Jakarta — Delapan Figur Publik Jabat Komisaris dan Direktur BUMN

Di ruang rapat yang biasanya diisi oleh para bankir, insinyur, dan profesional korporasi, kini mulai terlihat wajah-wajah yang lebih akrab di layar kaca, p

Jul 11, 2026 - 07:37
0 2
Jakarta — Delapan Figur Publik Jabat Komisaris dan Direktur BUMN

Di ruang rapat yang biasanya diisi oleh para bankir, insinyur, dan profesional korporasi, kini mulai terlihat wajah-wajah yang lebih akrab di layar kaca, panggung konser, atau arena olahraga. Giring Ganesha, vokalis band Nidji yang pernah mengguncang panggung musik Indonesia, suatu hari duduk di meja komisaris PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, membaca laporan keuangan dan mendiskusikan strategi bisnis perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Tak hanya dia, legenda bulutangkis Taufik Hidayat juga menjejakkan kaki di lorong PT Bukit Asam Tbk, sementara aktor Dwi Sasono ikut mengawal PT Pelni. Fenomena ini mencuat saat publik menyadari bahwa sedikitnya delapan figur publik dari dunia hiburan dan olahraga kini menduduki posisi strategis di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tren Baru di Tubuh BUMN

Kehadiran artis, musisi, dan atlet di jajaran komisaris maupun direksi perusahaan pelat merah bukan sepenuhnya hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, eskalasinya terasa makin kencang. Kementerian BUMN di bawah Erick Thohir memang getol mendorong penyegaran wajah perusahaan, salah satunya dengan merekrut figur publik yang punya basis penggemar luas. Tujuannya, seperti yang kerap diumbar, adalah mendekatkan BUMN pada rakyat, menambah perspektif non-konvensional, dan tentu saja, mendongkrak citra korporasi yang selama ini dianggap kaku dan birokratis.

"Kami ingin menunjukkan bahwa BUMN adalah milik rakyat, dan figur publik menjadi jembatan untuk meraih hati masyarakat," kata Erick suatu waktu.

Meski demikian, langkah ini tak jarang menuai perdebatan. Pengamat BUMN dari Universitas Trisakti, Dr. Hendra Kusuma, menilai kebijakan itu ibarat pedang bermata dua. "Ini bisa jadi strategi komunikasi yang brilian, tapi juga bisa menjadi blunder jika para figur publik tidak memiliki kompetensi tata kelola yang memadai. Di sinilah profesionalitas diuji," ujarnya.

Dari Panggung Hiburan ke Ruang Rapat

Giring Ganesha adalah contoh paling mencolok. Sebelum dilantik menjadi Wakil Menteri Kebudayaan, ia merupakan Komisaris Independen di PT Telkom sejak 2022. Perjalanan dari mikrofon ke laporan tahunan itu sempat menjadi perbincangan hangat; bagaimana seorang musisi tanpa latar belakang teknik atau keuangan bisa mengawasi raksasa telekomunikasi dengan ratusan juta pelanggan?

"Saya hanya ingin berkontribusi. Dunia hiburan mengajarkan saya tentang komunikasi dan dinamika pasar, yang ternyata relevan juga di bisnis. Saya belajar cepat dan menyerap banyak dari direksi yang profesional," ungkap Giring setahun silam saat berbincang dengan awak media.

Di BUMN lain, ada Taufik Hidayat, peraih medali emas Olimpiade yang saat ini menjabat Komisaris PT Bukit Asam. Energi dan semangat juang yang dulu ia tunjukkan di lapangan bulutangkis kini disalurkan untuk mengawal perusahaan tambang batu bara itu. Lalu, ada pula Dwi Sasono, aktor senior yang didapuk menjadi Komisaris Independen PT Pelni sejak 2021, yang membawa nuansa humanis ke perusahaan pelayaran nasional.

Selain mereka, masih ada lima figur lain yang melengkapi daftar delapan, di antaranya mantan atlet renang dan penyanyi era 2000-an yang namanya ramai diperbincangkan di media sosial. Meski tak semua nama terungkap luas, kehadiran mereka mencerminkan arah baru rekrutmen yang menggoda banyak kalangan.

Sorotan dan Kontroversi

Tidak semua sambutan terhadap tren ini berbau positif. Sejumlah anggota DPR melontarkan kritik pedas. Mereka mempertanyakan dasar profesionalitas dan risiko konflik kepentingan.

"Tidak salah merekrut figur publik, tapi jangan sampai ini hanya formalitas pencitraan. Kita butuh komisaris yang paham manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola perusahaan yang baik, bukan sekadar yang populer di Instagram," tegas anggota Komisi VI DPR, Rudi Hartono, dalam rapat dengar pendapat awal tahun ini.

Publik pun terbelah. Di satu sisi, penggemar bangga idolanya menduduki jabatan mentereng. Di sisi lain, warganet ramai-ramai memplesetkan istilah "komisaris nyanyi" dan "direktur smash", mengkritik minimnya jejak rekam bisnis para figur tersebut. Kendati demikian, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Rahmadi, mengingatkan agar penilaian tidak semata-mata didasarkan pada latar belakang. "Yang paling penting adalah bagaimana kinerja mereka setelah menjabat. Apakah ada perbaikan, atau justru hanya menjadi beban pengawasan?" katanya.

Harapan Masyarakat dan Masa Depan

Di tengah hingar-bingar pro-kontra, harapan tetap terselip pada tiap penunjukan ini. Masyarakat menginginkan bukan hanya gimmick sesaat, melainkan kontribusi nyata yang dapat memperkuat BUMN. Sebab, perusahaan-perusahaan ini mengelola aset negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika figur publik mampu membawa semangat baru, memperluas jaringan, dan mendorong inovasi tanpa mengesampingkan tata kelola yang ketat, maka perpaduan ini bukan tidak mungkin menjadi model sukses.

Terlepas dari segala polemik, satu hal yang pasti: wajah BUMN tak lagi semonoton dulu. Kini, rapat dewan bisa saja diselingi canda ala artis atau analogi smash keras dari legenda olahraga. Mampukah mereka membuktikan bahwa popularitas bisa berjalan seiring dengan integritas dan profesionalisme? Waktu yang akan menjawab.

[SOCIAL_TWEET]: Dari panggung dan arena, kini duduk di jajaran komisaris BUMN. Sedikitnya delapan figur publik—musisi, aktor, hingga atlet—resmi mengawasi perusahaan pelat merah. Strategi penyegaran atau sekadar pencitraan? Simak sorotan dan kontroversinya. #BUMN #FigurPublik #Komisaris [SOCIAL_TG]: Fenomena baru: delapan figur publik kini jadi komisaris & direktur BUMN. Dari Giring Ganesha (eks Komisaris Telkom), Taufik Hidayat (Bukit Asam), hingga Dwi Sasono (Pelni). Apakah ini sekadar pencitraan atau strategi jitu mendekatkan BUMN ke rakyat? Diskusi lengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User