Houthi Nyatakan Perang Baru setelah Bandara Sanaa Diserang
Asap hitam membumbung tinggi dari landasan pacu Bandara Internasional Sanaa, saksi bisu berakhirnya gencatan senjata yang telah bertahan hampir setahun. Ru
Asap hitam membumbung tinggi dari landasan pacu Bandara Internasional Sanaa, saksi bisu berakhirnya gencatan senjata yang telah bertahan hampir setahun. Rudal-rudal koalisi pimpinan Arab Saudi menghantam fasilitas vital itu pada Senin dini hari, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai puluhan lainnya. Gedung terminal utama retak, hanggar kargo terbakar, dan pesawat-pesawat bantuan kemanusiaan yang terparkir hancur berkeping-keping. Bagi Gerakan Houthi yang menguasai ibu kota Yaman, serangan ini bukan sekadar agresi militer—melainkan deklarasi perang terbuka yang menghancurkan seluruh kerangka perdamaian.
Kecaman Membara dan Ultimatum Perang
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, tampil di televisi dengan nada berapi-api. "Apa yang dilakukan musuh Zionis-Amerika dan kaki tangannya di Riyadh adalah kejahatan perang yang tidak akan kami biarkan tanpa balasan," tegasnya.
"Gencatan senjata sudah mati. Mulai malam ini, seluruh wilayah Saudi, termasuk fasilitas minyak dan bandara mereka, menjadi target sah bagi rudal dan drone kami."Pernyataan itu disampaikan kurang dari dua jam setelah rudal Tomahawk menghujani Sanaa. Houthi menuding koalisi Saudi sengaja membom bandara saat pesawat PBB yang membawa obat-obatan dan bahan pangan sedang menurunkan muatan. Klaim ini dibantah Riyadh, yang menyebut serangan itu menyasar gudang senjata tersembunyi di dekat landasan pacu.
Gencatan Senjata yang Sudah Lama Sekarat
Gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2025 sejatinya sudah di ambang kematian sejak awal. Kedua belah pihak saling melanggar, meski tidak pernah seterbuka ini. Data dari Yemen Data Project mencatat setidaknya 127 insiden kekerasan kecil sepanjang tiga bulan terakhir, mulai dari tembakan artileri lintas perbatasan hingga serangan pesawat nirawak (drone). Namun, serangan ke bandara adalah eskalasi dramatis yang belum pernah terjadi sejak 2023. Bandara Sanaa telah menjadi jalur napas bagi 23 juta warga Yaman yang bergantung pada bantuan internasional. Menargetkannya sama artinya dengan memutus akses kemanusiaan secara brutal.
Serangan Presisi atau Pelanggaran Hukum Humaniter?
Ahli hukum internasional dari Universitas Sanaa, Dr. Fatima al-Mansouri, menilai serangan itu sarat kontroversi. "Konvensi Jenewa secara eksplisit melarang serangan terhadap objek sipil yang vital bagi kelangsungan hidup penduduk," ujarnya saat diwawancarai melalui sambungan telepon.
"Bandara yang menjadi satu-satunya pintu masuk bantuan pangan dan medis tidak boleh dijadikan target militer, kecuali terbukti ada pangkalan militer aktif di sana. Ini sangat abu-abu dan bisa menjadi kasus di Mahkamah Pidana Internasional."Koalisi Saudi bersikeras bahwa intelijen mereka mengonfirmasi keberadaan depot drone dan rudal balistik Houthi di kompleks bandara. Klaim ini sulit diverifikasi secara independen, namun yang jelas adalah warga sipil kembali menjadi korban di tengah permainan retorika.
Keseimbangan Kekuatan dan Risiko Eskalasi Regional
Perang saudara Yaman yang dimulai pada 2014 sejatinya adalah perang proxy antara Iran yang mendukung Houthi dan Saudi yang didukung Barat. Kini, dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, pertaruhan semakin tinggi. Houthi memiliki persenjataan yang jauh lebih canggih dibandingkan tahun-tahun sebelumnya:
- Rudal Balistik: Variean Burkan-3 mampu menjangkau Riyadh dan Abu Dhabi.
- Drone Serang: Samad-3 dan Shahed-136 telah terbukti menembus pertahanan udara Saudi.
- Dukungan Intelijen: Iran menyediakan pelatihan, komponen rudal, dan citra satelit.
- Pertahanan Udara Portable: MANPADS hasil rampasan dari pasukan koalisi.
Sementara itu, koalisi Saudi masih mengandalkan jet tempur F-15 dan sistem Patriot. Kondisi ini menciptakan deterrence asimetris yang berbahaya; Houthi tak mampu menginvasi Saudi, tetapi mampu menimbulkan kerusakan ekonomi dan psikologis lewat serangan presisi ke infrastruktur minyak.
Reaksi Internasional: Suara Peringatan yang Tersekat
PBB melalui utusan khusus Hans Grundberg menyatakan "keprihatinan mendalam" dan menyerukan semua pihak menahan diri. Namun, resolusi Dewan Keamanan diperkirakan akan kembali mentok karena veto Rusia atau China, sekutu implisit Iran. Amerika Serikat, yang tahun lalu melanjutkan penjualan senjata ofensif ke Riyadh, hanya merilis pernyataan normatif agar kedua pihak kembali ke meja perundingan. LSM kemanusiaan seperti Médecins Sans Frontières dan Oxfam mengeluarkan peringatan keras: jika bandara benar-benar tidak beroperasi lama, wabah kolera dan malnutrisi akut akan kembali meroket di Yaman, negara yang sudah dianggap sebagai krisis kemanusiaan terburuk dunia.
Peta Kehancuran dalam Angka
Untuk memahami besarnya dampak serangan ini, berikut perbandingan situasi sebelum dan sesudah insiden:
| Aspek | Sebelum Serangan (Jan–Mei 2026) | Pasca Serangan (Juni 2026) |
|---|---|---|
| Penerbangan kemanusiaan/minggu | 8–10 penerbangan | 0 (ditangguhkan tanpa batas waktu) |
| Distribusi pangan (ton/minggu) | 15.000 ton | Hanya lewat pelabuhan Hodeidah, turun 60% |
| Stok obat esensial | Cukup untuk 3 bulan | Menipis drastis, diproyeksikan habis dalam 5 minggu |
| Ketenagalistrikan Sanaa | 12 jam/hari | 4 jam/hari (pembangkit ditarget) |
Masa Depan: Perang Tanpa Akhir?
Jika gencatan senjata benar-benar berakhir, Yaman akan kembali ke fase kekerasan terbuka yang mungkin lebih brutal. Houthi telah membuktikan ketangguhan mereka dalam perang enam tahun sebelumnya, sementara Saudi tampak lelah dengan konflik yang menguras anggaran dan citra internasional. Analis politik dari Chatham House, Michael Stephens, memperkirakan,
"Serangan ini adalah tindakan putus asa koalisi yang frustasi karena kehilangan kendali narasi. Tapi yang akan terjadi adalah bumerang: Houthi akan makin kuat secara politik di dalam negeri, dan Iran akan dapat panggung baru untuk menekan Teluk."Warga Yaman sendiri hanya bisa pasrah. "Kami sudah lupa rasanya damai," ujar Amina, seorang ibu empat anak di distrik Bani al-Harith. "Setiap kali ada harapan, bom datang menghancurkannya." Pertanyaan yang tersisa: akankah dunia kembali menonton dalam diam sementara jutaan rakyat tak bersalah terjerembap ke dalam kelaparan dan kematian?
Comments (0)