Bahlil Tetapkan 60 Persen Gas Blok Masela untuk Kebutuhan Dalam Negeri

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa sebanyak 60 persen produksi gas dari Blok Masela akan dialokasika

Jul 17, 2026 - 03:28
0 0
Bahlil Tetapkan 60 Persen Gas Blok Masela untuk Kebutuhan Dalam Negeri
JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa sebanyak 60 persen produksi gas dari Blok Masela akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sisanya, 40 persen, diperuntukkan bagi pasar ekspor. Keputusan ini diambil untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan industri domestik. Kebijakan tersebut disampaikan Bahlil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jumat sore. Ia menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah memastikan pasokan gas untuk industri dalam negeri, terutama sektor pupuk, pembangkit listrik, dan petrokimia. "Kami ingin gas ini benar-benar bermanfaat bagi rakyat Indonesia," ujarnya.

Kebijakan Alokasi Gas yang Berbeda

Blok Masela, yang terletak di Laut Arafura, Maluku, merupakan salah satu proyek gas alam cair (LNG) terbesar di Indonesia dengan cadangan mencapai 10,73 triliun kaki kubik. Selama ini, banyak proyek migas besar hanya mewajibkan pasokan untuk domestik sebesar 25 persen, namun untuk Masela angka itu dinaikkan menjadi 60 persen.
"Biasanya DMO (Domestic Market Obligation) hanya 25 persen. Tapi untuk Blok Masela, kami tetapkan 60 persen karena pertimbangan strategis. Ini adalah bentuk keberpihakan negara terhadap kepentingan nasional," kata Bahlil.
Ia menjelaskan, besarnya alokasi domestik ini sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi. Saat ini, Indonesia masih mengimpor LNG untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa dan Sumatra. Dengan masuknya pasokan gas Masela, diperkirakan defisit gas nasional bisa ditekan secara signifikan.

Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Proyek Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 20 miliar dolar AS. Selain memperkuat pasokan energi, proyek ini juga diharapkan menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Pemerintah menargetkan produksi perdana pada 2030, dengan kapasitas penuh mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 5,7 juta ton akan diserap pasar domestik, sementara sisanya diekspor ke negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Fakta kunci: 60 persen alokasi domestik berarti sekitar 5,7 juta ton LNG per tahun akan digunakan untuk industri di dalam negeri. "Kami sudah berkoordinasi dengan PLN, PT Pupuk Indonesia, dan sektor industri lainnya agar penyerapan gas ini bisa optimal. Ini akan menjadi fondasi bagi hilirisasi dan industrialisasi di tanah air," tambah Bahlil.

Ketahanan Energi dan Kelistrikan Nasional

Salah satu sektor yang paling diuntungkan dari kebijakan ini adalah kelistrikan. PLN saat ini masih mengandalkan batu bara dan gas impor untuk beberapa pembangkit. Dengan pasokan gas murah dari Masela, biaya pokok produksi listrik diharapkan turun. Selain itu, sektor pupuk juga akan mendapat pasokan gas yang stabil. Seperti diketahui, kelangkaan pupuk sering terjadi karena harga gas yang tinggi. Dengan alokasi 60 persen, pemerintah ingin memastikan produksi pupuk dalam negeri tetap berjalan. Ketahanan energi bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan harga. Karena itu, Menteri Bahlil menegaskan bahwa harga gas Masela untuk domestik akan lebih kompetitif dibandingkan dengan harga ekspor.

Respons Publik dan Pengawasan

Kebijakan ini mendapat sambutan positif dari kalangan industri dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Industri Petrokimia, Arief Hidayat, menyebut langkah ini sebagai terobosan yang lama ditunggu. "Kami berharap realisasinya tepat waktu dan tidak ada kendala infrastruktur," katanya. Namun, pengamat energi dari Universitas Indonesia, Fahmy Radhi, mengingatkan perlunya pengawasan ketat. "Jangan sampai gas yang dijanjikan untuk domestik malah dijual ke luar negeri dengan dalih kelebihan pasokan. Transparansi diperlukan," ujarnya. Pemerintah pun berjanji akan membentuk tim pengawas khusus untuk memantau realisasi DMO Blok Masela. [SOCIAL_FB]: Menteri ESDM Bahlil resmi mengumumkan alokasi 60 persen produksi gas Blok Masela untuk kebutuhan dalam negeri. Kebijakan ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah DMO migas Indonesia. Simak dampaknya bagi industri dan ekonomi nasional di artikel selengkapnya. [SOCIAL_THREADS]: Apa arti kebijakan 60% alokasi gas Masela untuk domestik? Mulai dari pengurangan impor energi, penurunan harga listrik, hingga stabilitas pasokan pupuk. Baca thread selengkapnya di artikel ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User