Saat Helm hingga Botol Ikut Antre Pendaftaran SD di Sukabumi

Dini hari yang masih gelap dan dingin di Jalan Raya Kota Sukabumi, Jawa Barat, berubah menjadi lautan keriuhan saat ratusan orang tua murid membanjiri trotoar dan area sekitar gerbang Sekolah Dasar N

Jul 08, 2026 - 19:32
0 0
Saat Helm hingga Botol Ikut Antre Pendaftaran SD di Sukabumi

Dini hari yang masih gelap dan dingin di Jalan Raya Kota Sukabumi, Jawa Barat, berubah menjadi lautan keriuhan saat ratusan orang tua murid membanjiri trotoar dan area sekitar gerbang Sekolah Dasar Negeri Cipta Bina Mandiri (SDN CBM) Suryakencana. Sejak pukul 04.00 WIB, para orang tua—yang sebagian besar adalah kaum ibu—sudah mengambil posisi duduk lesehan di atas aspal dan koran bekas, menanti pintu besi sekolah yang masih terkunci rapat. Antusiasme mereka bukan perkara biasa; pendaftaran peserta didik baru di sekolah favorit tersebut dibatasi kuota harian, sehingga setiap menit keterlambatan bisa berarti kehilangan kesempatan bagi buah hati mereka.

Pemandangan yang paling mencolok dari antrean tersebut adalah jejeran benda-benda pengganti diri. Botol minum (tumbler), buku, tas berisi berkas, bahkan helm motor disusun rapi membentuk barisan di atas permukaan jalan. Benda-benda itu bukan sekadar sampah atau barang terlantar, melainkan "wakil" resmi sang orang tua yang sedang menepi untuk sekadar meregangkan kaki, ke kamar mandi, atau mencari sarapan. Tradisi lisan di tengah masyarakat yang terbentuk secara spontan ini menjaga urutan antrean tetap adil tanpa perlu pengawasan ketat, setidaknya sampai panitia pendaftaran datang dan memanggil nama satu per satu.

Seorang wali murid yang enggan disebut namanya menuturkan kepada media kami, “Saya datang jam setengah empat sudah dapat nomor 70. Ini baru kali pertama pakai helm buat jaga antrean, soalnya kalau cuma taruh botol nanti tidak kelihatan kalau sudah ramai.” Ucapannya mencerminkan kecemasan dan kreativitas yang berbaur dalam ritual tahunan penerimaan murid baru di sekolah-sekolah incaran. Meski sederhana, praktik meletakkan benda pribadi sebagai penanda antrean ini sesungguhnya menyimpan aturan sosial yang ketat: tidak boleh ada yang seenaknya menyerobot, dan setiap benda yang tertinggal dianggap mewakili kehadiran sah pemiliknya.

Pihak sekolah sendiri baru menjadwalkan pembukaan gerbang pada pukul 07.30 WIB. Artinya, para orang tua harus menahan dingin dan lelah selama lebih dari tiga jam. Panitia penyelenggara pendaftaran saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa pembatasan jumlah pendaftar dilakukan demi menjaga ketertiban dan menghindari penumpukan massa yang dapat mengganggu keamanan serta kenyamanan lingkungan sekitar. Meski demikian, realita di lapangan tetap memperlihatkan gelombang manusia yang rela menempuh segala cara demi masuk ke dalam barisan pertama.

Fenomena antrean dengan benda pengganti ini bukanlah hal yang asing di berbagai daerah saat musim penerimaan murid baru, tetapi di Kota Sukabumi, pemandangan helm yang ikut “mengantre” menjadi potret urban yang unik sekaligus memilukan. Ia menunjukkan betapa tinggi harapan orang tua terhadap pendidikan anak, sekaligus menyingkap ketimpangan daya tampung sekolah negeri berkualitas. Hingga berita ini diturunkan, antrean masih berlangsung di bawah terik matahari pagi, dan para wali murid tetap setia menjaga posisi—entah dengan botol, tas, atau helm kesayangan mereka.

Laporan dari Warkini.com ini menggambarkan bahwa di balik lembaran formulir pendaftaran, terdapat cerita panjang tentang dedikasi, strategi, dan solidaritas antarorang tua yang rela berbagi tempat duduk serta cerita, sembari menunggu nasib buah hati mereka ditentukan oleh layak tidaknya mereka lolos dalam daftar siswa baru tahun ajaran mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
wendy-anwar

Reporter Trending. Reporter fenomena internet dan konten viral.

Comments (0)

User