SOPPENG — Musriadi Luncurkan SI KEREN demi Transparansi Regulasi Daerah

Di tengah cermin kabupaten yang masih menyimpan jejak birokrasi konvensional, Rabu, 19 November 2025, menjadi hari bersejarah bagi Kabupaten Soppeng. Kepal

SOPPENG — Musriadi Luncurkan SI KEREN demi Transparansi Regulasi Daerah

Di tengah cermin kabupaten yang masih menyimpan jejak birokrasi konvensional, Rabu, 19 November 2025, menjadi hari bersejarah bagi Kabupaten Soppeng. Kepala Bagian Hukum Setda Soppeng, Musriadi, SH.MM, secara resmi meluncurkan sebuah wadah digital yang bakal mengubah wajah tata kelola peraturan daerah. Aplikasi bernama Sistem Informasi Koordinasi Regulasi Daerah Soppeng atau yang lebih familier disapa SI KEREN DARI SOPPENG itu bukan sekadar platform biasa. Ia adalah manifestasi nyata bahwa pemerintahan daerah kini tak lagi ingin terjebak dalam pusaran kertas dan stempel yang memperlambat roda pemerintahan.

Peluncuran tersebut bukan datang dari ruang kosong. Ia merupakan bagian integral dari tahapan implementasi Aksi Perubahan yang diwajibkan dalam program Pendidikan Kepemimpinan Administrator (PKA LAN) Angkatan XIX Tahun 2025. Program yang digagas oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) ini memang selalu menuntut para pesertanya untuk menghadirkan perubahan nyata di instansi masing-masing, bukan sekadar modifikasi administratif yang hiasan. Melalui SI KEREN DARI SOPPENG, Musriadi membuktikan bahwa pendidikan kepemimpinan bukan hanya soal ijazah dan nota akademik, melainkan soal keberanian menggores sejarah baru di tanah kelahiran.

Inovasi Digital untuk Tata Kelola Hukum

Aplikasi ini dirancang sebagai platform koordinasi regulasi daerah yang terpadu. Artinya, seluruh unit kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Soppeng kini memiliki satu pintu gerbang digital untuk menyusun, mengkaji, dan mengoordinasikan setiap tahapan pembentukan peraturan daerah. Bayangkan betapa ribetnya proses harmonisasi rancangan peraturan kepala daerah (perbup) atau rancangan peraturan daerah (raperda) jika masih mengandalkan pengiriman berkas fisik antar-meja yang bisa memakan waktu berhari-hari. Dengan kehadiran SI KEREN, jarak dan waktu tak lagi menjadi penjara bagi kelancaran pembuatan regulasi.

Namun, lebih dari sekadar percepatan administrasi, aplikasi ini menyimpan misi yang lebih luhur. Musriadi secara gamblang menyebut bahwa SI KEREN DARI SOPPENG lahir sebagai inovasi untuk mempercepat dan mempermudah proses pembentukan regulasi daerah. Dalam konteks tata kelola pemerintahan modern, kecepatan bukan lagi lux, melainkan kebutuhan dasar. Masyarakat tak bisa lagi menunggu berbulan-bulan hanya untuk sebuah peraturan yang seharusnya bisa dirampungkan dalam hitungan pekan. Inilah mengapa transformasi digital dalam ranah hukum menjadi sangat vital.

"Kehadiran SI KEREN DARI SOPPENG diharapkan dapat menjadi tonggak baru dalam layanan regulasi yang lebih efisien dan akuntabel di Kabupaten Soppeng. Kami ingin semua pihak, dari perangkat daerah hingga masyarakat umum, bisa merasakan transparansi yang sesungguhnya."

Kata-kata tersebut mengalun dari Musriadi dengan keyakinan yang tulus. Ia menyadari bahwa regulasi daerah seringkali dianggap sebagai wilayah eksklusif birokrat, sulit diakses, dan penuh teka-teki. Padahal, peraturan daerah adalah produk hukum yang paling dekat dengan napas kehidupan warga. Dari izin usaha hingga tata ruang, dari pajak daerah hingga pendidikan, semuanya diatur di sana. Oleh karena itu, membuka akses informasi hukum bagi pemangku kepentingan hingga masyarakat umum bukan hanya bagian dari kewajiban publik, melainkan juga sebuah bentuk penghormatan terhadap hak warga negara untuk tahu.

Pelatihan Berkelanjutan dan Implementasi

Setelah momen peluncuran yang penuh harap, langkah berikutnya justru menjadi ujian sesungguhnya. Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan aplikasi bagi seluruh perangkat daerah. Bukan sekadar demo singkat yang berakhir dalam dua jam, melainkan sebuah program bimbingan yang bakal digelar secara berkelanjutan. Komitmen ini menunjukkan bahwa Pemkab Soppeng memahami satu hal mendasar: teknologi tanpa pemahaman pengguna adalah monumen kosong.

Setiap unit kerja, mulai dari dinas terkait hingga badan-badan pembantu, akan mendapatkan pendampingan teknis agar mampu memanfaatkan seluruh fitur SI KEREN DARI SOPPENG dengan optimal. Dalam praktiknya, pelatihan berkelanjutan ini akan mencakup simulasi pengajuan naskah akademik, tindak lanjut harmonisasi, hingga publikasi draft regulasi yang terbuka untuk masukan publik. Dengan demikian, aplikasi ini tidak hanya menjadi alat internal birokrasi, tetapi juga jembatan komunikasi antara pemerintah dan warga.

Di era di mana istilah open government sering terdengar seperti jargon politis, Soppeng justru memilih untuk mewujudkannya lewat infrastruktur digital yang konkret. Tidak ada lagi alasan bagi perangkat daerah untuk menyimpan rapuhnya proses pembentukan regulasi di balik dinding tembok kantor. Semua jejak digital akan terekam, setiap tahapan bisa dipantau, dan akuntabilitas pun terbangun secara alami dari sistem itu sendiri.

Menuju Pemerintahan Terbuka dan Akuntabel

Langkah Musriadi dan jajarannya ini sejatinya mencerminkan kesadaran kolektif bahwa transparansi bukan hadiah yang diberikan pemerintah kepada rakyat, melainkan kewajiban mutlak dalam demokrasi. Ketika regulasi daerah bisa diakses dengan mudah, ketika proses pembentukannya bisa dipantau secara real-time, dan ketika setiap masukan dari publik bisa terserap dalam sistem, maka lahirlah sebuah ekosistem hukum yang partisipatif.

Tentu saja, perjalanan menuju transformasi penuh masih panjang. Akan ada tantangan berupa resistensi terhadap perubahan, keterbatasan infrastruktur internet di pelosok, hingga perluasan literasi digital bagi masyarakat. Namun, setidaknya, pada Rabu itu, Soppeng telah menegaskan sikapnya: regulasi daerah kini serba digital, dan babak baru transparansi telah resmi dibuka. SI KEREN DARI SOPPENG bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan pintu gerbang yang mengundang seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menjaga agar hukum di negeri ini tak lagi dingin dan tertutup, melainkan hidup, terbuka, dan milik bersama.

Soppeng kini memiliki alatnya. Tinggal bagaimana semangat reformasi birokrasi ini terus ditajamkan hingga ke level paling dasar pelayanan publik. Jika konsistensi terjaga, bukan tidak mungkin kabupaten di Sulawesi Selatan ini akan menjadi rujukan bagi daerah-daerah lain yang hendak melakukan lompatan serupa dalam tata kelola regulasi.