Waskita Karya Tuntaskan 29 Bendungan dalam Satu Dekade
PT Waskita Karya (Persero) Tbk menorehkan catatan penting dalam sejarah infrastruktur Indonesia. Sepanjang satu dekade terakhir, perusahaan pelat merah ini
PT Waskita Karya (Persero) Tbk menorehkan catatan penting dalam sejarah infrastruktur Indonesia. Sepanjang satu dekade terakhir, perusahaan pelat merah ini berhasil merampungkan pembangunan 29 bendungan strategis di berbagai wilayah Tanah Air. Capaian ini menegaskan peran Waskita Karya sebagai mitra utama pemerintah dalam mewujudkan ketahanan air nasional, sekaligus membuka nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Jejak Panjang Pembangunan Bendungan
Perjalanan monumental ini dimulai dari desain teknis hingga pengelolaan operasional. Berikut tonggak penting penyelesaian bendungan dalam satu dekade:
- 2016-2017: Bendungan Raknamo di NTT dan Bendungan Jatigede di Jawa Barat menjadi proyek awal yang memperkuat kapasitas tampung air nasional.
- 2018-2019: Bendungan Ladongi (Sulawesi Tenggara), Bendungan Leuwikeris (Jawa Barat), dan Bendungan Way Sekampung (Lampung) selesai tepat waktu.
- 2020-2021: Meski pandemi, Waskita menuntaskan Bendungan Tugu (Trenggalek), Bendungan Ciawi (Bogor), dan Bendungan Temef (NTT) dengan protokol ketat.
- 2022-2023: Bendungan Margatiga (Lampung), Bendungan Meninting (NTB), dan Bendungan Tanju (NTB) menambah daftar infrastruktur vital.
- 2024-hingga kini: Bendungan Cijurey, Bendungan Pelosika, dan Bendungan Pamukkulu masuk tahap finishing; total 29 bendungan telah beroperasi penuh.
Dampak Multidimensi bagi Masyarakat
Kehadiran 29 bendungan ini tidak sekadar menampung air. Data Kementerian PUPR menunjukkan bahwa bendungan-bendungan itu mampu mengairi lebih dari 120.000 hektare sawah baru, mengurangi risiko banjir di 42 kota/kabupaten, serta menyediakan air baku bagi 15 juta penduduk. Selain itu, PLTA yang terintegrasi di sejumlah bendungan menghasilkan total 1.200 megawatt listrik, mendukung percepatan transisi energi bersih.
“Kami tidak hanya membangun konstruksi, tetapi juga ekosistem kehidupan. Setiap bendungan memunculkan klaster ekonomi baru—dari pariwisata, perikanan darat, hingga UMKM pengolahan hasil tani,” ujar Direktur Utama Waskita Karya dalam keterangan persnya.
Tantangan Teknis dan Inovasi
Membangun 29 bendungan di geografis Indonesia yang beragam bukan perkara mudah. Waskita menghadapi medan curam di perbukitan kapur NTT, curah hujan tinggi di Lampung, hingga potensi gempa di Sulawesi. Perusahaan menerapkan teknologi Building Information Modeling (BIM) untuk akurasi desain, serta sistem kontrol kualitas real-time berbasis digital. Inovasi ini memangkas waktu proyek rata-rata 15% dari jadwal normal dan menekan biaya operasional.
Selama konstruksi, Waskita juga merekrut lebih dari 45.000 tenaga kerja lokal, memberikan pelatihan bersertifikat yang meningkatkan daya saing SDM daerah. Langkah ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Pijakan Menuju Kedaulatan Air
Penuntasan 29 bendungan menjadi fondasi penting bagi program Kedaulatan Air 2045 yang dicanangkan pemerintah. Saat ini Waskita tengah mengkaji tiga proyek bendungan baru di Kalimantan dan Papua, dengan fokus pada integrasi jaringan irigasi cerdas dan konservasi daerah aliran sungai hulu. “Kami tidak berhenti di sini. Target kami adalah memastikan setiap tetes air Indonesia memberi manfaat maksimal,” tutup direktur tersebut.
[SOCIAL_TWEET]: PT Waskita Karya tuntaskan 29 bendungan dalam satu dekade, dukung ketahanan air nasional. Irigasi 120.000 ha, listrik 1.200 MW, dan jutaan penduduk terlayani. #InfrastrukturIndonesia #WaskitaKarya #BendunganStrategis[SOCIAL_TG]: 💧 Waskita Karya menuntaskan 29 bendungan dalam satu dekade! Dari NTT hingga Sulawesi, proyek ini menyediakan air baku untuk 15 juta jiwa dan 1.200 MW listrik. Indonesia makin kuat! 🇮🇩
Comments (0)