Jakarta — Gaspol! Kemenkeu Pensiunkan Brevet dan Ijazah untuk Kuasa Pajak
Gaspol, bestie! Udah pada denger belum? Kementerian Keuangan baru aja nge-drop aturan anyar yang bikin gelombang tsunami di dunia perpajakan Tanah Air. Le
Gaspol, bestie! Udah pada denger belum? Kementerian Keuangan baru aja nge-drop aturan anyar yang bikin gelombang tsunami di dunia perpajakan Tanah Air. Lewat PMK Nomor 44/2026, Menteri Keuangan resmi ngerombak total syarat kompetensi buat lo yang pengen jadi kuasa wajib pajak (WP). Yup, selama ini brevet dan ijazah jadi “tiket emas” biar bisa mewakili WP di depan fiskus. Tapi sekarang, aturan itu bakal segera pensiun kayak tren TikTok dance yang cuma viral seminggu. Siapa nih yang masih nyantai pake brevet lama? Merapat, karena ini bukan drill, ini beneran #PMK44!
Bye-bye Brevet, Hello Sertifikasi!
Inti dari PMK 44/2026 simpel banget tapi efeknya dahsyat. Ke depan, buat jadi kuasa WP, lo nggak cukup cuma modal ijazah sarjana atau sertifikat brevet pajak A/B/C yang udah legend itu. Pemerintah pengin standar yang lebih kece dan terintegrasi: sertifikasi kompetensi khusus yang diakui langsung oleh otoritas pajak. Istilah kerennya, semua pihak yang mau jadi kuasa harus kantongi Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Direktorat Jenderal Pajak sebagai syarat wajib. So, yang tadinya cuma show off brevet di CV, sekarang musti upgrade ke sertifikasi resmi yang lebih accountable.
Pak Purbaya (Dirjen Pajak) menegaskan langkah ini bukan buat ribet-ribetin, tapi justru buat profesionalisme.
“Ini bukan sekadar ganti syarat, ini reformasi perpajakan yang bikin ekosistem kuasa WP makin kredibel dan trusted,”kira-kira begitu vibe-nya dari rilis yang beredar di portal Ortax dan DDTCNews. Jadi, buat para konsultan pajak, waktunya upskilling kayak lagi ngejar badge di LinkedIn Learning!
Masa Transisi: Masih Ada Nafas Sampai 2026
Nah, buat yang deg-degan, tenang dulu. Ada grace period yang lumayan adil. Pemegang brevet lama atau yang cuma bermodal ijazah masih bisa menjalankan tugas sebagai kuasa pajak hingga 31 Desember 2026. Jadi, masih ada waktu sekitar satu setengah tahun buat adaptasi. Selama masa transisi ini, lo bisa pake brevet/ijarah dulu sambil sibuk nyiapin SKT. Pokoknya, sebelum ganti tahun 2027, SKT udah harus di tangan, kalau nggak ya bye-bye peluang jadi kuasa WP.
Poin-Poin Penting PMK 44/2026 yang Wajib Lo Catat
- Kuasa WP Kini Terstandar: Pihak lain (selain konsultan pajak resmi) wajib terdaftar di DJP dan mengantongi SKT.
- Brevet & Ijazah Tak Berlaku Permanen: Hanya sah hingga akhir 2026 sebagai syarat jadi kuasa. Setelah itu, harus ada SKT.
- Konsultan Pajak Tetap Bisa Bernafas Lega: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia menyebut kebijakan ini justru memperkuat peran konsultan pajak yang sudah bersertifikasi resmi.
- Purbaya Rombak Syarat: Dirjen Pajak sebagai inisiator menegaskan aturan ini berlaku untuk semua wajib pajak yang menggunakan kuasa, baik orang pribadi maupun badan.
Netizen Panik, Tapi Ada Juga yang Glow Up
Di platform X dan forum konsultan, topik ini langsung trending. Ada yang panik karena SKT-nya belum ready, ada yang malah seneng karena akhirnya ada penegasan legal buat mereka yang udah serius berkarir di perpajakan. Salah satu netizen nyeletuk,
“Jadi selama ini gue cuma modal brevet doang? Fase abu-abu over.”Yang lain udah sibuk cari info cara daftar SKT online. Kita sih cuma bisa bilang: jangan sampe jadi kuasa pajak musiman, jadi yang pro aja!
Jadi, gimana menurut lo? Apakah kebijakan ini bikin makin profesional atau malah menambah birokrasi? Share pendapat lo di kolom komentar! Dan ikutan polling kecil-kecilan: Tim Langsung Urus SKT atau Tim Tunggu Deadline? 😉
Comments (0)