Scroll FYP, TikTok, atau IG—dan kamu pasti langsung berhenti. Di tengah banjir konten drama dan OOTD aesthetic, muncul satu potret yang bikin kita semua tercengang sekaligus terharu: Frederika Alexis Cull, Puteri Indonesia 2019, berdiri anggun dalam balutan toga hitam khas Universitas Cambridge, lengkap dengan hoodie hood merah marun yang ikonik. Yup, bukan photoshoot biasa, ini wisuda beneran. Mantan Ratu Kecantikan itu resmi lulus S2 dari salah satu kampus paling elite dan penuh sejarah di planet ini. Cewek yang dulu kita kenal dengan mahkota di kepala, kini menyandang gelar master setelah berhasil menaklukkan program Master of Philosophy (MPhil) in Education, Globalisation and International Development yang notoriously challenging.
Di era di mana banyak publik figur lebih memilih jalur karir instan setelah kontes kecantikan, keputusan Frederika untuk kembali ke bangku kuliah pasca-mahkota adalah definisi sebenarnya dari brain over beauty. Netizen pun langsung menyebutnya sebagai “queen of breaking stereotypes”. Pasalnya, dia nggak cuma bad-ass di panggung internasional, tapi juga di perpustakaan yang sunyi pada jam 3 pagi. Perjalanan ini mengirim satu pesan loud and clear: beauty queen juga bisa jadi book smart genius yang bersaing di jajaran akademisi dunia.
Perjalanan Literally dari Panggung ke Pustaka Cambridge
Buat Gen Z yang mungkin nggak terlalu familiar, Frederika bukan sekedar mantan pageant queen. Dia adalah representasi Indonesia yang di atas panggung Miss Universe 2019 berhasil masuk Top 10—prestasi yang saat itu amat langka buat Indonesia. Setelah masa tugasnya sebagai Puteri Indonesia, banyak yang menduga dia akan langsung terjun penuh ke dunia hiburan, modeling, atau jadi influencer full-time. Tapi takdir berkata lain. Alih-alih mengejar brand deals, Frederika justru mendaftar ke Universitas Cambridge, sebuah keputusan yang ia sebut sebagai “manifesting mimpi yang hanya berani kuucapkan sendiri.“
“Dulu waktu SD, aku lihat foto kampus ini di ensiklopedia dan bilang ke diri sendiri, ‘suatu hari aku harus ada di sana’. Tapi sebagai anak yang tumbuh di Australia dan lalu pindah-pindah, rasanya kayak mimpi yang terlalu tinggi. Sekarang aku berdiri di sini, nangis pas wisuda sambil inget perjuangan nulis disertasi sampai subuh.”
Kutipan di atas, yang dibagikan Frederika lewat Instagram Story-nya yang penuh emosi, langsung viral di kalangan akun gosip dan komunitas pageant. Di situ dia menyiratkan perjuangan yang sangat relevan dengan mahasiswa S2 everywhere: tekanan akademis, imposter syndrome, dan culture shock belajar di lingkungan yang super kompetitif. Tapi yang bikin spesial, Frederika melaluinya sembari tetap aktif di kegiatan sosial dan kampanye edukasi, membuktikan bahwa kecantikan dan intelektualitas bisa berjalan beriringan tanpa kompromi.
‘The New It-Girl Brain’: Saat Mahkota Diganti Topi Wisuda
Di timeline Twitter, keyword seperti “Ratu Cambridge” dan “Indonesia Banget” sempat menghiasi trending topic area. Generasi Z, yang amat menghargai representasi cewek pintar berdaya, langsung mengangkat Frederika sebagai ikon baru “it-girl brain”: perempuan yang nggak cuma punya visual slay, tapi juga substansi yang diperhitungkan. Di saat banyak yang masih berdebat soal validitas pageant sebagai ajang objektifikasi, Frederika jadi contoh nyata bahwa panggung kontes dan panggung akademik bisa jadi dua sisi koin yang sama-sama memberdayakan.
Kampusnya sendiri, University of Cambridge, dikenal sebagai nerve-wracking academic fortress yang melahirkan 121 peraih Nobel. Fakta bahwa seorang Puteri Indonesia, dengan latar multikultural, mampu masuk dan lulus dari sana adalah representasi penting untuk anak-anak muda Indonesia di kancah global. Apalagi, jurusan yang ia pilih sarat dengan isu sosial: pendidikan, pembangunan global, dan ketimpangan—area yang amat dekat dengan misi kemanusiaan yang ia suarakan sejak jadi beauty queen.
“You can be both: the girl who rocks a dress and the girl who rocks a library card. Jangan biarkan siapapun bilang kamu cuma bisa salah satu.”
Kalimat powerful itu adalah pesan penutup Frederika di postingan wisuda yang kini sudah meraup lebih dari 500 ribu likes. Seakan menjawab sindiran sinis yang sering dilontarkan kepada pageant girls. Dengan pencapaian ini, Frederika nggak hanya menambahkan gelar akademik di depan namanya—tapi juga mengukuhkan statusnya sebagai role model global yang relevan dengan nilai-nilai zaman sekarang.
Jadi, gimana nih menurut kalian? Apakah kombinasi queen dan nerd ini jadi standar baru yang harus kita support? Atau kalian punya contoh publik figur Indonesia lain yang juga super inspiring di dunia akademik? Drop pendapat kalian di kolom komentar, dan jangan lupa vote di polling insta-story kita: “More queens should get master’s degrees? YES or NO?” 👑🎓
Comments (0)