Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz, IMO Tunda Evakuasi
Teheran — Ketegangan di perairan strategis Selat Hormuz kembali memanas setelah sebuah kapal kargo berbendera Singapura dilaporkan terkena serangan saat melintasi jalur pelayaran vital tersebut.
Teheran — Ketegangan di perairan strategis Selat Hormuz kembali memanas setelah sebuah kapal kargo berbendera Singapura dilaporkan terkena serangan saat melintasi jalur pelayaran vital tersebut. Insiden ini memicu respons cepat dari komunitas internasional, termasuk dihentikannya sementara operasi pengawalan dan evakuasi yang tengah digelar oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah bendera PBB.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Jumat (26/6/2026), United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menjadi pihak pertama yang menerima laporan darurat dari kapal nahas tersebut. Dalam transmisi yang dikirimkan, awak kapal melaporkan bahwa lambung kanan kapal mereka terkena hantaman proyektil misterius. Posisi kejadian tercatat sekitar 14 kilometer atau 7,5 mil laut di sebelah tenggara pelabuhan Dahit, Oman — sebuah titik kritis yang kerap menjadi lokasi ketegangan maritim.
Sejumlah sumber keamanan maritim yang berbicara kepada media kami secara terpisah mengungkapkan dugaan kuat bahwa proyektil yang menghantam kapal tersebut berasal dari sebuah drone bersenjata. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun pola dan lokasi serangan mengarah pada dugaan keterlibatan kekuatan tertentu di kawasan.
"Kami menerima laporan kapal terkena proyektil di sisi kanan lambung. Tim kami sedang berkoordinasi dengan otoritas regional untuk investigasi lebih lanjut," demikian pernyataan resmi UKMTO yang dikutip media kami.
Insiden ini langsung berdampak pada rencana kemanusiaan IMO. Badan PBB tersebut terpaksa menangguhkan sementara inisiatif pengawalan untuk mengevakuasi kapal-kapal beserta kargo yang sebelumnya sempat tertahan di sekitar Selat Hormuz. Keputusan penundaan ini diambil demi keselamatan seluruh personel dan aset yang terlibat dalam operasi, mengingat situasi keamanan yang memburuk secara tiba-tiba.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran paling krusial di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudera Hindia. Sekitar seperlima dari total pasokan minyak global melewati perairan sempit ini setiap harinya. Setiap gangguan keamanan di selat tersebut selalu memicu kekhawatiran soal stabilitas rantai pasok energi dan logistik global.
Insiden terbaru ini menambah panjang daftar gangguan keamanan di kawasan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejumlah negara yang bergantung pada jalur ini, termasuk importir minyak utama, kini meningkatkan koordinasi diplomatik untuk mencari solusi jangka panjang demi menjamin keselamatan navigasi di Selat Hormuz.
Comments (0)