JAKARTA — Jokowi Tetap Eksis Jadi King Maker, Rupanya Cuma Modal Uang?
Lo masih inget nggak sama momen Jokowi naik MRT sendirian, nyapa warga, dan bikin satu stasiun berasa kayak meet and greet konser Coldplay? Nah, meski udah
Lo masih inget nggak sama momen Jokowi naik MRT sendirian, nyapa warga, dan bikin satu stasiun berasa kayak meet and greet konser Coldplay? Nah, meski udah lepas dari kursi RI-1 dan tak lagi pegang jabatan formal, Pakde tidak benar-benar menghilang dari orbit. Justru sebaliknya, ia makin rajin blusukan dari Lampung, NTT, sampai pelosok Jawa Barat. Tapi tunggu dulu, di balik senyum khas dan lambaian tangan khas "saya siap menerima aspirasi" itu, mulai muncul satu narasi pedas dari pengamat politik: kekuatan Pakde itu bukan di ideologi, bro, tapi murni di logistik atau, maaf, "cuan".
Buzzer, Cuan, dan Strategi Pasca-Kuasa
Fenomena ini mirip kayak influencer yang tetap relevan bukan karena kontennya mendidik, tapi karena engagement-nya dibayar. Begitu juga kira-kira kritik yang dilayangkan ke mantan Wali Kota Solo itu. Pengaruh Jokowi dinilai bukan tumbuh alami dari akar pemikiran atau ideologi yang kuat, melainkan bergantung pada stamina finansial dan jaringan relawan yang — sebut saja — masih setia karena "terfasilitasi". Dalam dunia politik yang makin transaksional, kekuatan tanpa jabatan itu mahal. Untuk tetap tampil sebagai king maker di Pilkada atau menatap Pemilu 2029 demi masa depan Gibran dan Kaesang, butuh bensin, dan bensinnya bukan gagasan, tapi rupiah.
"Politik tanpa ideologi itu kayak cinta tanpa komitmen, cuma modal gombal dan berharap si dia nggak sadar. Kalau yang diandelin cuma logistik, pas kran seret, ya udah, putus. Cuma bakal jadi kenangan," gurau seorang netizen di X, yang entah kenapa viral banget minggu ini.
Antara Warisan Mikrofon dan Warisan Dompet Digital
Jokowi memang pandai membangun persona "pro-rakyat". Tapi saat berbicara soal ideologi, publik mulai mempertanyakan di mana sebenarnya posisi beliau di luar urusan infrastruktur? Ketika nilai-nilai kerakyatan, antikritik, atau isu demokrasi disinggung, apakah cukup kuat jadi benteng? Atau jangan-jangan, legacy Jokowi hanya akan dikenal sebagai era di mana politik berubah total jadi pasar lelang elektoral? Bagi Gen Z dan Milenial yang sudah jenuh dengan politik "abu-abu", ini jadi red flag besar. Ada ketakutan bahwa kontestasi 2029 nanti cuma jadi ajang siapa yang paling kuat "amplopnya", bukan adu gagasan soal lapangan kerja buat Gen Z atau krisis iklim.
Receh tapi Massive: Logika Kecil yang Mengubah Peta
Logika "serangan fajar" atau bantuan sosial memang bukan hal baru di RI, tapi jaman sekarang eksekusinya makin mulus lewat dompet digital dan bansos tepat sasaran. Inilah yang disinyalir jadi otot terbesar kekuatan politik Jokowi: kemampuan mendistribusikan kesejahteraan instan untuk menjaga loyalitas. Ibarat game RPG, beliau udah ngumpulin cukup gold dan item untuk memastikan party-nya nggak gampang afk dari panggung politik. Pertanyaannya, di era di mana anak muda makin kritis, apakah strategi kayak gini masih cheat code yang ampuh?
Jadi gimana menurut lo? Apakah kekuatan politik emang segitunya bergantung sama isi dompet sampai ideologi cuma jadi poster usang? Atau ini cuma label toxic dari lawan politik yang panik liat Pakde masih bisa trending meski tanpa jabatan? Let's spill the tea di kolom komentar!
Comments (0)