota keren di daerah lo, cerita dong! Drop di kolom komentar, siapa tahu ide lo jadi awal dari perubahan beneran. Gas pol!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS wendy-anwar

Reporter Travel. Menjelajah destinasi Indonesia dan tips wisata.

Comments (0)

User