Tangsel Sulap Kampung Kota Keranggan Jadi Kawasan Layak Huni
Wajah permukiman padat di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, perlahan mulai berbenah. Deretan rumah semipermanen yang dulu hanya terhubung gang tanah kini disambangi proyek perbaikan infrastruktur d...
Wajah permukiman padat di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, perlahan mulai berbenah. Deretan rumah semipermanen yang dulu hanya terhubung gang tanah kini disambangi proyek perbaikan infrastruktur dasar. Pemerintah Kota Tangerang Selatan menggelontorkan program penataan kawasan kampung kota untuk mengangkat kualitas hidup warga yang selama ini minim akses fasilitas memadai.
Pembangunan difokuskan pada elemen paling fundamental: jalan lingkungan, saluran drainase, dan penerangan umum. Gang-gang sempit yang becek saat hujan mulai dilapis beton. Parit-parit dangkal yang kerap meluap diperlebar dan diperdalam agar aliran air lancar. Tiang-tiang lampu dipasang di titik-titik strategis yang sebelumnya gelap gulita selepas magrib.
Bukan Sekadar Tambal Sulam
Kepala Dinas terkait menegaskan pendekatan yang diambil bukan sekadar perbaikan parsial. Konsep penataan kampung kota menyasar seluruh aspek permukiman secara terintegrasi. Mulai dari akses jalan yang layak dilalui kendaraan darurat, sanitasi yang memenuhi standar kesehatan, hingga ruang-ruang interaksi warga. "Kami tidak ingin sekadar mempercantik permukaan lalu masalah lama muncul lagi musim hujan berikutnya," ujar seorang pejabat teknis yang memantau langsung pengerjaan di lapangan.
Salah satu titik krusial adalah bantaran kali kecil yang membelah permukiman. Di sana, dinding penahan tanah dibangun sepanjang puluhan meter untuk mencegah longsor dan abrasi tepi sungai. Di atasnya dibentangkan jalan inspeksi selebar dua meter. Warga yang rumahnya tepat di bibir sungai kini punya akses lebih aman, sementara risiko ambles saat debit air naik bisa diminimalkan.
Warga: "Akhirnya Dilewati Ambulans"
Sentimen lega paling kentara datang dari warga lanjut usia dan keluarga dengan balita. Seorang warga RT 03 mengisahkan bagaimana ambulans dulu tak pernah bisa masuk hingga depan rumah. Pasien harus digotong pakai tandu darurat sejauh 200 meter menuju jalan besar. "Sekarang alhamdulillah sudah bisa tembus. Kemarin tetangga yang mau melahirkan langsung naik mobil dari depan rumah," kenangnya.
Akses yang terbuka juga memangkas ongkos logistik harian. Tukang gas, penjual sayur keliling, hingga ojek online kini masuk sampai gang terdalam. Sebelumnya warga harus berjalan kaki cukup jauh sekadar membeli kebutuhan pokok. Efek domino ini tak direncanakan secara khusus, tapi jadi bukti bahwa infrastruktur dasar membuka simpul isolasi sosial dan ekonomi.
Jalan Panjang Menuju Kampung Layak
Penataan kampung kota di Keranggan merupakan bagian dari program yang lebih luas. Tangerang Selatan memiliki puluhan titik serupa yang mengantre untuk disentuh. Kriteria prioritas meliputi kepadatan penduduk, kerentanan banjir, dan minimnya akses dasar. Proyek di Setu ini diharapkan jadi template yang bisa direplikasi di lokasi lain.
Meski progres di lapangan mulai terlihat, persoalan belum sepenuhnya tuntas. Warga menyampaikan kebutuhan tambahan seperti jaringan air bersih perpipaan dan pengelolaan sampah terpadu. Saat musim kemarau, sumur-sumur dangkal mengering dan warga harus membeli air tangki dengan harga selangit. "Jalan sudah bagus, lampu sudah terang. Tinggal air bersih yang kami tunggu-tunggu," ujar ibu rumah tangga lainnya.
Dinilai dari sudut perencanaan kota, intervensi di Keranggan menunjukkan pergeseran paradigma. Alih-alih menggusur dan merelokasi, pemerintah memilih memperkuat kampung dari dalam. Pendekatan ini dianggap lebih manusiawi dan tidak memutus jejaring sosial yang sudah terbentuk puluhan tahun. Pertanyaannya tinggal seberapa konsisten anggaran dan perhatian politik bisa dijaga agar perubahan ini bukan sekadar euforia sesaat.
Comments (0)