Dolar AS Perkasa, Rupiah Merosot ke Rp 17.855
Jakarta - Tekanan terhadap rupiah kembali terasa pada pembukaan perdagangan Kamis (18/6/2026). Mata uang Garuda harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang meroket tajam dan menembus l
Jakarta - Tekanan terhadap rupiah kembali terasa pada pembukaan perdagangan Kamis (18/6/2026). Mata uang Garuda harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang meroket tajam dan menembus level psikologis baru. Berdasarkan pantauan data Bloomberg yang dikutip oleh tim redaksi Warkini.com, dolar AS dibanderol pada posisi Rp 17.855, menandai kenaikan signifikan sebesar 93 poin atau 0,52 persen.
Lonjakan ini menjadi sinyal penguatan terbesar dolar AS dalam sepekan terakhir, memberikan pukulan bagi aset-aset berdenominasi rupiah. Para pelaku pasar langsung bersikap hati-hati, mencermati kemungkinan intervensi lebih lanjut dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Pergerakan Dolar AS Yang Tidak Seragam
Fenomena menarik muncul dari pergerakan dolar AS di pasar global. Di tengah superioritasnya terhadap rupiah, mata uang Paman Sam justru menunjukkan pelemahan terhadap deretan mata uang utama dunia. Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami dari terminal Bloomberg, greenback terdepresiasi terhadap yen Jepang, dolar Australia, pound sterling, euro, dan dolar Singapura. Ini mengindikasikan bahwa penguatan drastis yang dialami rupiah lebih banyak disebabkan oleh sentimen negatif terhadap kondisi domestik ketimbang penguatan fundamental dolar secara universal.
"Satu pengecualian tampak pada yuan China, di mana dolar AS tetap mampu mempertahankan dominasinya. Ini menunjukkan fragmentasi pergerakan dolar yang sangat bergantung pada persepsi risiko dan fundamental ekonomi masing-masing negara," tulis analisis pasar yang disadur oleh Warkini.com.
Analisis: Faktor Pendorong Penguatan Dolar
Menganalisis dinamika ini, tim ekonomi Warkini.com mencatat beberapa faktor krusial. Pertama, ketidakpastian global yang masih membayangi membuat dolar AS tetap menjadi aset safe haven yang diburu investor. Kedua, divergensi kebijakan moneter antara bank sentral utama, di mana Federal Reserve AS masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjinakkan inflasi, sementara sejumlah bank sentral lain mulai melonggarkan kebijakan mereka.
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan aliran modal yang deras kembali ke aset-aset berbasis dolar, termasuk obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil menarik. Bagi Indonesia, situasi ini menambah kompleksitas pengelolaan ekonomi, di mana impor yang lebih mahal dapat memicu tekanan inflasi lanjutan dan membebani biaya logistik serta bahan baku industri.
Hingga berita ini diturunkan, tim riset Warkini.com terus memantau pergerakan rupiah dan intervensi yang mungkin dilakukan oleh otoritas moneter. Data dari konsensus pasar menyebutkan bahwa level resisten kunci berikutnya bagi pasangan USD/IDR berada di kisaran Rp 17.900, sementara support terdekat diperkirakan pada Rp 17.700. Para trader dan pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada terhadap volatilitas yang tinggi di sisa sesi perdagangan hari ini.
Comments (0)