Harga Emas Antam Naik Rp5.000 per Gram Hari Ini
Jakarta — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menanjak pada Sabtu (11/7/2026). Mengacu pada data Logam Mulia, harga emas Anta
Jakarta — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menanjak pada Sabtu (11/7/2026). Mengacu pada data Logam Mulia, harga emas Antam naik Rp5.000 ke level Rp2.655.000 per gram. Kenaikan ini sekaligus mengerek harga pembelian kembali (buyback) menjadi Rp2.505.000 per gram, naik Rp5.000 dari posisi kemarin.
Rincian Harga Emas Hari Ini
Kenaikan tipis ini melanjutkan tren penguatan yang sudah berlangsung sepekan terakhir. Berikut data pergerakan harga emas Antam dan buyback dalam lima hari perdagangan terakhir:
| Tanggal | Harga Jual (Rp/gram) | Buyback (Rp/gram) |
|---|---|---|
| 7 Juli 2026 | 2.630.000 | 2.480.000 |
| 8 Juli 2026 | 2.640.000 | 2.490.000 |
| 9 Juli 2026 | 2.642.000 | 2.492.000 |
| 10 Juli 2026 | 2.650.000 | 2.500.000 |
| 11 Juli 2026 | 2.655.000 | 2.505.000 |
Harga tersebut berlaku untuk emas batangan ukuran 1 gram. Untuk ukuran lainnya juga mengalami penyesuaian serupa, dengan selisih kenaikan proporsional.
Tren Global dan Domestik
Penguatan harga emas dalam negeri tidak lepas dari pergerakan harga emas global yang berada di level USD2.580 per troy ounce pada sesi Jumat malam, menguat tipis 0,3% dibanding hari sebelumnya. Analis komoditas dari PT Monex Investindo Futures, Faisyal, menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS setelah data klaim pengangguran yang lebih tinggi dari ekspektasi menjadi katalis utama. "Emas kembali diminati sebagai aset aman di tengah ketidakpastian pemulihan ekonomi global. Selama dolar AS melemah dan ekspektasi suku bunga The Fed turun, emas masih punya ruang untuk naik," ujarnya.
Prospek ke Depan
Dengan tingkat inflasi Indonesia yang masih terjaga di kisaran 3,1% dan nilai tukar rupiah yang relatif stabil di Rp15.650 per dolar AS, harga emas domestik diproyeksikan masih akan bertahan di zona positif. Namun, investor tetap disarankan mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat dan rapat bank sentral yang dapat memicu volatilitas.
Comments (0)