warkini.
Viral

JAKARTA — Mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri Rahasiakan Jualan Beras di Glodok

Kalau kita bicara mengenai kehidupan mantan pejabat tinggi negara pada era modern saat ini, bayangan publik biasanya tidak jauh dari masa pensiun yang mewa

JAKARTA — Mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri Rahasiakan Jualan Beras di Glodok

Kalau kita bicara mengenai kehidupan mantan pejabat tinggi negara pada era modern saat ini, bayangan publik biasanya tidak jauh dari masa pensiun yang mewah, menjadi komisaris papan atas di perusahaan besar, atau menikmati berbagai fasilitas purnatugas. Namun, kisah teladan dari almarhum KH Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, justru memutarbalikkan anggapan umum tersebut. Sosok yang pernah menduduki posisi menteri pada era Presiden Sukarno ini pernah membuat gempar publik dan keluarganya sendiri karena memilih jalan hidup yang amat bersahaja: berjualan beras secara diam-diam di Pasar Glodok, Jakarta Barat.

Keputusan langka ini bukan sekadar pilihan gaya hidup sederhana, melainkan cermin keteguhan moral serta integritas tinggi dari seorang tokoh bangsa. Selepas tidak lagi mengemban amanat sebagai menteri, alih-alih memanfaatkan pengaruh politiknya untuk memperkaya diri atau meminta jatah proyek, beliau justru memilih mengayuh sepeda dan berbaur langsung dengan para pedagang pasar demi mengais rezeki yang halal.

Jejak Perjalanan Karier dan Pengabdian Saifuddin Zuhri

Untuk memahami latar belakang tindakan luar biasa ini, kita perlu menengok kembali rekam jejak perjalanan hidup KH Saifuddin Zuhri yang penuh dengan dedikasi serta nilai keislaman yang mendalam.

  1. Periode 1962–1967: KH Saifuddin Zuhri dipercaya oleh Presiden Sukarno untuk mengemban amanat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Selama masa jabatannya, beliau dikenal sebagai ulama sekaligus birokrat yang sangat ketat menjaga kebersihan administrasi dan integritas syariat.
  2. Tahun 1967: Beliau resmi melepaskan jabatannya seiring dengan transisi politik nasional. Sejak momen purnatugas itu, seluruh fasilitas negara langsung dikembalikan tanpa ada yang tersisa.
  3. Masa Pasca-Pensiun: Mengingat tunjangan pensiun pejabat pada masa itu sangat terbatas, beliau mencari cara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga tanpa harus mengemis jabatan baru atau menggadaikan harga diri.

Kronologi Terbongkarnya Bisnis Beras Rahasia di Pasar Glodok

Kehidupan sehari-hari KH Saifuddin Zuhri setelah purnatugas sebenarnya berjalan tenang. Namun, ada satu rutinitas harian yang membuat anggota keluarganya menaruh rasa curiga. Setiap pagi, beliau pamit meninggalkan rumah dengan mengenakan pakaian yang sangat sederhana tanpa menjelaskan secara detail ke mana tujuan utamanya.

  • Pamit Saban Pagi: Beliau rutin bertolak dari kediamannya menuju kawasan Pasar Glodok, pusat perdagangan sembako yang padat dan riuh di Jakarta Barat.
  • Menyewa Lapak Kecil: Tanpa ada seorang pun pedagang lain yang mengenali statusnya sebagai mantan menteri negara, beliau menyewa lapak kecil dan bertransaksi langsung dengan para pembeli beras.
  • Keluarga Mulai Curiga: Pihak keluarga heran melihat ketekunan beliau yang selalu "menghilang" pada jam-jam sibuk perdagangan pasar setiap hari.

Rasa penasaran pihak keluarga akhirnya terjawab ketika salah satu kerabat secara tidak sengaja menemukan keberadaan sang mantan menteri. Beliau terlihat sedang sibuk menimbang beras eceran di tengah kepulan debu dan hiruk-pikuk Pasar Glodok. Sontak, pihak keluarga kaget bukan main. Bagaimana mungkin seorang mantan pejabat tinggi negara yang disegani memilih menjadi pedagang beras eceran di pasar tradisional tanpa memberi tahu siapa pun?

"Rezeki yang paling nikmat adalah rezeki hasil keringat sendiri yang jauh dari syubhat, apalagi haram. Jabatan itu hanya sementara, tetapi kehormatan dan kejujuran adalah untuk selamanya."

Pelajaran Integritas dan Kesederhanaan untuk Masa Kini

Rasa kaget dan haru bercampur menjadi satu di dalam benak keluarga saat menyaksikan pemandangan tersebut. Ketika ditanya mengenai alasannya, KH Saifuddin Zuhri dengan tenang menjawab bahwa berdagang beras adalah ikhtiar yang halal dan tidak membebani siapa pun. Beliau sangat enggan memanfaatkan sisa-sisa pengaruh jabatannya demi mendapat perlakuan istimewa.

Keteladanan KH Saifuddin Zuhri ini terus mengenang dan menjadi warisan berharga. Bahkan kelak, putra beliau, Lukman Hakim Saifuddin, juga mengikuti jejak sang ayah menjadi Menteri Agama RI dengan terus memegang teguh prinsip kejujuran tersebut. Di tengah banyaknya fenomena pejabat era modern yang tersandung kasus korupsi atau berburu posisi pascapensiun, kisah jualan beras di Glodok ini menjadi refleksi mendalam mengenai arti integritas yang sejati.

Kejujuran dan kerendahan hati Saifuddin Zuhri membuktikan bahwa kemuliaan seorang tokoh tidak diukur dari megahnya kediaman atau tingginya jabatan pascadinas, melainkan dari keberaniannya untuk tetap hidup mandiri, jujur, dan bersahaja di tengah dinamika zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sasha-gunawan

Reporter Fashion & Beauty. Meliput tren mode, kecantikan, dan industri kreatif.

Comments (0)

User