Erick Thohir Ungkap Perkembangan Terbaru Pencalonan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, akhirnya angkat bicara mengenai peluang Indonesia menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam pernyataan resmi yang dirili
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, akhirnya angkat bicara mengenai peluang Indonesia menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu, ia menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya masih menunggu keputusan final dari FIFA. Belum ada sinyal hijau karena induk sepak bola dunia itu masih berkonsentrasi penuh pada rangkaian persiapan dan pelaksanaan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. “Kita semua harus sabar. FIFA punya timeline sendiri, dan kita menghargai proses itu,” ujar Erick singkat.
FIFA ASEAN Cup adalah wajah baru dari turnamen legendaris Asia Tenggara yang sebelumnya dikenal sebagai AFF Championship. Mulai edisi 2026, kompetisi ini resmi berada di bawah naungan penuh FIFA dengan standar penyelenggaraan yang lebih tinggi. Indonesia telah menyampaikan surat minat resmi sejak awal tahun lalu, didukung oleh visi transformasi sepak bola nasional yang digaungkan PSSI. Meski negosiasi di level internasional masih berjalan, dokumen bidding awal Indonesia dikabarkan telah memenuhi sebagian besar prasyarat teknis, termasuk ketersediaan stadion berkapasitas besar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Palembang.
Mengapa Keputusan FIFA Tertunda?
Sumber internal FIFA yang tidak ingin disebutkan namanya mengindikasikan bahwa evaluasi terhadap pencalonan tuan rumah berbagai turnamen zona memang dijadwalkan baru dimulai setelah fase krusial Piala Dunia 2026 selesai, yaitu sekitar kuartal ketiga tahun ini. Prioritas operasional FIFA saat ini adalah memastikan kelancaran turnamen empat tahunan yang melibatkan 48 negara tersebut. Menurut Dr. Ronny Sumarsono, analis olahraga dan dosen manajemen event di Universitas Negeri Jakarta, “Penundaan ini sangat wajar. Organisasi sebesar FIFA memiliki birokrasi yang ketat. Turnamen ASEAN Cup baru pertama kali dikelola penuh oleh FIFA sehingga membutuhkan mekanisme evaluasi yang lebih detail, termasuk inspeksi lapangan yang belum bisa dilakukan karena mobilitas tim teknis FIFA masih terikat agenda Piala Dunia.”
Sementara itu, PSSI tidak tinggal diam. Erick Thohir telah menugaskan tim khusus untuk terus menjalin komunikasi dan memastikan seluruh berkas pendukung dalam kondisi siap. Salah satu nilai tawar Indonesia adalah suksesnya gelaran Piala Dunia U-17 2023, yang menjadi bukti kemampuan nasional dalam menangani turnamen global.
Potensi Dampak Jika Indonesia Terpilih
Manfaat menjadi tuan rumah tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan data historis dan proyeksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berikut beberapa aspek yang akan terdongkrak:
| Aspek | Data/Proyeksi Dampak |
|---|---|
| Jumlah penonton langsung | Diperkirakan mencapai 1,2 juta penonton, melampaui AFF 2022 yang mencatat 900.000 penonton. |
| Wisatawan mancanegara | Proyeksi 180.000 turis asing, dengan rata-rata pengeluaran $1.200 per orang. |
| Renovasi stadion | Minimal 6 stadion akan ditingkatkan ke standar FIFA, termasuk Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Gelora Bung Tomo. |
| Peluang timnas juara | Statistik turnamen terakhir menunjukkan tim tuan rumah punya 64% peluang mencapai semifinal, berkat dukungan suporter masif. |
Ekonomi lokal, terutama sektor UMKM di sekitar venue, juga diproyeksikan merasakan perputaran uang tambahan hingga Rp2,3 triliun. Angka ini mengacu pada pengalaman Indonesia saat menjadi tuan rumah bersama Piala AFF 2022, di mana separuh pertandingan digelar di Tanah Air.
Siapa Pesaing Utama Indonesia?
Persaingan menuju tuan rumah edisi pertama FIFA ASEAN Cup diprediksi sengit. Thailand, sebagai juara bertahan dan pemilik infrastruktur sepak bola paling matang di kawasan, hampir pasti mengajukan diri. Vietnam juga memiliki modal Stadion Nasional My Dinh yang baru direnovasi serta rekam jejak sukses penyelenggaraan SEA Games 2021. Malaysia menjadi kandidat potensial dengan kekuatan finansial dan fanbase besar. Namun, diplomasi Erick Thohir di level FIFA dan AFC bisa menjadi pembeda, mengingat posisinya yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC).
Menurut laporan internal PSSI, total anggaran penyelenggaraan yang telah disiapkan mencapai Rp1,7 triliun, mencakup biaya administrasi FIFA, perbaikan stadion, dan promosi.Kini, bola berada di tangan FIFA. Publik sepak bola Indonesia hanya bisa berharap agar setelah Piala Dunia 2026 bergulir, kabar baik segera tiba. Erick Thohir optimistis namun realistis: “Kita tidak bisa memaksa. Yang penting Indonesia sudah siap kapan pun dipercaya.”
Comments (0)