Soppeng,— Dalam jadwal dakwahnya yang padat di Tanah Paraettang, Ustadz Abdul Somad

Namun, sebelum meninggalkan wilayah Soppeng, rombongan UAS diajak menikmati suasana berbeda dari rutinitas dakwah yang melelahkan. Di tengah hamparan sawah

Soppeng,— Dalam jadwal dakwahnya yang padat di Tanah Paraettang, Ustadz Abdul Somad

Namun, sebelum meninggalkan wilayah Soppeng, rombongan UAS diajak menikmati suasana berbeda dari rutinitas dakwah yang melelahkan. Di tengah hamparan sawah yang membentang luas, terhampar sebuah destinasi kuliner yang menyuguhkan ketenangan dan kehangatan khas pedesaan. Udara segar, suara angin yang menerpa daun padi, serta panorama hijau yang menenangkan jiwa, menjadi latar sempurna bagi sebuah pertemuan yang jauh dari kesan formal dan kaku.

Jamuan Sederhana di Singgah Sawah Timusu

Pilihan Bupati Soppeng, H. Suardi Haseng, untuk menjamu UAS jatuh pada Singgah Sawah Timusu yang berlokasi di Desa Timusu, Kecamatan Liliriaja. Tempat makan ini bukan sekadar warung biasa; ia telah menjelma sebagai ikon kuliner yang memadukan cita rasa lokal dengan keindahan alam terbuka. Setiap pengunjung yang datang akan disambut oleh pemandangan persawahan yang memanjakan mata, sebuah kemewahan sederhana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.

Di atas meja kayu yang sederhana, tersaji hidangan khas yang menjadi andalan tempat tersebut. UAS tampak menikmati santap siangnya dengan lahap, menyantap bebek goreng yang gurih dan renyah, serta bebek palekko dengan bumbu khas yang meresap hingga ke tulang. Sementara itu, Bupati Suardi yang duduk berseberangan memilih menu favoritnya setiap berkunjung ke lokasi itu: ayam goreng dan ikan nila goreng yang disajikan dengan sambal dan lalapan segar. Suasana makan siang itu terasa begitu akrab, jauh dari protokol kenegaraan yang biasa menyelimuti pertemuan pejabat dengan tamu terhormat.

Obrolan Hangat Soal Potensi Daerah dan Inspirasi Keagamaan

Di balik suapan-suapan santap siang yang sederhana, percakapan pun mengalir deras bak sungai kecil di antara pematang sawah. Bupati Suardi Haseng memanfaatkan kesempatan emas ini untuk memperkenalkan berbagai potensi dan keunggulan Kabupaten Soppeng kepada UAS. Dari sumber daya alam hingga potensi wisata religius, sang bupati menyampaikan visinya dengan penuh semangat, seolah ingin menunjukkan bahwa Soppeng bukanlah sekadar daerah transit, melainkan wilayah yang kaya akan khazanah budaya dan spiritualitas.

"Ceramah beliau sering saya dengarkan sebelum tidur," ujar Bupati Suardi Haseng dengan tulus. Ia mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari setiap tausiyah yang disampaikan UAS, terutama dalam menghadapi tantangan kepemimpinan di tengah kompleksitas masyarakat modern. Rasa hormat dan kekaguman terhadap sang ustadz terpancar jelas dari setiap kata yang diucapkannya, menciptakan suasana keakraban yang begitu terasa di antara keduanya.

Tak hanya membahas soal pembangunan dan pemerintahan, keduanya juga berbagi cerita serta pengalaman religius. Tawa lepas dan anggukan mengerti saling bersahutan, menandakan bahwa pertemuan ini lebih dari sekadar jamuan resmi. Dalam kerendahan hati, Bupati Suardi tampak seperti seorang murid yang sedang berjumpa guru kesayangannya, sementara UAS mendengarkan dengan perhatian penuh, sesekali menyelipkan nasihat dan candaan yang membuat suasana semakin cair.

Apresiasi UAS atas Kehangatan Soppeng

Menjelang akhir pertemuan, UAS mengucapkan terima kasih atas keramahan dan jamuan yang disuguhkan Bupati Suardi. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, ia mengaku sangat menikmati tidak hanya sajian kuliner yang lezat, tetapi juga suasana alam terbuka yang menjadi ciri khas tempat itu. Bagi seorang pendakwah yang menghabiskan banyak waktu di atas panggung dan di dalam ruangan, kesempatan bersantai di tengah sawah hijau adalah anugerah yang menyegarkan pikiran dan jiwa.

"Pandangan sawah yang luas membuat tempat ini sangat menyenangkan," ucap UAS sambil menatap ke arah hamparan hijau yang berombak pelan. Ujaran itu disampaikan sebelum ia bersiap melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Sinjai, tempat selanjutnya yang menanti lantunan dakwahnya.

Kepergian UAS dari Soppeng meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Pertemuan sederhana di Singgah Sawah Timusu bukan sekadar jamuan makan siang biasa, melainkan simbol silaturahmi yang menghubungkan hati antara seorang pemimpin daerah dan tokoh agama. Di tengah gemerincik air sawah dan desiran angin, terukir sebuah momen bahwa kebersamaan tidak selalu memerlukan gedung megah atau hidangan mewah; kesederhanaan, kejujuran, dan kebersamaanlah yang membentuk kenangan terindah.

Perjalanan dakwah UAS memang masih panjang, namun singgahan sejenak di Soppeng telah membuktikan bahwa keramahan dan kehangatan masyarakat Bugis-Makassar tetap menjadi daya tarik tersendiri. Bagi para penggemar dan jemaahnya, momen ini juga menjadi pengingat bahwa di balik sosok yang tegas di atas mimbar, UAS tetaplah manusia biasa yang menghargai sebuah hidangan bebek goreng panas di tepi sawah, bersama seorang bupati yang rendah hati.

[SOCIAL_TWEET]: UAS singgah di Soppeng & dijamu Bupati Suardi m

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rangga-pradana

Content Creator. Mengelola konten viral, podcast, dan video pendek.

Comments (0)

User