Pemerintah Kabupaten Bangli, Bali, terus memutar otak untuk mengikis persoalan gagal tumbuh kembang anak atau stunting. Kendati secara keseluruhan tren di wilayah berhawa sejuk ini memperlihatkan kurva penurunan yang menggembirakan, pekerjaan rumah besar nyatanya masih menumpuk di tingkat akar rumput. Berdasarkan pendataan berkala Dinas Kesehatan setempat, terdapat tiga desa yang saat ini masih mencatatkan prevalensi kasus cukup mencolok.
Data Penimbangan Balita Menunjukkan Angka Kritis
Kondisi riil di lapangan tersebut terpotret jelas dari hasil evaluasi penimbangan balita yang dihimpun otoritas kesehatan daerah hingga pertengahan tahun ini. Dari total desa yang tersebar di wilayah Bangli, tiga desa menjadi perhatian khusus karena angka prevalensinya melampaui ambang batas rata-rata:
- Desa Batukaang: Menempati posisi teratas dengan prevalensi stunting mencapai 36,36 persen. Dari total 11 balita yang menjalani penimbangan, sebanyak 4 anak terindikasi mengalami stunting.
- Desa Gunungbau: Berada di urutan kedua dengan catatan prevalensi sebesar 35,90 persen, di mana 14 dari 39 balita yang diperiksa terindikasi stunting.
- Desa Belanga: Mencatatkan angka prevalensi sebesar 33,33 persen, dengan temuan 11 kasus dari total 33 balita yang terdata.
Kondisi ini mengharuskan jajaran dinas terkait untuk tidak lekas berpuas diri, mengingat persentase tersebut menunjukkan lebih dari sepertiga balita di kantong-kantong desa itu berisiko kehilangan masa emas pertumbuhannya jika tidak segera ditangani secara intensif.
Capaian Daerah Menurun di Tengah Tantangan
Catatan merah di tiga desa tersebut kontras dengan capaian makro Kabupaten Bangli. Berdasarkan data Prevalensi Stunting Provinsi Bali, Kabupaten Bangli justru tercatat sebagai salah satu daerah yang berhasil memangkas angka kasus secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Prevalensi stunting di Bangli berhasil ditekan dari angka 10,2 persen pada 2023 menjadi 8,3 persen pada 2024. Penurunan ini menempatkan Bangli sejajar dengan Kabupaten Jembrana dan Gianyar sebagai daerah yang mampu membalikkan tren di saat beberapa wilayah lain justru mengalami kenaikan.
“Bangli bersama Jembrana dan Gianyar menjadi kabupaten yang stuntingnya turun saat yang lain naik, tapi kita tetap bertugas menurunkan angka tersebut sampai ke tingkat paling bawah,” tegas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB) Bangli, I Dewa Agung Putu Purnama.
Pola Asuh dan Sanitasi Jadi Pemicu Utama
Membongkar akar masalah di Desa Batukaang, Gunungbau, dan Belanga, Agung Purnama menjelaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dipandang melulu dari kacamata kemiskinan atau daya beli keluarga. Faktor non-ekonomi justru memegang peranan yang sangat dominan di lingkungan keluarga.
- Pola Asuh Orang Tua: Banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami konsep pemenuhan gizi seimbang serta cara mengolah bahan pangan lokal secara tepat agar nilai nutrisinya tidak hilang.
- Sanitasi dan Lingkungan: Akses terhadap air bersih dan jamban sehat yang belum merata kerap memicu infeksi berulang pada anak, sehingga penyerapan nutrisi makanan menjadi terganggu.
- Literasi Kesehatan Ibu dan Anak: Rendahnya kesadaran untuk memeriksakan kehamilan secara teratur dan memantau tumbuh kembang balita di posyandu secara berkala.
Guna mengatasi persoalan ini, Pemkab Bangli kini merancang intervensi lintas sektor yang menyasar langsung edukasi keluarga, perbaikan sarana sanitasi lingkungan, hingga pendampingan gizi spesifik melalui kader posyandu di tiga desa prioritas tersebut.
Comments (0)