Habiburokhman Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Disalahgunakan
Di ruang rapat Komisi III DPR yang ber-AC dingin dan vibe-nya formal abis, ada satu topik yang bikin kuping kita auto-perkak: RUU Perampasan Aset. Kamis (9
Di ruang rapat Komisi III DPR yang ber-AC dingin dan vibe-nya formal abis, ada satu topik yang bikin kuping kita auto-perkak: RUU Perampasan Aset. Kamis (9/7/2026), Ketua Komisi III Habiburokhman buka sesi dengar pendapat bareng Kongres Advokat Indonesia (KAI) dan para akademisi, dan dia langsung to the point, “Bro, kita harus waspada celah abuse of power di undang-undang ini.” Serius, nggak ada yang lebih bikin merinding selain mikirin penyelenggara negara main ambil aset seenak hati—kayak admin grup toxic yang kick member tanpa alasan, tapi versi negara. Cuma bedanya taruhannya bukan sekadar chat ilang, tapi harta benda orang.
Bukan Amandemen, Ini UU Murni Fresh from the Oven
Habiburokhman ngejelasin kalau RUU ini bukan sekadar revisi UU lama, bestie. Ini bener-bener dari nol, like, “kita membentuk dari awal” katanya. Bandingin sama KUHAP atau UU Polri yang cuma di-update dikit, Perampasan Aset ini ibarat game baru yang belum ada cheat sheet-nya. Jadi wajar banget kalau banyak pihak deg-degan. Bayangin negara bisa ngerampas aset tanpa mesti nunggu vonis pidana dulu—konsep yang di luar negeri udah dipakai, tapi di Indonesia kan masih banyak plot twist lain.
"Jangan Sampai Jadi Senjata Makan Tuan"
Dalam forum yang sama, Habiburokhman secara terbuka nyentil potensi penyalahgunaan. Dia bilang, “Kami ingin berikhtiar agar sebanyak mungkin elemen masyarakat didengar keterangannya,” sambil menekankan bahwa ini bukan perkara remeh. Kenapa? Karena RUU yang strong banget ini bisa dipakai buat hal-hal di luar nalar: balas dendam politik, framing lawan bisnis, atau bahkan aset rakyat jelata yang kena getahnya. Pokoknya vibes-nya kayak liat pedang Excalibur di tangan yang salah—bukannya nyelametin, malah bikin chaos.
"Kami ingin berikhtiar agar sebanyak mungkin elemen masyarakat didengar keterangannya, didengar aspirasinya terkait perampasan aset ini," kata Habiburokhman mengawali rapat.
Gue nggak lebay, tapi sejarah udah ngajarin kita: setiap kekuasaan tanpa rem itu kayak Thanos dengan Infinity Gauntlet—sekali jentik, eksekusi masal. Nah, di RUU ini, celah buat si pemegang kuasa terlalu lebar kalau nggak ada safeguard yang bener. DPR sendiri ngakuin bahwa aturan main di sini mesti super ketat, karena ini soal harta yang udah susah payah dikumpulin, entah sama koruptor atau pengusaha legit.
Masukan dari KAI dan Akademisi, Bukan Sekadar Formalitas
Ini bukan sekadar acara dengarin doang, ya. Kongres Advokat Indonesia dan barisan akademisi diundang biar perspektif mereka masuk ke dalam DNA undang-undang. Move ini cukup terhormat, karena seringnya kita denger curhat netizen kalau draf RUU tuh “tiba-tiba jadi” tanpa partisipasi publik. Kali ini, setidaknya ada effort buat nampung suara dari mereka yang sehari-hari berurusan sama penegakan hukum dan teori keadilan. Masalahnya, saran mereka bakal bener-bener di-adopt atau cuma tempelan? Itu PR besar yang musti di-update terus ke publik.
Bottom line-nya, RUU Perampasan Aset ini udah di depan mata dan bisa jadi langkah antikorupsi paling metal yang pernah kita punya—asal jangan nyasar jadi alat penindasan. Semua orang setuju koruptor mesti dihabisi hartanya, tapi jangan sampai rakyat kecil yang kena spill-over.
Jadi, menurut lo gimana? Apakah RUU ini bakal jadi game-changer positif atau malah momok baru? Vote emoji 🔥 kalau lo khawatir penyalahgunaannya bakal gede banget, 😬 buat yang waspada tapi masih optimis, dan 😎 kalau percaya sistem pengawasan kita udah cukup solid. Let’s discuss di reply—siapa tahu pendapat kita nanti nyampe ke DPR lewat angin segar thread ini!
Comments (0)