warkini.
Viral

Bayi Meninggal Diduga karena Sulit Tebus Obat, RSUD Bima Buka Suara

BIMA — Seorang bayi laki-laki berusia dua hari meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima, Nusa Tenggara Barat. Kematian tersebut diduga kuat akibat orang tua yang menghadapi kendala me

Bayi Meninggal Diduga karena Sulit Tebus Obat, RSUD Bima Buka Suara

BIMA — Seorang bayi laki-laki berusia dua hari meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima, Nusa Tenggara Barat. Kematian tersebut diduga kuat akibat orang tua yang menghadapi kendala menebus obat, karena sang bayi belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Peristiwa ini mencuat setelah keluarga korban menyampaikan keluhannya kepada media kami.

Pasangan suami istri, Arif Rahman (28) dan Fitriani (20), warga Desa Tolo Uwi, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, kehilangan buah hati mereka yang lahir dalam kondisi normal di Puskesmas Monta pada Jumat (19/6) petang. Namun, beberapa jam setelah lahir, bayi tersebut mengalami penurunan kesehatan yang drastis, sehingga dirujuk ke RSUD Bima pada malam harinya. Perwakilan keluarga, Ahyar, menuturkan bahwa tim medis di RSUD sempat memberikan penanganan awal. Akan tetapi, proses perawatan selanjutnya terhenti karena kendala administratif.

"Pihak rumah sakit meminta keluarga menebus obat di apotek luar. Karena bayi belum memiliki kepesertaan BPJS, kami harus membayar sendiri. Sementara itu, kami tidak punya uang yang cukup," ungkap Ahyar saat dihubungi awak media kami, Sabtu (20/6). Ia menjelaskan, keluarga merupakan buruh tani dengan penghasilan pas-pasan. Biaya obat yang dibutuhkan mencapai ratusan ribu rupiah, sementara mereka hanya memiliki sedikit uang tunai. Situasi tersebut membuat penanganan medis tidak berjalan optimal, dan akhirnya bayi malang itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 23.00 WITA.

Klarifikasi dari Pihak RSUD Bima

Menanggapi tudingan tersebut, RSUD Bima melalui juru bicara bagian humas memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan bahwa seluruh pasien yang masuk ke instalasi gawat darurat pasti ditangani tanpa memandang status kepesertaan BPJS. Pelayanan darurat, termasuk obat-obatan esensial, tetap diberikan secara gratis. Namun, untuk obat atau tindakan lanjutan di luar kategori darurat, keluarga pasien memang diarahkan untuk menebus resep secara mandiri jika belum terdaftar sebagai peserta BPJS aktif.

"Kami sangat berduka atas kejadian ini. Kami memastikan bayi tersebut telah menerima penanganan darurat sesuai standar. Saat ini kami sedang melakukan audit internal untuk mendalami kronologi lengkapnya," ujar juru bicara RSUD Bima.

Pihak rumah sakit juga menjelaskan bahwa pada saat kejadian, prosedur pelayanan sudah dijalankan. Keluarga diinformasikan untuk menebus obat yang tidak termasuk dalam paket penanganan darurat. Menurut mereka, tidak ada unsur kesengajaan menghambat akses obat bagi pasien dari keluarga tidak mampu.

Kronologi dan Harapan Keluarga

Berdasarkan penuturan Ahyar, bayi lahir pada Jumat sore sekitar pukul 16.00 WITA. Awalnya, kondisi tampak normal. Sekitar satu jam kemudian, bayi mulai menunjukkan gejala sesak napas dan kulit kebiru-biruan. Puskesmas Monta yang minim peralatan memutuskan merujuk ke RSUD Bima. Setelah tiba, bayi langsung mendapatkan oksigen dan observasi. Dokter kemudian memberi resep obat yang harus ditebus di apotek luar. Harga obat sekitar Rp350 ribu. "Kami berusaha mencari pinjaman, tapi waktu itu malam hari, sulit. Sebelum kami berhasil dapat uang, anak kami sudah tiada," lirih Ahyar.

Keluarga berharap ada evaluasi menyeluruh dari pihak rumah sakit dan pemerintah daerah terkait kebijakan akses obat bagi pasien miskin. Mereka juga meminta agar sistem pendaftaran BPJS untuk bayi baru lahir lebih dipermudah, sehingga tidak ada lagi keluarga yang bernasib serupa. Dinas Kesehatan Kabupaten Bima disebut-sebut akan segera turun tangan menginvestigasi laporan ini dan memastikan tidak ada pelanggaran prosedur standar pelayanan publik.

Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya sinergi antara fasilitas kesehatan dan sistem jaminan sosial, terutama bagi warga prasejahtera yang rentan terjerat birokrasi di saat darurat. Pemerintah diharapkan mampu memberikan solusi cepat, seperti mekanisme tanggap darurat administrasi BPJS bagi bayi baru lahir dari keluarga kurang mampu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rangga-pradana

Content Creator. Mengelola konten viral, podcast, dan video pendek.

Comments (0)

User