4.000 Buruh Pabrik Sepatu Nike Dirumahkan, Pengusaha Sebut Industri Tertekan

Jakarta, Warkini.com — Gelombang pemutusan hubungan kerja kembali menghantam sektor padat karya. Sebuah pabrik sepatu merek Nike di Bandung dikabarkan merumahkan sekitar 4.000 pekerjanya. Kabar ini

Jul 08, 2026 - 06:14
0 1
4.000 Buruh Pabrik Sepatu Nike Dirumahkan, Pengusaha Sebut Industri Tertekan

Jakarta, Warkini.com — Gelombang pemutusan hubungan kerja kembali menghantam sektor padat karya. Sebuah pabrik sepatu merek Nike di Bandung dikabarkan merumahkan sekitar 4.000 pekerjanya. Kabar ini memantik keprihatinan dari kalangan pengusaha yang melihat ada tekanan struktural yang kian membebani industri padat karya.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Bob Azam, mengonfirmasi bahwa sektor padat karya memang sangat rentan terhadap perubahan ekonomi dan kebijakan. Dalam keterangannya kepada wartawan di kantor APINDO, Jakarta, Selasa (23/6/2026), Bob menguraikan sejumlah tekanan yang dihadapi industri.

"Memang industri padat karya ini adalah industri yang sensitif terhadap kenaikan harga-harga. Harga-harga bahan bakar lah, kemudian harga logistik lah, kemudian juga biaya buruh lah. Mereka sensitif, sehingga sedapat mungkin kita jaga jangan sampai ada perubahan-perubahan yang sifatnya drastis,"

Bob menekankan bahwa elemen biaya seperti bahan baku, logistik, dan upah buruh ibarat trinitas yang menentukan daya tahan sektor ini. Jika salah satu bergeser tajam, efek dominonya langsung terasa hingga ke lantai produksi. Situasi itu, menurut Bob, tengah terjadi sehingga perampingan pekerja menjadi langkah terpaksa yang diambil sebagian pelaku usaha.

Laporan dari media kami mengungkapkan bahwa 4.000 buruh yang dirumahkan berasal dari pabrik sepatu Nike di kawasan Bandung. Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak perusahaan, kabar ini sudah memicu diskusi luas mengenai perlindungan tenaga kerja dan keberlanjutan industri manufaktur Tanah Air.

Bob juga menyampaikan harapannya agar pemerintah tidak menerapkan perubahan kebijakan secara mendadak. "Kepastian aturan sangat krusial. Ketika regulasi berubah drastis, dunia usaha butuh ruang adaptasi yang cukup. Tanpa itu, gejolak seperti perumahan massal bisa sulit dihindari," ujarnya. APINDO, lanjut Bob, terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk mencari solusi terbaik, termasuk upaya dialihkan ke pabrik lain atau program pelatihan ulang.

Sektor padat karya sendiri menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia. Tekanan global, melemahnya permintaan ekspor, serta kenaikan ongkos produksi domestik disebut menjadi kombinasi yang memaksa efisiensi radikal. Data APINDO memperlihatkan tren peningkatan angka perumahan di sektor garmen, alas kaki, dan tekstil selama kuartal terakhir.

Merespons kondisi tersebut, beberapa ekonom menyarankan insentif fiskal dan kemudahan bahan baku impor sebagai bantalan jangka pendek. Namun, Bob menekankan bahwa pendekatan paling mendasar adalah menjaga stabilitas harga dan beban regulasi. "Ini bukan soal satu pabrik atau satu merek. Jika fondasi iklim usaha goyah, seluruh rantai pasok terancam," tukasnya.

Warkini.com akan terus memantau perkembangan nasib para buruh pabrik sepatu Nike dan respons pemerintah maupun pelaku industri terhadap gelombang perumahan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sasha-gunawan

Editor Hiburan. Editor film, musik, dan budaya pop.

Comments (0)

User