Gus Ghofur Maimoen Nahkodai Rais Syuriyah PBNU, Warisan Kiai Sarang Berlanjut
Lingkungan Masjid Agung Jakarta baru saja meninggalkan gema takbir Idul Fitri ketika kabar dari lingkungan Nahdlatul Ulama menggema pelan namun pasti: KH A
Di sudut ruang tamu Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, foto hitam-putih Mbah Moen—sapaan akrab KH Maimoen Zubair—masih terpajang dengan tatapan teduh. Dari tempat inilah Gus Ghofur lahir pada 24 Agustus 1968, tumbuh di bawah asuhan langsung sang ayah yang dikenal sebagai salah satu poros keilmuan Islam Nusantara. Lingkungan pesantren yang disiplin namun penuh kasih menempa karakternya. Sejak kecil, ia telah akrab dengan kitab kuning, hafalan Alfiyah, serta diskusi-diskusi fiqih yang mengalir hingga larut malam. Kini, warisan itu terpatri dalam tugas barunya: menjaga khittah dan marwah ulama di tengah hiruk-pikuk organisasi keagamaan yang beranggotakan puluhan juta warga.
Jejak Sang Putra Mbah Moen
Nama besar KH Maimoen Zubair tak hanya melekat sebagai pengasuh Pesantren Al-Anwar. Ia adalah simbol al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah—memelihara tradisi lama yang baik sambil mengambil hal baru yang lebih baik. Gus Ghofur adalah salah satu dari sekian putra Mbah Moen yang paling intens mendampingi sang ayah hingga akhir hayatnya pada 2019. Ia menjadi saksi bagaimana sang kiai merajut hubungan dengan semua golongan, dari warga nahdliyin di desa terpencil hingga presiden dan menteri di istana.
“Beliau tidak pernah membedakan tamu. Petani dan pejabat duduk di lantai yang sama,” kenang seorang santri senior yang kerap menyaksikan interaksi Gus Ghofur dengan tamu-tamu pesantren. Prinsip egaliter inilah yang kemudian membentuk cara pandang Gus Ghofur dalam berorganisasi. Ketika diangkat menjadi Rais Syuriyah, ia menegaskan bahwa jabatan adalah alat pengabdian, bukan tujuan status.
“Tugas kami sederhana tapi berat: memastikan agama tetap menjadi penuntun, bukan alat belah bangsa. Rais Syuriyah adalah posisi menjaga, bukan posisi mengatur. Semakin tinggi jabatan, semakin rendah hati yang harus dipasang,” ujar Gus Ghofur dalam pertemuan terbatas dengan pengurus cabang NU Jawa Tengah, beberapa hari setelah pengangkatannya.
Tugas Rais Syuriyah: Menjaga Khittah di Pusaran Politik
Rais Syuriyah merupakan jabatan tertinggi dalam struktur PBNU yang berfungsi sebagai penjaga garis perjuangan organisasi, terutama dalam bidang keagamaan dan kebijakan strategis. Berbeda dengan ketua umum tanfidziyah yang menangani urusan eksekutif, Rais Syuriyah adalah kompas spiritual. Di sinilah peran Gus Ghofur diuji: bagaimana menjaga NU tetap independen, tidak terseret arus politik praktis, namun tetap relevan dalam dinamika kebangsaan.
Tantangan itu kian nyata di era digital. Media sosial kerap menjadi medan perang antarkelompok yang mengatasnamakan Islam. Polarisasi pasca-Pemilu masih menyisakan residu emosional di akar rumput. Di titik inilah suara teduh dari Rais Syuriyah sangat dinantikan. Gus Ghofur diharapkan mampu menjadi jangkar yang mendinginkan suasana, melanjutkan tradisi para pendahulu seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Shiddiq yang senantiasa meletakkan kemaslahatan masyarakat di atas segalanya.
Merawat Ukhuwah di Era Klik dan Like
“Dulu kita bertengkar soal furu’iyah di mushala lalu ba’da Isya salaman. Sekarang, ribut di kolom komentar bisa bikin saudara tak bertegur sapa bertahun-tahun,” begitu kelakar seorang aktivis muda NU saat berdiskusi tentang fenomena hijrah digital. Gus Ghofur, yang besar dari tradisi dialog tatap muka, kini menghadapi realitas baru di mana engagement dan viralitas seringkali mengalahkan substansi. Namun ia tak menolak teknologi. Justru, ia mendorong pemanfaatan platform digital untuk menyebarkan konten-konten dakwah yang mengedepankan rahmah (kasih sayang) ketimbang ghadhab (kemarahan).
Pesantren Al-Anwar sendiri telah memiliki unit media yang aktif memproduksi cuplikan pengajian kitab kuning dan ceramah singkat di YouTube dan Instagram. Langkah ini adalah cermin dari prinsip adaptif yang diwariskan Mbah Moen. Gus Ghofur, sebagai Rais Syuriyah, diharapkan dapat membawa semangat serupa ke dalam tubuh PBNU secara lebih luas: menjadikan masjid, pesantren, dan majelis taklim bukan hanya pusat ibadah, tapi juga pusat literasi digital yang sehat.
Pengangkatan Gus Ghofur disambut positif oleh banyak kalangan. Mereka menilai sosoknya mampu menjadi jembatan antara generasi sepuh yang memegang teguh tradisi dan generasi muda yang haus akan pembaruan. Dengan pengalaman panjangnya sebagai pengasuh pesantren dan pernah duduk di berbagai posisi di NU, Gus Ghofur dipandang memiliki bekal yang cukup untuk memikul amanah ini.
Kini, dari bilik-bilik sederhana Pesantren Al-Anwar Sarang hingga gedung PBNU di Jakarta, mata banyak orang tertuju pada langkah selanjutnya. Mereka menanti bagaimana Rais Syuriyah baru ini mengartikulasikan suara hati warga nahdliyin di tengah panggung nasional. Sebab, dalam diri Gus Ghofur, mengalir darah seorang kiai yang tak pernah lelah mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman—sebuah pesan yang tak pernah usang dalam perjalanan bangsa ini.
--- FAQ Esensial[SOCIAL_TWEET]: Dari Sarang ke PBNU: Gus Ghofur Maimoen kini resmi menjabat Rais Syuriyah. Putra Mbah Moen ini pikul amanah jaga khittah NU di era digital. #GusGhofur #PBNU #NahdlatulUlama [SOCIAL_TG]: 🔔 Nahdlatul Ulama Resmi Punya Rais Syuriyah Baru KH Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur), putra almarhum KH Maimoen Zubair, kini memimpin Rais Syuriyah PBNU. Posisi strategis ini bertugas menjaga khittah dan arah perjuangan NU di tengah pusaran politik dan digitalisasi. Simak profil dan tantangannya di Warkini.com.
Comments (0)