warkini.
Travel

Tren Ozempic dan Sydney Sweeney Sinyalkan Kemunduran Standar Feminisme Modern

Jika kamu aktif menggulirkan linimasa TikTok atau Instagram dalam beberapa bulan terakhir, ada satu fenomena menarik yang sulit diabaikan. Perbincangan pub

Tren Ozempic dan Sydney Sweeney Sinyalkan Kemunduran Standar Feminisme Modern

Jika kamu aktif menggulirkan linimasa TikTok atau Instagram dalam beberapa bulan terakhir, ada satu fenomena menarik yang sulit diabaikan. Perbincangan publik kini diwarnai oleh kepopuleran luar biasa dari obat pelangsing berwajah baru hingga sorotan tajam pada aktris Hollywood, Sydney Sweeney. Banyak warganet dan pengamat budaya mulai bertanya-tanya: apakah kita sedang menyaksikan kemunduran perjuangan feminisme dan pencapaian body positivity?

Pergeseran ini bukan sekadar urusan gaya hidup atau penampilan fisik belaka. Di balik istilah populer seperti “Ozempic face” dan estetika Y2K yang kembali memuncak, ada dorongan sosial yang kuat untuk kembali memeluk standar kecantikan masa lalu—di mana tubuh sangat kurus (*extreme thinness*) dan pembentukan citra perempuan yang mengedepankan daya tarik seksual konvensional kembali mendominasi panggung utama.

Tren Tubuh Super Kurus dan Fenomena Ozempic

Penggunaan Ozempic—obat yang sejatinya diperuntukkan bagi penderita diabetes tipe 2—telah bergeser menjadi tren gaya hidup ekstrem di kalangan selebritas dan pembuat konten. Obat ini memicu penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat, menghidupkan kembali estetika kurus ala 1990-an (*heroin chic*) yang sempat ditinggalkan demi keberagaman bentuk tubuh.

Para kritokus menilai fenomena ini sebagai sinyal bahaya bahwa gerakan body positivity yang dibangun selama lebih dari satu dekade mulai tergerus secara perlahan. Masyarakat kembali dihadapkan pada tekanan bahwa tubuh ramping dan sangat kurus adalah tolok ukur utama dari kecantikan ideal.

Era / Dekade Fokus Standar Kecantikan Dampak Sosial
2010-an (Body Positivity) Inklusivitas ukuran tubuh, bentuk alami, keberagaman Penerimaan diri meningkat, kampanye merek lebih inklusif
2020-an (Era Ozempic & Y2K) Tubuh sangat ramping (*extreme thinness*), estetika serba minim Kembalinya kecemasan bentuk tubuh, tekanan penampilan ekstrem

Sydney Sweeney dan Dialektika Seksualisasi Perempuan

Di sisi lain, nama aktris Sydney Sweeney melambung bukan hanya karena bakat beraktingnya dalam serial populer seperti *Euphoria*, melainkan juga karena penampilannya yang merayakan lekuk tubuh feminin klasik. Kehadirannya memicu perdebatan panas di kalangan feminis modern: apakah merayakan seksualitas versi konvensional ini bentuk kebebasan berekspresi, atau justru pengulangan atas objekfikasi perempuan?

"Ada garis yang sangat tipis antara perempuan yang benar-benar memegang kendali atas seksualitasnya sendiri dengan industri budaya pop yang memanfaatkan kembali norma-norma patriarki kuno demi komersialisasi," ujar Dr. Amanda Lestari, seorang pengamat media dan gender.

Antara Pilihan Pribadi dan Kemunduran Struktural

Apakah tren ini murni bentuk kebebasan memilih bagi setiap perempuan? Sebagian pendukung berpendapat bahwa menggunakan Ozempic untuk tubuh impian atau menampilkan citra tubuh yang berani adalah hak individual yang tidak boleh dihakimi. Namun, para sosiolog mengingatkan bahwa pilihan individu tidak pernah sepenuhnya lepas dari tekanan budaya yang melingkupinya.

Ketika media sosial kembali mengagungkan bentuk tubuh ultra-ramping dan citra perempuan yang dirancang untuk memenuhi pandangan pria (*male gaze*), nilai-nilai kesetaraan yang memperjuangkan penerimaan diri seolah mundur beberapa langkah ke belakang. Fenomena Ozempic dan sorotan seksualisasi terhadap Sydney Sweeney menunjukkan betapa rapuhnya pencapaian budaya saat dihadapkan pada siklus industri kecantikan yang berulang.

Pada akhirnya, perdebatan hangat di media sosial ini mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali makna feminisme di era digital. Feminisme idealnya memberikan ruang bagi perempuan untuk merasa aman dan berharga dengan tubuh apa pun yang mereka miliki, tanpa harus terus-menerus tunduk pada standar kecantikan yang tidak realistis maupun jebakan objekfikasi yang dikemas ulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS wendy-anwar

Reporter Travel. Menjelajah destinasi Indonesia dan tips wisata.

Comments (0)

User