Fix! Iran Ambil Alih Penuh Tata Kelola Selat Hormuz
Warkini.com, Jakarta — Kepala perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz kini sepenuhnya berada di bawah kendali Republik Islam Iran. Pernyataan tegas ini
Warkini.com, Jakarta — Kepala perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz kini sepenuhnya berada di bawah kendali Republik Islam Iran. Pernyataan tegas ini disampaikan pada Selasa (23/6) setelah rampungnya putaran pertama perundingan yang digelar di Swiss antara delegasi Iran dan Amerika Serikat. Pertemuan yang berlangsung sehari sebelumnya, Senin (22/6), menjadi babak baru dalam upaya mengakhiri konflik bersenjata yang melibatkan AS dan Israel di kawasan, serta meredakan ketegangan di perairan strategis tersebut.
Dalam komunike bersama yang disepakati di sela-sela perundingan, kedua pihak menyetujui pembentukan jalur komunikasi khusus guna memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran komersial, sekaligus mengupayakan penghentian pertempuran di Lebanon. Namun, Ghalibaf memberikan garis batas yang jelas bahwa kondisi pasca-perang tidak akan lagi seperti sebelumnya. Teheran, menurutnya, akan mengambil peran sentral dalam mengelola jalur laut yang vital bagi distribusi minyak dunia itu.
Pernyataan Resmi Delegasi Iran
Sesaat setelah mendarat di Teheran, Ghalibaf menyampaikan keterangan pers yang dikutip dari kantor berita resmi IRNA. Ia menekankan bahwa mekanisme baru pengelolaan ini akan dijalankan sesuai dengan kerangka hukum internasional. Berikut kutipan lengkapnya:
"Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional."
Pernyataan tersebut sekaligus menepis spekulasi bahwa perundingan dengan Washington akan mengembalikan status quo pengawasan internasional di wilayah itu. Iran tampaknya ingin memanfaatkan momentum pasca-konflik untuk memperkuat posisi tawarnya dalam geopolitik kawasan Timur Tengah, terutama mengingat Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah global.
Sejumlah analis hubungan internasional yang dihubungi media kami menilai langkah ini sebagai manuver diplomatik yang berisiko tinggi, namun juga menunjukkan kepercayaan diri Teheran setelah serangkaian pertempuran yang menguras perhatian militer AS dan Israel di Lebanon. Sementara itu, pihak Washington belum memberikan respons resmi atas klaim tata kelola sepihak ini. Perundingan tahap kedua dijadwalkan akan berlanjut pekan depan, dengan agenda memperinci teknis pengelolaan jalur komunikasi dan pengawasan perdamaian di wilayah Lebanon yang masih bergolak.
Laporan Warkini.com menyebutkan bahwa meskipun ada optimisme terbatas, ketegangan di lapangan masih terasa. Armada kapal patroli Iran telah meningkatkan kehadirannya di sekitar Selat Hormuz, sementara kapal perang AS masih bersiaga di Teluk Oman. Kondisi ini menyisakan tanda tanya besar tentang implementasi sesungguhnya dari kesepakatan yang masih berbentuk awal tersebut.
Selat Hormuz sendiri memiliki arti strategis yang tak terbantahkan. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadi urat nadi ekonomi bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Dengan tegasnya pernyataan Iran, para pelaku pasar energi global kini mencermati perkembangan ini dengan saksama, menimbang potensi perubahan mekanisme keamanan yang mungkin berdampak pada rute pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia.
Comments (0)