warkini.
Travel

Seoul — Bursa Saham Korea Selatan Alami Penurunan Tajam Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Bursa saham Korea Selatan mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Rabu pagi (2 September 2024) dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timu

Seoul — Bursa Saham Korea Selatan Alami Penurunan Tajam Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Bursa saham Korea Selatan mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Rabu pagi (2 September 2024) dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Indeks KOSPI tercatat turun tajam ke level 2.580, merosot sekitar 2,5% dari penutupan sebelumnya. Kondisi ini menandai pelemahan paling dalam dalam sepekan terakhir, mencerminkan kepanikan investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan risiko keamanan regional.

Kekhawatiran utama pasar berpusat pada eskalasi konflik antara Israel dan Hamas yang kembali memanas setelah serangan rudal lintas batas akhir pekan lalu. Harga minyak mentah global melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan, menembus 84 dolar AS per barel, yang memicu kekhawatiran inflasi dan penurunan daya beli di negara pengimpor energi seperti Korea Selatan. Sektor teknologi dan manufaktur yang sangat bergantung pada stabilitas rantai pasok global menjadi korban utama aksi jual investor.

Analisis Dampak dan Sektor Terdampak

Penurunan bursa Seoul tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh kekhawatiran domestik atas perlambatan ekonomi Tiongkok yang memperburuk sentimen. Kombinasi risiko geopolitik dan perlambatan mitra dagang utama menciptakan tekanan ganda. "Kami melihat investor asing melakukan aksi jual besar-besaran, terutama di saham-saham siklikal dan teknologi," ujar analis pasar dari KB Securities, Lee Jae-won. "Ketidakpastian konflik membuat proyeksi laba perusahaan menjadi sulit diprediksi."

Data perdagangan menunjukkan saham raksasa semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun 3,1% dan 4,2%. Saham energi alternatif dan pertahanan justru mencatat kenaikan terbatas karena investor mencari lindung nilai. Volume perdagangan melonjak 40% dibandingkan rata-rata sepekan, menandakan kepanikan yang meluas. Sektor perbankan dan properti juga ikut tertekan karena ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

Perbandingan Kinerja Indeks Asia (2 September 2024, pukul 11.00 WIB)
Indeks Perubahan (%) Level
KOSPI (Korea Selatan) -2,5% 2.580
Nikkei 225 (Jepang) -1,8% 38.200
Shanghai Composite (Tiongkok) -1,2% 3.120
Hang Seng (Hong Kong) -2,1% 17.450

Ketegangan Timur Tengah diperkirakan akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah, sehingga volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi. Bank sentral Korea Selatan mengisyaratkan kesiapan melakukan intervensi pasar obligasi jika gejolak meluas ke sektor keuangan. sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Korea tenor 10 tahun naik 8 basis poin ke 3,75% karena investor melepas aset berisiko.

Dari sisi fundamental, ekonomi Korea Selatan yang bergantung pada ekspor menghadapi risiko ganda: melemahnya permintaan global dan kenaikan biaya impor energi. Data neraca perdagangan terbaru menunjukkan defisit melebar menjadi 4,2 miliar dolar AS pada Agustus, terburuk dalam dua tahun. "Jika konflik tidak mereda dalam beberapa pekan, kami perkirakan KOSPI bisa menguji level 2.500," tambah analis dari Mirae Asset Securities.

Pemerintah Seoul menggelar rapat darurat untuk memantau pasar dan mempertimbangkan langkah stabilisasi, termasuk perluasan batas short-selling dan injeksi likuiditas. Namun, pelaku pasar tetap waspada karena ketidakpastian politik global masih tinggi menjelang pemilu AS dan respons Iran terhadap tekanan Israel.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User