Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra Selatan kian mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Selatan melaporkan lonjakan signifikan kejadian karhutla yang tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota, memicu penetapan status siaga tinggi di berbagai wilayah.
Hingga pertengahan September, BPBD Sumsel mengonfirmasi telah terjadi ribuan titik api yang melalap kawasan hutan maupun lahan gambut produktif masyarakat. Situasi ini membuat belasan pemerintah daerah harus bekerja ekstra keras mengendalikan sebaran api agar tidak memicu bencana kabut asap lintas wilayah.
Sebaran 2.676 Kejadian dan Dominasi Zona Merah
Berdasarkan rekapitulasi data lapangan yang dihimpun tim penanggulangan bencana, angka kebakaran telah menembus angka ribuan kasus. Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan serta faktor lahan gambut yang mudah terbakar mempercepat penyebaran titik api di wilayah-wilayah rawan.
"Untuk di Sumsel ada 2.676 kejadian karhutla. Ada 15 daerah yang masuk dalam kategori daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Hanya Pagar Alam dan Empat Lawang yang belum masuk karena kejadiannya di bawah 30 kasus," ungkap Kepala Bidang BPBD Sumsel, Sudirman, di Palembang.
Penetapan 15 daerah dalam kategori zona merah menunjukkan bahwa hampir seluruh bentang geografis Sumatra Selatan kini berada dalam ancaman serius karhutla. Hanya dua daerah dataran tinggi yang sejauh ini relatif aman dari eskalasi kebakaran berskala besar.
Daftar Daerah dengan Titik Karhutla Terbanyak
Wilayah dengan bentang lahan gambut yang luas mendominasi daftar teratas penyumbang titik kebakaran di Sumatra Selatan. Berikut adalah rincian sejumlah daerah dengan akumulasi insiden karhutla tertinggi:
- Ogan Komering Ilir (OKI): Menempati posisi pertama dengan total 459 kejadian kebakaran.
- Musi Banyuasin (Muba): Mencatatkan 333 kejadian karhutla di berbagai titik konsesi dan lahan masyarakat.
- Ogan Ilir: Berada di urutan berikutnya dengan 294 kejadian.
- Banyuasin: Mengonfirmasi 273 kejadian yang membakar area perkebunan dan semak belukar.
- Muara Enim: Mencatat sebanyak 244 kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Selain lima kabupaten di atas, wilayah lain seperti Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) beserta daerah tingkat dua lainnya juga terus melaporkan kemunculan titik api baru yang membutuhkan penanganan taktis secara cepat.
Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan Satgas
Tingginya frekuensi kebakaran di daerah zona merah memaksa Satuan Tugas (Satgas) Terpadu Karhutla memperkuat strategi pemadaman, baik lewat operasi darat maupun pemadaman udara (water bombing). Keterbatasan akses darat menuju lokasi gambut dalam sering kali menjadi rintangan utama para petugas di lapangan.
Masyarakat diimbau secara tegas untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan metode membakar. Partisipasi warga dalam melaporkan kemunculan asap sedini mungkin menjadi kunci penting untuk mencegah kobaran api meluas dan melumpuhkan aktivitas publik akibat kabut asap tebal.
Comments (0)