Upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal (ABK) Kapal Motor Arupadatu 1 yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda kini memasuki fase krusial. Memasuki hari ketujuh operasi pada Senin, 14 September 2026, masyarakat pesisir bersama paguyuban nelayan setempat memutuskan menggelar ikhtiar kultural berupa tradisi larung kepala kerbau ke tengah lautan.
Langkah adat ini ditempuh sebagai bentuk permohonan doa restu dan keselamatan, berdampingan dengan operasi penyisiran teknis yang terus digencarkan oleh tim Search and Rescue (SAR) gabungan di perairan yang terkenal berarus deras tersebut.
Kronologi Insiden dan Jejak Pencarian Hari Ketujuh
Hilangnya kapal KM Arupadatu 1 menyisakan duka mendalam sekaligus kekhawatiran luas di kalangan keluarga serta insan pers nasional. Berikut adalah rangkaian catatan waktu penting sejak kapal dinyatakan hilang kontak:
- Hari ke-1: Kapal KM Arupadatu 1 yang mengangkut 5 jurnalis dan 3 ABK hilang kontak di sekitar koridor penyeberangan Selat Sunda bagian selatan setelah diterjang cuaca buruk mendadak.
- Hari ke-2 hingga ke-4: Basarnas bersama TNI AL dan Polairud mengerahkan armada kapal patroli dan helikopter untuk menyisir radius 30 mil laut dari titik kontak terakhir.
- Hari ke-5 dan ke-6: Luas area penyisiran diperlebar hingga mendekati perairan Pulau Panaitan akibat arus bawah laut yang kuat ke arah barat daya.
- Hari ke-7: Karena belum ada tanda-tanda serpihan badan kapal atau korban, nelayan lokal berinisiatif menggelar tradisi larung sesaji untuk membuka tabir misteri hilangnya kapal tersebut.
Kearifan Lokal Mengiringi Ikhtiar Penyelamatan
Sejak fajar menyingsing, puluhan perahu nelayan berkumpul di dermaga rakyat sebelum mengiringi kapal utama yang membawa sesaji kepala kerbau. Ritual larung dipimpin langsung oleh tokoh adat dan sesepuh nelayan setempat diiringi lantunan doa bersama.
"Kami berikhtiar secara lahiriah dan batiniah. Laut punya hukumnya sendiri, dan tradisi ini adalah bentuk penghormatan sekaligus permohonan tulus kami kepada Sang Pencipta agar adik-adik jurnalis dan para awak kapal segera ditemukan dalam keadaan selamat," ujar salah seorang tokoh nelayan setempat.
Keluarga korban yang turut memantau jalannya ritual dari dermaga tak kuasa menahan air mata. Harapan besar tetap disandarkan agar operasi gabungan segera membuahkan hasil nyata di tengah tenggat waktu standar operasi pencarian yang kian menipis.
Tantangan Tim SAR Gabungan di Perairan Selat Sunda
Sementara itu, Koordinator Operasi SAR menegaskan bahwa koordinasi taktis terus dioptimalkan. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi perairan Selat Sunda dalam sepekan terakhir memang dihantam gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter.
- Penyisiran Udara: Helikopter pencari terus memantau jalur pesisir terluar dan pulau-pulau tak berpenghuni.
- Penyisiran Bawah Air: Penggunaan perangkat sonar dan multibeam echosounder dimaksimalkan untuk mendeteksi anomali logam di dasar laut.
- Dukungan Nelayan: Jaringan nelayan tradisional turut menyebarkan informasi ke seluruh kapal penangkap ikan yang melintas di zona selatan Jawa dan Banten.
Operasi pencarian ini tetap berjalan penuh selama masa perpanjangan golden period, dengan harapan solidaritas antara teknologi modern dan kearifan lokal mampu membawa kabar baik bagi seluruh korban KM Arupadatu 1.
Comments (0)