warkini.
Travel

Hakim AS Tangguhkan Aturan Baru Pembatasan Visa Pelajar dan Jurnalis Asing

Kabar melegakan datang bagi ribuan mahasiswa internasional dan awak media global yang tengah beraktivitas di Amerika Serikat. Seorang hakim pengadilan fede

Hakim AS Tangguhkan Aturan Baru Pembatasan Visa Pelajar dan Jurnalis Asing

Kabar melegakan datang bagi ribuan mahasiswa internasional dan awak media global yang tengah beraktivitas di Amerika Serikat. Seorang hakim pengadilan federal di Boston secara resmi mengeluarkan putusan untuk menangguhkan pemberlakuan aturan baru pembatasan visa ketat bagi pelajar serta jurnalis asing. Keputusan ini menunda kebijakan imigrasi kontroversial yang sebelumnya menuai gelombang kritik luas dari institusi pendidikan tinggi dan organisasi pers internasional.

Sebelum putusan sela ini terbit, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) merencanakan perombakan mendasar terhadap sistem masa tinggal pemegang visa F (pelajar) dan visa I (jurnalis). Selama beberapa dekade, pemegang visa pelajar berhak tinggal di AS selama masa studi aktif mereka melalui skema Duration of Status (D/S). Namun, rancangan aturan baru justru hendak mematok batas waktu tinggal maksimal yang kaku.

Kronologi Perubahan Kebijakan dan Gugatan Hukum

  1. September 2020: Departemen Keamanan Dalam Negeri AS merilis usulan pengetatan izin tinggal visa pelajar maksimal 4 tahun dan pembatasan izin tinggal jurnalis asing maksimal 240 hari.
  2. Akhir 2020: Ratusan universitas bergengsi, asosiasi riset, dan kantor berita internasional mengajukan keberatan formal serta gugatan hukum ke pengadilan federal di Boston.
  3. Sidang Pemeriksaan: Pihak penggugat memaparkan potensi kekacauan akademik dan terhambatnya kebebasan peliputan berita jika aturan dipaksakan berjalan.
  4. Putusan Hakim: Hakim federal di Boston resmi menerbitkan penangguhan (injunksi) pelaksanaan aturan tersebut hingga proses hukum pokok perkara berkekuatan tetap.

Dampak Aturan Baru bagi Mahasiswa dan Jurnalis

Apabila aturan pembatasan ini tetap diimplementasikan, dampaknya dinilai sangat merugikan ribuan warga negara asing yang sedang menempuh pendidikan maupun menjalankan tugas jurnalistik. Berikut poin-poin krusial yang sempat memicu polemik:

  • Batas Maksimal 4 Tahun untuk Pelajar: Mahasiswa program sarjana ganda, program doktoral (Ph.D), serta riset medis spesialis yang rata-rata membutuhkan waktu 5 hingga 7 tahun harus mengajukan perpanjangan izin yang rumit dan belum tentu disetujui.
  • Restriksi Ketat 240 Hari bagi Jurnalis: Koresponden media asing yang meliput dinamika politik serta isu global di AS terancam harus memperbarui izin setiap 8 bulan sekali, yang memicu kerentanan birokrasi dan ketidakpastian kerja.
  • Peningkatan Biaya Administrasi: Biaya perpanjangan visa berulang kali membebani institusi sponsor maupun mahasiswa secara finansial.
"Pemberlakuan batasan waktu yang kaku tanpa mempertimbangkan realitas program akademik modern dan dinamika kerja media hanya akan menurunkan daya tarik Amerika Serikat sebagai pusat riset global serta mencoreng kebebasan pers."

Kemenangan Sementara bagi Sektor Pendidikan dan Media

Putusan hakim Boston ini dipandang sebagai kemenangan strategis sementara. Berbagai universitas terkemuka menilai bahwa pembatasan visa secara sepihak dapat memicu eksodus talenta riset internasional ke negara-negara lain seperti Kanada, Inggris, atau Australia yang memiliki kebijakan imigrasi studi lebih fleksibel.

Dengan adanya penangguhan ini, ketentuan visa lama tetap berlaku. Pelajar internasional dan jurnalis asing kini dapat melanjutkan kegiatan operasional serta akademik mereka tanpa kekhawatiran dideportasi mendadak akibat aturan baru tersebut.

Hakim federal di Boston menghentikan sementara implementasi aturan imigrasi ketat yang membatasi masa tinggal pelajar asing maksimal 4 tahun dan jurnalis asing 240 hari. Poin penting: - Aturan lama 'Duration of Status' tetap berlaku. - Penundaan dilakukan usai gugatan dari universitas dan media global. - Dinilai menyelamatkan riset pendidikan dan kebebasan pers. Baca selengkapnya di Warkini.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS jovan-pratama

Reporter Kuliner. Food enthusiast. Review restoran, resep, dan tren makanan.

Comments (0)

User