Jerman Kritik Permukiman Israel, Yahudi Inggris Cemas Calon PM Tolak Serangan Gaza
Ketegangan di Timur Tengah kembali memantik reaksi diplomatik yang tajam dari Eropa. Pemerintah Jerman melontarkan kecaman pedas terhadap Israel yang terus
Ketegangan di Timur Tengah kembali memantik reaksi diplomatik yang tajam dari Eropa. Pemerintah Jerman melontarkan kecaman pedas terhadap Israel yang terus melanjutkan pencaplokan lahan Tepi Barat melalui pembangunan permukiman ilegal. Sementara itu, di Inggris, komunitas Yahudi diliputi kecemasan menghadapi potensi kepemimpinan Andy Burnham—calon perdana menteri yang secara terbuka menolak aksi militer Israel di Jalur Gaza. Dua episode ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam peta dukungan global terhadap pendudukan Israel dan dampaknya bagi diaspora Yahudi di Eropa.
Jerman Melontarkan Kecaman Keras
Kementerian Luar Negeri Jerman mengeluarkan pernyataan tegas pada Rabu (20/8) yang menyebut perluasan permukiman Israel di Tepi Barat sebagai "pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional." Sikap Berlin ini bukan kali pertama, namun muncul di tengah eskalasi pembangunan unit rumah baru di pemukiman seperti Ma’ale Adumim dan Givat Hamatos, yang dianggap strategis bagi konektivitas wilayah Palestina.
"Setiap unit rumah baru yang dibangun di wilayah pendudukan adalah paku di peti mati solusi dua negara. Israel harus segera menghentikan praktik aneksasi de facto ini," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman, Sebastian Fischer, dalam konferensi pers virtual.
Laporan dari Peace Now, lembaga pemantau Israel, mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 lebih dari 12.000 unit permukiman baru disetujui di Tepi Barat—angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. Pemerintah Jerman menegaskan bahwa kebijakan tersebut bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334, yang menegaskan ilegalitas semua permukiman di wilayah pendudukan. Jerman juga menyayangkan sikap Israel yang mengabaikan peta jalan perdamaian yang telah disepakati.
Kritik dari Berlin ini menjadi tamparan diplomatik di tengah upaya Israel memperkuat hubungan dengan Eropa. Sejumlah analis menilai bahwa tekanan Eropa akan semakin intensif seiring makin terbukanya fakta di lapangan dan putusan Mahkamah Internasional (ICJ) pada 2024 yang menegaskan bahwa pendudukan Israel atas Palestina adalah ilegal.
Kecemasan Komunitas Yahudi Inggris
Di seberang Selat, suasana di Inggris diwarnai kegelisahan. Andy Burnham, Wali Kota Manchester yang digadang-gadang sebagai calon kuat perdana menteri dari Partai Buruh, menyatakan secara eksplisit bahwa ia "menolak memberikan mandat bagi serangan udara Israel ke Gaza." Pernyataan itu disampaikan dalam debat kandidat pada Juni 2026, dan seketika memicu reaksi keras dari kelompok-kelompok Yahudi di Inggris.
"Kami sangat khawatir jika Burnham menjadi PM. Sikapnya mengirim sinyal berbahaya bahwa Inggris mungkin tidak lagi mendukung hak Israel untuk membela diri dari teror roket Hamas," kata Jonathan Levy, juru bicara Jewish Leadership Council di London, saat dihubungi melalui telepon.
Board of Deputies of British Jews bahkan telah mengirim surat terbuka kepada seluruh kandidat PM, mendesak agar tidak mengorbankan hubungan keamanan Inggris-Israel. Kekhawatiran ini diperburuk oleh sejarah panjang Partai Buruh yang diwarnai kasus antisemitisme internal, meskipun Burnham secara pribadi tidak dikaitkan dengan skandal tersebut. Namun, persepsi publik bahwa partainya semakin kritis terhadap Israel membuat banyak anggota komunitas merasa tidak aman.
Data dari Community Security Trust (CST) menunjukkan bahwa insiden antisemitisme di Inggris meningkat 37% pada kuartal pertama 2026, bersamaan dengan meningkatnya debat publik tentang operasi militer di Gaza. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan hubungan Inggris-Israel di bawah pemerintahan baru.
Tekanan Internasional yang Semakin Menyempitkan Ruang Gerak Israel
Kedua episode ini menempatkan Israel pada posisi yang semakin terhimpit secara internasional. Jerman, yang secara historis memiliki hubungan khusus dengan Israel pasca-Holocaust, kini menggunakan bahasa yang lebih tajam. Sementara itu, di Inggris, potensi perubahan haluan partai penguasa mengancam salah satu sekutu terkuat Israel di Eropa. Pengamat hubungan internasional melihat tren ini sebagai bagian dari pergeseran paradigma di mana dukungan tanpa syarat mulai digantikan oleh pendekatan berbasis hukum dan hak asasi manusia.
Berikut adalah sejumlah poin kunci yang mewarnai dinamika ini:
- Persetujuan 12.000 unit permukiman baru di Tepi Barat sepanjang 2025 memicu reaksi keras Jerman sebagai pelanggaran Resolusi DK PBB 2334.
- Andy Burnham, calon PM Inggris, menolak memberikan dukungan bagi operasi militer Israel di Gaza, memicu kekhawatiran komunitas Yahudi.
- Hubungan khusus Jerman-Israel mulai diuji oleh kebijakan aneksasi yang terus berlanjut.
- Meningkatnya antisemitisme di Inggris menjadi isu yang membayangi masa depan diplomasi Timur Tengah di bawah pemerintahan baru.
Dengan semakin rumitnya konstelasi politik di Eropa, Israel harus bersiap menghadapi gelombang tekanan yang tak hanya datang dari suara-suara tradisional, tetapi juga dari sekutu-sekutu dekat yang mulai mempertanyakan legitimasi pendudukannya.
[SOCIAL_TWEET]: Jerman kecam pencaplokan Tepi Barat, Yahudi Inggris cemas calon PM tolak aksi militer Gaza. Dua dinamika ini tunjukkan tekanan global terhadap Israel kian menguat. #Israel #Palestina #Diplomasi[SOCIAL_TG]: 🇩🇪🗣️ Jerman: "Permukiman ilegal langgar hukum internasional!" 🇬🇧😟 Yahudi Inggris: "Burnham tolak serangan Gaza, kami khawatir." Dua wajah tekanan internasional ke Israel.
Comments (0)