Kekhawatiran akan lunturnya seni tradisi di kalangan generasi muda ditepis lewat panggung kreativitas yang semarak di Pulau Dewata. Ekstrakurikuler Sunari Kencana dan Budhi Citta Sandhi (BDSK) dari SMA Negeri 3 Denpasar resmi menggelar ajang bergengsi bertajuk BDSK Art Festival. Acara ini bukan sekadar panggung kompetisi biasa, melainkan wadah nyata untuk merawat dan memastikan denyut kesenian Bali tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Melalui festival ini, para pelajar diajak untuk tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri, melainkan aktor utama pelestari budaya leluhur. Antusiasme peserta terlihat jelas sejak hari pertama gelaran, membuktikan bahwa daya tarik tabuh dan tari Bali masih sangat memikat hati anak-anak muda zaman sekarang.
Kolaborasi Perdana: Padukan Tari Margapati dan Balaganjur
Ada yang istimewa pada gelaran festival kali ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kompetisi tari dan tabuh berjalan secara terpisah, tahun ini panitia membuat terobosan baru dengan menggabungkan dua agenda besar dalam satu naungan festival terpadu.
Adapun rangkaian perlombaan utama yang dihadirkan meliputi:
- Sunari Kencana Art Competition: Menampilkan lomba Tari Margapati yang diperuntukkan bagi peserta tingkat SMP/MTs se-Bali guna menjaring bibit penari berbakat sejak dini.
- Bangken Dongkang Art Festival (BDAF): Mengusung atraksi Balaganjur Ngarap kategori umum se-Bali yang sarat energi, kekompakan, dan eksplorasi musikalitas tabuh tradisi.
Langkah penggabungan ini diambil untuk menciptakan atmosfer kolaboratif yang lebih kuat antara seni gerak dan seni bunyi dalam tradisi kesenian Bali.
Membangun Percaya Diri dan Karakter Generasi Muda
Panitia penyelenggara menegaskan bahwa esensi dari festival ini melampaui piala dan gelar juara. Ruang ekspresi yang sehat sangat dibutuhkan oleh pelajar agar kesenian Bali tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu yang kaku, tetapi terus dinamis mengikuti perkembangan kreativitas anak muda tanpa kehilangan jati dirinya.
Ketua panitia penyelenggara, Ni Putu Feby Vijaya Puteri (17), mengungkapkan rasa bangganya atas terselenggaranya festival ini.
“Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan memiliki kepedulian terhadap kesenian Bali, khususnya seni tari dan tabuh,” ujar Feby.
Ia menambahkan, keberadaan wadah kesenian di tingkat sekolah memegang peran penting untuk melatih kepercayaan diri, disiplin, serta kekompakan para peserta. Ketika anak-anak muda diberikan panggung yang layak, mereka akan merasa memiliki tanggung jawab мораl untuk menjaga kelestarian budaya tersebut hingga masa depan.
Upaya Nyata Menjaga Warisan Leluhur di Era Digital
Tantangan pelestarian budaya lokal di era keterbukaan informasi saat ini tentu tidak mudah. Gempuran budaya pop global sering kali menggeser minat anak muda terhadap kesenian lokal. Namun, inisiatif yang lahir dari pelajar SMAN 3 Denpasar ini membuktikan bahwa pendekatan kreatif mampu merangkul generasi sebaya.
Dengan suksesnya perhelatan BDSK Art Festival, diharapkan semakin banyak sekolah dan komunitas kepemudaan di Bali yang terdorong menciptakan panggung serupa. Upaya regenerasi yang konsisten adalah kunci utama agar kesenian Bali tetap lestari, berdaya saing, dan abadi dari generasi ke generasi.
Comments (0)