40 Tahun Jual Nasi Lemak Rp14 Ribuan, Penjual Ini Pantang Naikkan Harga
Di tengah laju inflasi dan kenaikan biaya hidup yang tak terbendung, sebuah kedai nasi lemak di kawasan Toa Payoh, Singapura, justru memilih jalan berbeda. Selama 40 tahun, pemiliknya bertahan dengan
Di tengah laju inflasi dan kenaikan biaya hidup yang tak terbendung, sebuah kedai nasi lemak di kawasan Toa Payoh, Singapura, justru memilih jalan berbeda. Selama 40 tahun, pemiliknya bertahan dengan banderol harga SGD 1—atau sekitar Rp14 ribuan—dan pantang menaikkannya meskipun tekanan ekonomi terus menghimpit.
Kedai sederhana bernama Makan Muhajirin yang berlokasi di Lorong 7 Toa Payoh itu telah melewati berbagai badai ekonomi. Dari krisis finansial global 2008, melonjaknya harga pangan dunia, hingga dampak pandemi yang memukul sektor usaha kecil—semua dilewati tanpa sedikit pun mengubah harga jualan.
Kini, tongkat estafet pengelolaan kedai telah berpindah ke tangan generasi kedua, Mohamed Hajirin Mohd Tahir. Pria ini mewarisi bukan sekadar resep dan peralatan dapur, melainkan juga filosofi bisnis yang dipegang teguh oleh pendahulunya: makanan terjangkau adalah hak semua orang, bukan sekadar komoditas yang diperdagangkan demi laba semata.
Menantang Arus Ekonomi
Keputusan mempertahankan harga selama hampir empat dekade tentu bukan tanpa konsekuensi. Sewa lapak di pusat jajanan terus meningkat setiap tahun, begitu pula harga beras, santan, cabai, ikan bilis, dan bahan-bahan lain yang menjadi jantung dari sepiring nasi lemak. Namun, Mohamed Hajirin tetap kukuh pada pendiriannya.
Bagi banyak pelanggan setia kami, sepiring nasi lemak seharga SGD 1 bukan sekadar soal harga murah. Ini tentang akses terhadap makanan yang mengenyangkan tanpa harus menguras kantong, terutama bagi pekerja berpenghasilan rendah dan warga lanjut usia yang tinggal di sekitar Toa Payoh.
Fenomena kedai seperti Makan Muhajirin sejatinya menjadi oase di tengah gempuran inflasi Singapura yang membuat harga makanan di pusat jajanan pun ikut terdongkrak. Banyak kedai lain yang perlahan menaikkan harga hidangan mereka hingga menyentuh angka SGD 3 hingga SGD 4 per porsi. Dengan harga SGD 1, kedai ini menawarkan selisih yang sangat signifikan.
Warisan yang Tak Ternilai
Para pelanggan yang telah mengunjungi kedai ini selama puluhan tahun mengaku bukan hanya rasa yang membuat mereka terus kembali, melainkan juga konsistensi dan integritas yang dijaga pemiliknya. Menurut laporan yang dihimpun oleh Warkini.com, beberapa pelanggan bahkan rela mengantre lebih lama demi mendapatkan sepiring nasi lemak yang dibanderol dengan harga paling bersahabat di kawasan tersebut.
Strategi bertahan dengan volume penjualan tinggi rupanya menjadi kunci. Dengan harga yang sangat rendah, perputaran pelanggan terjadi sangat cepat, sehingga omzet tetap bisa menutup biaya operasional. Mohamed Hajirin juga terus menjaga kualitas agar pelanggan tidak berpaling, meskipun ada godaan untuk mengurangi porsi atau mengganti bahan dengan yang lebih murah demi menjaga margin.
Kisah kedai Makan Muhajirin ini menjadi cermin langka di era di mana hampir semua lini bisnis mengejar pertumbuhan dan keuntungan maksimal. Sebuah pengingat bahwa bisnis pangan juga bisa dijalankan dengan hati, menempatkan nilai kemanusiaan dan aksesibilitas di atas akumulasi laba. Informasi ini dilaporkan oleh Warkini.com dari wawancara dan dokumentasi yang dihimpun di Toa Payoh, Singapura.
Comments (0)