Kecemasan kembali menyelimuti pasar keuangan global seiring langkah para pelaku pasar dan ekonom yang kini menahan napas menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat. Laporan krusial ini diyakini bakal menjadi penentu arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan menggelar rapat penentuan suku bunga acuan pada pekan depan.
Kekhawatiran ini kian beralasan menyusul data inflasi tingkat grosir yang telah lebih dulu menunjukkan kenaikan dalam sepekan terakhir. Jika inflasi konsumen tetap bertahan di level tinggi, The Fed hampir pasti tidak memiliki pilihan selain kembali mengerek suku bunga ke level yang lebih ketat.
Kronologi Lonjakan Harga dan Krisis Energi Global
Gelombang inflasi yang menghantam perekonomian Negeri Paman Sam kali ini tidak terlepas dari rangkaian konflik geopolitik internasional yang memicu kenaikan harga energi global secara beruntun:
- Akhir Februari: Terjadinya eskalasi militer melalui serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Iran.
- Respons Balasan: Teheran merespons aksi tersebut dengan melakukan blokade di Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak mentah paling vital di dunia.
- Lonjakan Energi: Pasokan yang tersendat membuat harga minyak mentah internasional melambung tinggi, memicu kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU seluruh wilayah AS.
- Dampak Domestik: Lonjakan harga energi langsung mengerek ongkos logistik, menaikkan biaya operasional bisnis, serta membebani daya beli rumah tangga secara signifikan.
Prediksi Angka CPI dan Target Inflasi The Fed
Berdasarkan konsensus ekonom yang dirilis oleh MarketWatch, inflasi tahunan AS untuk bulan Agustus diproyeksikan bertengger di angka 3,4 persen (year-on-year). Angka tersebut sama persis dengan realisasi pada bulan Juli lalu. Meski tidak mengalami kenaikan tajam secara bulanan, capaian ini dinilai masih terlampau jauh di atas target jangka panjang The Fed yang dipatok di level 2,0 persen.
"Laporan hari Jumat akan mengunci keputusan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September. Jika data keluar sesuai ekspektasi atau bahkan lebih tinggi, kenaikan suku bunga sudah pasti terjadi," ungkap Heather Long, Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union.
Gesekan dengan Donald Trump Jelang Pemilu
Rencana pengetatan moneter ini dipastikan memicu ketegangan politik tingkat tinggi. Presiden Donald Trump secara terbuka terus menekan The Fed agar segera memangkas suku bunga guna meringankan beban biaya hidup masyarakat menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections). Trump bahkan melontarkan ancaman mengejutkan untuk memutus hubungan dagang dengan sejumlah negara jika suku bunga tidak segera diturunkan.
Kendati demikian, para analis meyakini The Fed akan tetap menjaga independensinya demi meredam inflasi:
- Fokus pada Inflasi Inti: Kepala Ekonom EY Parthenon, Gregory Daco, memperkirakan para pembuat kebijakan akan lebih memusatkan perhatian pada inflasi inti (core inflation) yang mengecualikan sektor pangan dan energi yang fluktuatif.
- Tekanan Politik Diabaikan: Diane Swonk, Kepala Ekonom KPMG, menegaskan The Fed kemungkinan besar tetap menaikkan suku bunga jangka pendek sebelum akhir tahun meski berada di bawah tekanan politik Gedung Putih.
Comments (0)