499 Tahun Jakarta: Geliat Arisan Mampangan, Bank Mikro Ala Emak-emak Betawi

Jakarta akan genap berusia 499 tahun, namun di tengah riuh pembangunan dan penetrasi layanan keuangan digital, tradisi arisan komunitas justru tetap hidup dan bertahan sebagai strategi pengelolaan ke

Jul 08, 2026 - 00:38
0 0
499 Tahun Jakarta: Geliat Arisan Mampangan, Bank Mikro Ala Emak-emak Betawi

Jakarta akan genap berusia 499 tahun, namun di tengah riuh pembangunan dan penetrasi layanan keuangan digital, tradisi arisan komunitas justru tetap hidup dan bertahan sebagai strategi pengelolaan keuangan rumah tangga. Salah satunya adalah Arisan Mampangan, praktik kolektif yang masih dijalankan oleh emak-emak Betawi di berbagai sudut ibu kota hingga wilayah penyangga seperti Depok.

Bukan Sekadar Arisan Biasa

Arisan Mampangan bukan sekadar kumpul-kumpul rutin dengan undian uang. Ia memiliki mekanisme yang lebih terstruktur dan berfungsi layaknya bank mikro informal. Setiap anggota menyetorkan sejumlah uang secara berkala, biasanya mingguan atau bulanan, dan nantinya akan menerima kembali dana tersebut dalam bentuk paket kebutuhan pokok, parsel lebaran, atau uang tunai menjelang hari raya. Sistem ini memungkinkan para ibu rumah tangga mengamankan dana untuk pengeluaran besar yang sudah diantisipasi, tanpa harus menyimpannya sendiri yang rentan terpakai.

Bagi banyak keluarga Betawi, Arisan Mampangan adalah warisan turun-temurun yang bukan hanya menjaga stabilitas finansial, tetapi juga memperkuat jejaring sosial. Setiap pertemuan menjadi ruang berbagi cerita, saling mendukung, dan mempererat ikatan antartetangga. Di balik pembukuan sederhana dan catatan setoran, tersimpan komitmen dan kepercayaan yang menjadi fondasi ketahanan ekonomi komunitas.

"Kalau nyimpen sendiri di rumah mah suka kepake buat kebutuhan dadakan. Kalau udah setor di arisan, rasanya kayak tertib sendiri. Pas mejelang Lebaran, duitnya utuh, bisa belanja kebutuhan dengan tenang," ujar Rukiyah (52), salah satu peserta Arisan Mampangan di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, kepada Warkini.com.

Keberadaan Arisan Mampangan menjadi bukti bahwa literasi keuangan masyarakat tidak melulu bersandar pada institusi formal. Mekanisme gotong royong ini telah menjadi bank mikro tanpa bunga, tanpa agunan, dan tanpa biaya administrasi, yang justru lebih cocok bagi kantong keluarga prasejahtera yang mungkin kesulitan mengakses layanan perbankan atau takut terjerat pinjaman online.

Bertahan di Tengah Gempuran Dompet Digital

Di era ketika dompet digital dan layanan paylater dengan mudah diakses lewat ponsel pintar, eksistensi Arisan Mampangan menjadi fenomena unik. Banyak anggota justru merasa lebih aman dan disiplin dengan mekanisme tatap muka dan tekanan sosial yang positif dari sesama peserta. Rasa tanggung jawab terhadap kelompok mendorong mereka untuk selalu menyetor tepat waktu, sesuatu yang tidak selalu bisa dicapai dengan pengelolaan keuangan pribadi secara mandiri.

Fleksibilitas Arisan Mampangan juga memungkinkan penyesuaian jumlah setoran sesuai kemampuan ekonomi anggota. Jika ada peserta yang mengalami kesulitan, biasanya kesepakatan dapat dinegosiasikan tanpa merusak keutuhan kelompok. Inilah wujud nyata ekonomi berbasis solidaritas yang telah teruji selama puluhan tahun.

Di usia Jakarta yang hampir setengah milenium, tradisi seperti Arisan Mampangan tidak hanya menjadi pengingat akan kearifan lokal, tetapi juga menawarkan alternatif pengelolaan keuangan inklusif yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dari gang-gang sempit di Pasar Minggu hingga permukiman padat di Depok, suara gelas dan piring yang beradu setiap pertemuan arisan menjadi ritme ekonomi yang mungkin terlalu berharga untuk hilang ditelan modernisasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rangga-pradana

Reporter Lifestyle. Reporter kuliner, travel, dan gaya hidup.

Comments (0)

User