Harga Bitcoin Anjlok ke Bawah US$ 59.000, Terendah Baru 2025
Warkini.com, Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan jual yang dalam pada perdagangan Kamis (25/6). Mata uang kripto terbesar di dunia ini sempat menyentuh level terendah intraday di US$
Warkini.com, Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan jual yang dalam pada perdagangan Kamis (25/6). Mata uang kripto terbesar di dunia ini sempat menyentuh level terendah intraday di US$ 58.995 atau sekitar Rp 1,05 miliar (asumsi kurs Rp 17.947 per dolar AS). Level ini menjadi titik terlemah Bitcoin sepanjang tahun 2025 dan semakin menjauh dari ambang psikologis US$ 60.000 yang selama ini sulit dipertahankan.
Berdasarkan laporan yang dikutip media kami, harga Bitcoin kini telah merosot 52% dari level tertingginya yang dicapai pada kuartal keempat tahun lalu. Dengan level tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh kisaran US$ 123.000 pada November 2024, penurunan ini menandai koreksi paling tajam dalam siklus pasar kripto saat ini. Sepanjang tahun ini, Bitcoin terus bergulat untuk menembus resistensi US$ 60.000 secara konsisten, namun tekanan dari sentimen makro dan aksi ambil untung terus membatasi pergerakan naiknya.
“Apa yang kita lihat sekarang hanyalah puncak gunung es. Penurunan ini belum mencerminkan potensi koreksi lebih lanjut, terutama jika level support kunci di US$ 58.000 tidak mampu bertahan,” ujar seorang analis pasar keuangan yang diwawancarai Warkini.com.
Para pedagang profesional di bursa derivatif memang menunjukkan kekhawatiran yang sama. Data dari Cboe LiveVol menunjukkan bahwa ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT) mencatatkan perdagangan hampir 1,1 juta kontrak opsi pada hari yang sama. Volume opsi yang tinggi ini mengindikasikan banyak pelaku pasar yang melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko penurunan lebih dalam, sekaligus mencerminkan volatilitas ekstrem yang melingkupi aset digital ini. IBIT sendiri merupakan salah satu instrumen investasi Bitcoin paling likuid di pasar Amerika Serikat.
Jika ditelusuri lebih dalam, tekanan jual Bitcoin tidak lepas dari dinamika ekonomi global. Kebijakan moneter bank sentral yang masih ketat, arus keluar dari ETF kripto dalam beberapa pekan terakhir, serta ketidakpastian regulasi di sejumlah negara menjadi faktor pemberat. Meski demikian, sebagian investor institusional masih mempertahankan alokasi portofolionya pada Bitcoin dengan harapan pemulihan di paruh kedua tahun ini. Pasar kini menanti katalis baru, termasuk perkembangan aturan stablecoin dan adopsi korporasi, yang dapat mengembalikan momentum bullish.
Comments (0)